Pada masa ini, digitalisasi menjadi kekuatan utama dalam aspek kehidupan. Digitalisasi yang dulu di anggap sebagai pilihan, kini berubah menjadi kebutuhan mutlak dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Karena dengan adanya digitalisasi mempermudah seseorang dalam mengakses informasi serta membuat aktivitas harian menjadi lebih praktis. Tapi tahu kah kamu digitalisasi ini mempengaruhi kesehatan mental seseorang? Bahkan kesehatan mental menjadi salah satu yang harus diperhatikan di era digitalisasi saat ini. Ada beberapa tantangan mental yang harus dihadapi di era digital, yaitu: 1.Kecanduan Media Sosial Seseorang akan di anggap kecanduan media sosial jika menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk scrolling media sosial serta kesulitan untuk menghentikannya, mengabaikan dunia nyata serta merasa cemas, putus asa, marah, jika tidak terhubung dengan media sosial,  2.Paparan Informasi Berlebihan (Information Overload) Paparan informasi yang berlebihan akan menyebabkan penurunan kemampuan seseorang dalam menganalisis sesuatu secara mendalam serta akan membuat kognitif seseorang menjadi terganggu. Selain itu informasi berlebihan yang diterima seseorang juga bisa menyebabkan gangguan tidur, kesulitan konsentrasi dan fokus, kesulitan dalam mengambil keputusan dikarenakan terlalu banyak informasi yang diterima. 3.FOMO (Fear of Missing Out) Kondisi ketika seseorang merasa takut tertinggal dari tren, berita, atau aktivitas orang lain menimbulkan tekanan psikologis tersendiri. Akibatnya, banyak orang merasa cemas jika tidak selalu terhubung dengan internet atau media sosial. 4.Cyberbullying dan Kekerasan Digital Terjadinya perundungan di dunia maya yang dapat berdampak serius pada kesehatan mental, terutama pada remaja. Korban sering mengalami depresi, kecemasan, bahkan dalam kasus ekstrem bisa memicu tindakan menyakiti diri. 5.Gangguan Pola Tidur Paparan cahaya biru dari gawai di malam hari mengganggu produksi melatonin, hormon yang mengatur tidur. Tidur yang tidak berkualitas meningkatkan risiko stres, mudah marah, dan gangguan suasana hati. 6.Isolasi Sosial Terselubung Meski “terhubung” secara online, banyak orang justru merasa kesepian di dunia nyata. Hubungan tatap muka berkurang, digantikan interaksi digital yang sering kali dangkal. Jika dirimu mulai merasa mengalami gejala-gejala seperti yang diatas, langkah terbaik yang harus dilakukan yaitu, detoksifikasi digital (digital detox).  Digital detox atau detoksifikasi digital  adalah periode di mana seseorang secara sadar membatasi atau menghentikan sementara penggunaan perangkat teknologi seperti ponsel, komputer, dan media sosial. Tujuan utamanya adalah untuk mengurangi stres, mencegah kecanduan digital, dan membangun kembali keseimbangan hidup dengan dunia nyata.  Menurut Raisa, Suaib, dan Putri dalam jurnal penelitiannya, digital detox therapy teruji  efektif dalam menurunkan tingkat kecanduan media sosial dan meningkatkan kualitas tidur. Program intervensi selama empat minggu yang mengombinasikan edukasi, perubahan perilaku, dan latihan kesadaran diri menghasilkan perbaikan yang bermakna pada penggunaan media sosial, kualitas tidur, serta indikator kesehatan mental berupa depresi, kecemasan, dan stres. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan signifikan skor kecanduan media sosial, peningkatan proporsi mahasiswa dengan kualitas tidur yang baik setelah intervensi, serta perbaikan kondisi kesehatan mental yang bertahan hingga masa tindak lanjut empat minggu.     Adapun langkah-langkah dalam melakukan detoksifikasi digital, yaitu: 1.Evaluasi Ulang dan Lakukan Secara Bertahap Berhenti dari semua perangkat digital secara tiba-tiba sering kali memicu kecemasan dan stres. Kurangi durasi secara perlahan: Mulailah dengan mematikan ponsel selama 30 menit atau 1 jam per hari, lalu tingkatkan durasinya. Tentukan zona bebas gawai: Buat aturan tegas untuk tidak menggunakan ponsel di area tertentu, seperti di meja makan atau di dalam kamar tidur. 2.Atur Ulang Perangkat Anda Jadikan ponsel kurang menarik dan lebih sulit diakses dengan memanfaatkan fitur bawaan. Matikan notifikasi: Nonaktifkan semua pemberitahuan aplikasi yang tidak penting, terutama media sosial. Batasi akses aplikasi: Gunakan fitur pembatas waktu layar (seperti Digital Wellbeing di Android atau Screen Time di iOS) untuk memblokir aplikasi setelah durasi tertentu tercapai. 3.Cari Aktivitas Pengganti yang Nyata Rasa bosan adalah musuh utama dalam detoks digital. Ganti waktu layar dengan aktivitas yang mengalihkan perhatian Anda sepenuhnya.  Ganti dengan hobi fisik: Luangkan waktu untuk membaca buku fisik, berolahraga, melukis, atau berjalan-jalan di alam. Jadwalkan interaksi sosial: Atur waktu untuk berkumpul langsung dengan teman atau keluarga tanpa memegang ponsel. 4.Jadikan Ini Kebiasaan Jangka Panjang Ingat bahwa detoks digital bukanlah tujuan akhir yang singkat, melainkan proses membentuk kebiasaan seumur hidup. Cobalah mengadopsi praktik digital yang lebih sehat (digital boundaries) alih-alih sekadar menghindari teknologi. Detoksifikasi bisa gagal jika dilakukan dengan ekspektasi yang terlalu tinggi atau rencana yang dilakukan terlalu drastis. Dektoksifikasi dilakukan dengan membangun kebiasaan sehat secara perlahan dan bertahap, serta tanamkan kuat dalam pikiran prinsip dasar di era digital, kita manusia yang mengendalikan teknologi bukan kita yang dikendalikan oleh teknologi.    Sumber: Arya. (2025). Digital Detox: Cara Efektif Mengurangi Stres & Kembali Fokus di Era Gadget. Planetgadget. https://www.planetgadget.store/blog/digital-detox-cara-efektif-mengurang... Detoks Sosmed, Ini Manfaat dan Tips Melakukannya. (2024). Alodokter. https://www.alodokter.com/detoks-sosmed-ini-manfaat-dan-tips-melakukannya  Apa Itu Digital Detox. (2020). Jurusan Psikologi Binus. https://psychology.binus.ac.id/2020/04/06/apa-itu-digital-detox/ Tantangan Kesehatan Mental di Era Digital Modern. (2025). Rumah Sakit “JIH”. https://rs-jih.co.id/rsjih/article-detail/tantangan-kesehatan-mental-di-...         SIN