LINDUNGI ANAK DARI KEKERASAN SEKSUAL!

Anak merupakan dasar awal yang menentukan kehidupan suatu bangsa dimasa yang akan datang, sehingga diperlukan persiapan generasi penerus bangsa dengan mempersiapkan anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal baik dalam perkembangan moral, fisik/motorik, kognitif, bahasa, maupun sosial emosional. Anak-anak juga dilindungi oleh Negara dalam mencapai hak-haknya. Dalam UU Nomor 35 Tahun 2014 pasal 1 mengenai Perlindungan Anak yang menyatakan Perlindungan Anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi Anak dan hak-haknyan agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Banyak tindakan kejahatan yang menjadi fenomena akhir-akhir ini, salah satunya yakni kekerasan seksual terhadap anak. Kasus kekerasan seksual terhadap anak semakin tahun semakin meningkat. Walaupun sulit untuk menemukan angka akurat tentang kejadian secara keseluruhan dan prevalensi anak-anak yang mengalami pelecehan seksual, apalagi spesifik informasi tentang penyalahgunaan yang dilakukan. Beberapa sumber memperkirakan bahwa setidaknya 1 dari 4 perempuan dan 1 di 6 anak laki-laki mengalami pelecehan seksual sebelum usia 18 (Finkelhor, Hotaling, Lewis, & Smith, 1990; Heritage, 1998), namun angka-angka ini mungkin dianggap remeh. Holmes dan Slap (1998) mencatat bahwa pelecehan seksual terhadap anak laki-laki muncul menjadi umum, tidak dilaporkan, takut untuk mengaku, dan tidak diobati (Cook, 2005).

Untuk di Indonesia kasus kekerasan seksual terhadap anak juga semakin tahun semakin meningkat. Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam Noviana (2015) pada tahun 2011 saja telah terjadi 2.275 kasus kekerasan terhadap anak, 887 kasus diantaranya merupakan kekerasan seksual anak. Pada tahun 2012 kekerasan terhadap anak telah terjadi 3.871 kasus, 1.028 kasus diantaranya merupakan kekerasan seksual terhadap anak. Tahun 2013, dari 2.637 kekerasan terhadap anak, 48 persennya atau sekitar 1.266 merupakan kekerasan seksual pada anak.

Anak menjadi kelompok sangat rentan terhadap kasus kekerasan seksual karena anak-anak dianggap sosok yang lemah atau tidak berdaya dan dianggap mempunyai tingkat ketergantungan tinggi terhadap orang dewasa. Itu sebabnya kebanyakan anak yang mengalami kekerasan seksual tidak melawan ketika kekerasan seksual terjadi. Bahkan tidak sedikit kasus kekerasan seksual terhadap anak pelakunya justru orang dekat dari korban.

Sejumlah upaya yang dapat dilakukan baik oleh pemerintah, masyarakat, sekolah, maupun orang tua dalam mengatasi dan mencegah timbulnya kekerasan pada anak (Padmiati, 2015)

  • Pemerintah menjamin dapat melindungi pertumbuhan dan perkembangan seluruh anak Indonesia tanpa membedakan status sosial dan ekonomi, dan melindungi keamanan dan keselamatan anak dengan memberikan sanksi dan hukuman bagi pelaku kekerasan terhadap anak. Hukuman berat bagi para pelaku harus secara tegas diberikan, dan hukuman tersebut harus memberikan efek jera pada pelaku.
  • Masyarakat dalam hal ini berfungsi sebagai agen kontrol sosial (Agent of Control Social) bagi anak. Masyarakat harus turut serta menjamin dan menciptakan kondisi lingkungan yang rukun, peduli, serta menjamin anggota masyarakat bebas konflik, dan anti diskriminasi. Dengan kata lain, setiap warga masyarakat harus turut serta menjamin dan mewujudkan kondisi lingkungan bernuansa pendidikan positif yang sehat dan ramah pada anak.
  • Sekolah sebagai institusi pendidikan formal, tidak hanya menjadi tempat transfer/belajar pendidikan formal dan tempat pembentukan karakter siswa, tetapi juga harus aman bagi anak didiknya. Kepala sekolah dan guru menjadi orang terdekat anak-anak di sekolah. Mereka pemangku yang harus mengambil alih tanggung jawab keamanan anak. Oleh karena itu, tugas guru di sekolah tidak hanya menjadikan seorang anak pandai, tetapi juga menjamin anak didiknya bermental kuat dan bermoral tinggi. Seorang guru bisa menanamkan pemahaman, segala kebaikan dan keburukan harus dilihat dari kaca mata ilmu.
  • Orang tua atau keluarga adalah pusat dari segala upaya ini. Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat mempunyai peran yang sangat penting untuk menekan terjadinya kekerasan terhadap anak. Orang tua harus memahami dan menyadari akan tanggungjawabnya terhadap anak-anak. Anak-anak sangat butuh perlakuan yang benar dan bijaksana. Hati seorang anak perlu untuk dibesarkan, dijaga, dan ditumbuhkan. Dengan demikian, orang tua sebagai pendidik dan teladan dalam keluarga, dan juga menjadi benteng perlindungan bagi anak, harus dapat menjamin terciptanya iklim atau suasana dalam keluarga yang penuh dengan kasih sayang, perhatian, pengayoman, dan kedamaian, serta menghindarkan adanya hukuman fisik. Kelima, media massa, baik elektronik maupun cetak mempunyai peran penting dalam penyebaran informasi di masyarakat. Namun, ada kalanya media kurang peka ketika memberitakan masalah yang berhubungan dengan kekerasan terhadap anak.

 

Referensi

Cook, L.J (2005). The Ultimate Deception Childhood Sexual Abuse in the Church. Journal of Psychosocial Nursing and Mental Health Services

Noviana, I (2015). Kekerasan Seksual Terhadap Anak: Dampak dan Penanganannya Child Sexual Abuse: Impact and Hendling. Sosio Informa, 1(1), 13-28

Padmiati, E (2015). Melindungi Anak dari Kekerasan. Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial. 39(1). 31-42

 

 

 

Penulis: 
Yabani Azmi, S.Kep., Ns
Sumber: 
Perawat Rumah Sakit Jiwa Daerah

Artikel

13/01/2022 | Roesmala Dewi,AMK
29/12/2021 | Novariani, S.Si, Apt
29/12/2021 | Novariani, S.Si, Apt
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
10/10/2018 | Emanuel Triwisnu Budi, AMK
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep

ArtikelPer Kategori