Generasi Z (Gen Z) adalah generasi yang lahir dan tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital yang sangat pesat. Internet, media sosial, dan perangkat digital menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari Gen Z. Kondisi ini memberikan banyak kemudahan, namun juga menghadirkan tantangan baru yang berdampak pada kesehatan mental. Kesehatan mental merupakan kondisi kesejahteraan psikologis yang memungkinkan individu menyadari potensi dirinya, mampu mengelola stres kehidupan, bekerja secara produktif, dan berkontribusi di lingkungan sosial. Pada Gen Z, kesehatan mental menjadi isu yang semakin penting karena mereka menghadapi tekanan sosial, akademik, dan emosional yang kompleks.
Salah satu tantangan utama kesehatan mental Gen Z adalah pengaruh media sosial. Paparan konten yang menampilkan standar hidup ideal, keberhasilan orang lain, serta tuntutan untuk selalu tampil sempurna dapat memicu kecemasan, stres, dan rendahnya harga diri. Fenomena fear of missing out (FOMO) juga sering dialami Gen Z akibat kebutuhan untuk selalu terhubung secara digital. Selain itu, tekanan akademik dan masa depan menjadi sumber stres yang signifikan. Persaingan pendidikan dan dunia kerja yang ketat menimbulkan kekhawatiran akan kegagalan dan ketidakpastian hidup. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan, depresi, dan kelelahan mental.
Masalah kesehatan mental yang tidak ditangani dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan Gen Z, seperti penurunan prestasi akademik, gangguan hubungan sosial, perilaku berisiko, hingga munculnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup dan produktivitas individu. Keluarga dan lingkungan memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental Gen Z. Pola komunikasi yang terbuka, dukungan emosional, serta lingkungan yang tidak menghakimi dapat membantu Gen Z menghadapi tekanan psikologis secara lebih sehat.
Tenaga kesehatan, termasuk perawat dan pekerja sosial, berperan dalam upaya promotif dan preventif kesehatan mental melalui edukasi, skrining dini, serta pendampingan psikososial. Pendekatan yang empatik dan berbasis kebutuhan remaja dan dewasa muda sangat penting agar Gen Z merasa aman untuk mencari bantuan. Upaya menjaga kesehatan mental Gen Z dapat dilakukan dengan membatasi penggunaan media sosial secara berlebihan, menjaga keseimbangan antara aktivitas digital dan kehidupan nyata, menerapkan pola hidup sehat, serta meningkatkan kemampuan mengelola stres dan emosi. Selain itu, akses terhadap layanan kesehatan mental yang mudah dijangkau dan ramah remaja perlu terus diperkuat.
Kesehatan mental Generasi Z merupakan isu penting di era digital yang membutuhkan perhatian bersama. Dengan meningkatkan kesadaran, mengurangi stigma, serta memperkuat dukungan keluarga, lingkungan, dan layanan kesehatan, Gen Z dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat secara mental, adaptif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Sumber :
American Psychological Association. (2020). Stress in America: A National Mental Health Crisis. Washington, DC: APA.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Situasi Kesehatan Jiwa di Indonesia. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Pedoman Pencegahan dan Penanganan Masalah Kesehatan Jiwa Remaja. Jakarta: Kemenkes RI.
Twenge, J. M. (2017). iGen: Why Today’s Super-Connected Kids Are Growing Up Less Rebellious, More Tolerant, Less Happy—and Completely Unprepared for Adulthood. New York: Atria Books.
World Health Organization. (2022). World Mental Health Report: Transforming Mental Health for All. Geneva: WHO.

