Penggunaan gadget oleh anak-anak sepertinya sudah menjadi hal lumrah di masyarakat sekarang ini. Pengasuhan yang dirasa lebih meringankan orang tua, tetapi justru dapat berdampak negative pada tumbuh kembang anak-anak. Salah satu yang paling sering terjadi adalah kesulitan dalam berkomunikasi setelah penggunaan gadget yang berlebihan.  Namun, apakah kesulitan dalam komunikasi adalah dampak dari gadget saja? Atau ada masalah lain yang lebih kompleks yang tidak dipahami orang tua? Pada kenyataannya kesulitan dalam berkomunikasi adalah salah satu indikasi yang mungkin saja terjadi pada anak-anak dengan gangguan autisme. Autisme sendiri adalah gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam berkomunikasi, berinteraksi sosial, dan berperilaku. Kondisi ini menyebabkan penderitanya sulit berkomunikasi, berhubungan sosial, dan belajar. Autisme disebut juga sebagai gangguan spektrum autisme atau autism spectrum disorder (ASD). Istilah spektrum sendiri mengacu pada gejala dan tingkat keparahan kondisi yang berbeda-beda pada tiap penderitanya. Klasifikasi Autisme Klasifikasi ini dapat diberikan melalui Childhood Autism Rating Scale (CARS). Skala ini menilai derajat kemampuan anak untuk berinteraksi dengan orang lain, melakukan imitasi, memberi respon emosi, penggunaan tubuh dan objek, adaptasi terhadap perubahan, memberikan respon visual, pendengaran, pengecap, penciumandan  sentuhan.  Selain  itu,  Childhood  Autism  Rating  Scale  juga  menilai  derajat kemampuan anak dalam perilaku takut / gelisah melakukan komunikasi verbal dannon verbal, aktivitas,  konsistensi  respon  intelektual  serta  penampilan  menyeluruh.  Pengklasifikasiannya adalah sebagai berikut : 1.   Autis Ringan Anak-anak dengan autisme ringan memiliki kecerdasan yang baik, namun seolah tidak nampak dalam keseharian mengingat dalam hal komunikasi, sosialisasi dan beberapa yang lain. 2.   Autis Sedang Pada kondisi  ini, anak autis masih menunjukkan sedikit kontak mata, namun tidak memberikan respon ketika namanya dipanggil. Tindakan agresif atau hiperaktif, menyakiti diri sendiri, acuh, dan gangguan motorik yang stereotipik cenderung agak sulit untuk dikendalikan. 3.   Autis Berat Anak autis yang berada pada kategori ini menunjukkan tindakan-tindakan yang sangat tidak terkendali. Biasanya anak autis memukul-mukulkan kepalanya ke tembok secara berulang-ulang dan terus-menerus tanpa henti. Ketika orang tua berusaha mencegah, namun anak tidak memberikan respon dan tetap melakukannya, bahkan dalam kondisi berada dipelukan orang tuanya, anak autis tetap memukul-mukulkan kepalanya. Dari klasifikasi autisme yang sudah disebutkan di atas, kita juga bisa melihat dari beberapa ciri umum yang biasa terjadi pada anak-anak dengan autism. Ciri-Ciri Umum Autisme 1.Kesulitan dalam Berkomunikasi: Anak-anak dengan autisme sering mengalami kesulitan dalam berbicara, memahami bahasa, dan menggunakan isyarat nonverbal. Mereka mungkin tidak merespons ketika namanya dipanggil atau jarang menggunakan gestur untuk berkomunikasi, seperti menunjuk atau melambaikan tangan.  2.Masalah Sosialisasi: Anak autis cenderung lebih asyik dengan dunianya sendiri dan sulit terhubung dengan orang lain. Mereka mungkin tidak menunjukkan minat untuk bermain dengan teman sebaya atau berbagi mainan. 3.Perilaku Berulang: Anak-anak dengan autisme sering menunjukkan perilaku berulang, seperti mengayunkan tangan, memutar objek, atau mengikuti rutinitas tertentu dengan ketat. Mereka mungkin juga menunjukkan ketertarikan yang kuat pada objek tertentu dan kesulitan beradaptasi dengan perubahan. 4.Ekspresi Emosi yang Terbatas: Anak autis mungkin memiliki kesulitan dalam mengenali dan mengekspresikan emosi. Mereka mungkin tidak menunjukkan ekspresi wajah yang sesuai atau merespons dengan cara yang diharapkan dalam situasi sosial. Selain ciri umum, kita juga bisa melakukan deteksi dini agar tahu apa yang harus kita lakukan sebagai langkah penanganan yang baik. Mendeteksi tanda-tanda autisme sejak dini sangat penting untuk intervensi yang efektif. Jika orang tua mencurigai adanya gejala autisme, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter atau profesional kesehatan untuk evaluasi lebih lanjut. Intervensi dini dapat membantu anak mengembangkan keterampilan sosial dan komunikasi yang lebih baik, serta meningkatkan kualitas hidup mereka. Tanda-Tanda Berdasarkan Usia Usia Bayi (0-12 bulan): Tanda-tanda awal autisme dapat terlihat, seperti kurangnya respons terhadap suara, tidak melakukan kontak mata, dan tidak menunjukkan minat pada interaksi sosial. Usia Balita (1-3 tahun): Anak mungkin tidak mengoceh seperti bayi lainnya, tidak meniru tindakan orang dewasa, dan menunjukkan keterlambatan dalam perkembangan bicara. Penyebab Autisme Hingga saat ini, penyebab autisme belum diketahui secara pasti. Namun, para ahli meyakini bahwa autism spectrum disorder (ASD) terjadi akibat kombinasi faktor genetik dan lingkungan yang memengaruhi perkembangan serta fungsi otak sejak masa awal pertumbuhan anak. Kondisi ini dikaitkan dengan perbedaan cara otak memproses informasi, berkomunikasi, berinteraksi sosial, dan mengatur perilaku. Faktor Risiko Autisme  Selain itu, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seorang anak mengalami autisme, yaitu:  Berjenis kelamin laki-laki  Memiliki keluarga dengan riwayat autisme Memiliki kelainan genetik atau kromosom tertentu, seperti sindrom fragile X dan tuberous sclerosis Terlahir secara prematur Terlahir dari kedua orang tua yang berusia lebih dari 40 tahun Terlahir dari ibu yang mengonsumsi minuman beralkohol atau obat-obatan tertentu, misalnya valproate (obat epilepsi tertentu), tanpa pengawasan dokter Diagnosis Autisme  Diagnosis autisme dilakukan untuk menilai menilai adanya gangguan perkembangan yang memengaruhi kemampuan komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku.  Hal yang pertama dilakukan adalah dokter akan melakukan wawancara dengan orang tua mengenai riwayat kesehatan, tumbuh kembang anak, pola komunikasi, dan perilaku anak sehari-hari.  Untuk memastikan diagnosis, dokter dapat melakukan beberapa pemeriksaan lanjutan, yaitu:  Observasi perilaku anak, untuk menilai kemampuan sosial, komunikasi, dan perilaku anak Evaluasi tumbuh kembang, untuk mengetahui apakah terdapat keterlambatan perkembangan tertentu Skrining autisme, untuk membantu mendeteksi tanda-tanda autisme Tes pendengaran, untuk memastikan keluhan anak bukan disebabkan oleh gangguan pendengaran Pemeriksaan neurologis, untuk menilai fungsi otak dan sistem saraf anak, terutama bila anak mengalami kejang, gangguan koordinasi gerak, atau gangguan perkembangan  Pemeriksaan genetik, untuk mengetahui kemungkinan penyebab autisme dan mendeteksi gangguan lain yang mungkin menyertai Pemeriksaan psikologis dan kemampuan belajar, untuk membantu menentukan terapi dan metode pendidikan yang paling sesuai untuk anak Selain itu, dokter juga akan menegakkan diagnosis berdasarkan pedoman medis, seperti DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders). Dalam DSM-5, seseorang dapat didiagnosis mengalami autisme bila mengalami hal berikut ini; Gangguan komunikasi dan interaksi sosial Pola perilaku, aktivitas, atau minat yang terbatas dan berulang Gejala muncul sejak masa awal perkembangan anak Penilaian ini penting untuk menentukan jenis terapi, pendampingan, dan dukungan yang paling sesuai bagi anak. Pengobatan Autisme  Autisme tidak bisa disembuhkan. Namun, penanganan dan terapi yang tepat dapat dilakukan agar penderita autisme dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan sehari-hari. Terapi juga harus dilakukan sedini mungkin. Berikut ini beberapa metode pengobatan dan terapi autisme yang umum dilakukan: 1.Terapi perilaku dan komunikasi  Terapi ini bertujuan membantu anak memahami cara berkomunikasi, berinteraksi sosial, dan mengurangi perilaku yang mengganggu. Salah satu metode yang sering digunakan adalah applied behavior analysis (ABA). Pada terapi ini, anak akan diajarkan berbagai keterampilan secara bertahap, seperti berkomunikasi dengan orang lain. 2.Terapi wicara  Terapi wicara dilakukan untuk membantu meningkatkan kemampuan berbicara, memahami bahasa, dan berkomunikasi. Terapi ini dapat membantu anak mengucapkan kata dengan lebih jelas, memahami instruksi sederhana, menyusun kalimat, serta mengungkapkan kebutuhan dan emosinya dengan lebih baik.   3.Terapi okupasi  Terapi okupasi bertujuan melatih kemampuan anak dalam melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Melalui terapi ini, anak dapat dilatih untuk bisa makan, menulis, atau memakai pakaian sendiri.  4.Terapi sensori integrasi  Terapi sensori integrasi bertujuan membantu anak beradaptasi dengan rangsangan sensorik sehingga mereka lebih nyaman saat beraktivitas. Terapi ini dapat membantu mengurangi ketakutan terhadap suara keras atau ketidaknyamanan saat disentuh.  5.Terapi keluarga  Keluarga memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan anak dengan autisme. Dukungan keluarga yang baik dapat membantu meningkatkan keberhasilan terapi.  6.Developmental, individual differences, relationship-based approach (DIR) bertujuan untuk mengembangkan hubungan emosional antara pasien dengan keluarganya. 7.Treatment and education of autistic and related communication-handicapped children (TEACCH) Terapi ini menggunakan petunjuk visual, seperti gambar, yang menunjukkan tahapan dalam melakukan sesuatu. TEACCH akan membantu pasien untuk memahami bagaimana melakukan aktivitas sehari-hari, seperti berganti pakaian. 8.The picture exchange communication system (PECS) Terapi ini juga menggunakan petunjuk visual seperti TEACCH. Namun, PECS menggunakan simbol, untuk membantu pasien berkomunikasi dan belajar mengajukan pertanyaan. Obat-obatan  Sebenarnya, tidak ada obat yang dapat menyembuhkan autisme. Namun, dokter dapat memberikan obat-obatan berikut ini guna mengendalikan gejala:  Obat antipsikotik, seperti risperidone, untuk mengatasi masalah perilaku Obat antikejang, seperti valproate, untuk mengatasi kejang Antidepresan, seperti fluoxetine atau sertraline, untuk mengatasi kecemasan, perilaku obsesif, atau gangguan mood Melatonin, untuk mengatasi gangguan tidur Methylphenidate, untuk mengurangi hiperaktif dan meningkatkan konsentrasi pada anak yang juga mengalami gangguan perhatian Pemberian obat harus berdasarkan resep dan pengawasan dokter. Oleh karena itu, pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum memberikan obat-obatan pada anak.  Komplikasi Autisme  Autisme yang tidak mendapatkan penanganan dan pendampingan yang tepat dapat menyebabkan beberapa komplikasi, yaitu: Kesulitan berkomunikasi, seperti sulit berinteraksi dengan orang lain, mengalami keterlambatan perkembangan bahasa, dan sulit memahami instruksi  Gangguan interaksi sosial, misalnya sulit menjalin pertemanan, suka menyendiri, dan sulit bekerja sama dengan orang lain Gangguan belajar Gangguan perilaku  Gangguan sensorik, seperti tidak nyaman saat disentuh atau tidak suka di tempat ramai Gangguan tidur  Gangguan mental dan emosional, seperti depresi, gangguan mood, gangguan kecemasan, dan gangguan obsesif kompulsif (OCD) Hiperaktif dan impulsif  Kejang atau epilepsi  Gangguan makan Ketidakmampuan untuk hidup mandiri  Pencegahan Autisme  Sayangnya, autisme sulit untuk dicegah. Namun, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi faktor risiko yang berkaitan dengan autisme, terutama dengan menjaga kesehatan ibu dan janin selama kehamilan. Berikut ini adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan:  Menjalani pemeriksaan kehamilan secara rutin  Mengonsumsi makanan bergizi seimbang Melakukan vaksinasi sebelum kehamilan, seperti vaksinasi rubella Menghindari konsumsi minuman beralkohol selama hamil Tidak merokok  Mengelola stres  Beristirahat yang cukup  Menghindari paparan zat berbahaya selama kehamilan Namun, perlu diketahui bahwa langkah-langkah di atas tidak dapat sepenuhnya mencegah autisme. Soalnya, kondisi ini dipengaruhi banyak faktor, terutama faktor genetik. Setidaknya dengan memahami tanda dan gejala autisme, orang tua dapat lebih siap untuk memberikan dukungan yang diperlukan bagi anak-anak mereka.     Referensi : Hasanah, S. N., Noor, I., & Komalasari, S. 2020. Dukungan Sosial pada Anak dengan Autisme dari Orang Tua yang Memiliki Lembaga Pendidikan dan Pelayanan Anak Bekebutuhan Khusus (ABK). Jurnal Al-Husna, 1(3), 207-223. Prabowo, B. S. B., Ilham, M., & Widowati, A. 2021. Pengembangan Alat Latihan Motorik Kasar Pada Anak Autisme. Jurnal Manajemen Pendidikan Dan Ilmu Sosial, 2(2), 791-800.   Dewi, C. R. 2022. Pembelajaran Konsep Dasar Mewarnai pada Anak Autis. ULIL ALBAB: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 2(1), 36-44. Solihati, Y. M. 2021. Hubungan Efikasi Diri Pengasuhan Terhadap Kecemasan Orangtua Anak Dengan Autisme. Psyche 165 Journal, 40-44.