Tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelayanan keperawatan dirasakan sebagai suatu fenomena yang harus direspon oleh perawat Pelayanan keperawatan di rumah sakit bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, yang diberikan dalam bentuk asuhan keperawatan, dilakukan melalui proses pengkajian terhadap tidak terpenuhi kebutuhan dasar manusia,penentuan diagnosis keperawatan, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan dan pengevaluasian, yang disebut proses keperawatan.
Perawat dituntut untuk selalu melaksanakan asuhan keperawatan dengan benar atau rasional dan baik atau etika.Ruang rawat merupakan salah satu pusat pelayanan kesehatan keperawatan dimana semua tenaga termasuk perawat bertanggung jawab dalam penyelesaian masalah kesehatan klien. Pengorganisasian pelayanan keperawatan secara optimal akan menentukan mutu pelayanan keperawatan yang diberikan.
Rumah Sakit Jiwa Daerah Prov. Kep Bangka Belitung adalah rumah sakit khusus bertipe B. Pelayanan keperawatan pada Rumah sakit ini menjalankan model MPKP (Model Praktik Keperawatan Profesional), ruang rawat inap ”R ”adalah ruang rawat inap untuk pasien laki-laki kelas III dengan kapasitas tempat tidur 20 tempat tidur. BOR perbulan mulai bulan februari 2018 adalah 83,39%. Saat ini jumlah tenaga perawat di ruangan berjumlah 11 orang, dengan kualifikasi pendidikan 5 orang DIII Keperawatan, 3 orang S1 Keperawatan, 1 orang S1 Keperawatan Ners dan 2 orang lulusan sekolah perawat kesehatan
Dari hasil wawancara, observasi dan hasil kuisioner pada tanggal 26 - 28 Maret 2018 yang dilakukan diruang rawat inap “ R”, didapatkan kondisi ruang sebagai berikut:
Ruang” R” memiliki jumlah 17 ruang yang terdiri dari : 1 ruang perawat, 1 Nurse Stasion, 1 gudang, 8 kamar mandi pasien, 2 kamar mandi perawat, 2 ruang perawatan pasien (ruang Pasien A dan B ), 1 ruang kepala ruang, dan 1 ruang sholat pasien; memiliki dua TIM (TIM A dan TIM B).
Ada 3 Bentuk komunikasi yang di pakai dan harus dijalankan pada suatu ruang MPKP ,yaitu :;
Operan, yatu komunikasi dan serah terima pekerjaan antara shift pagi, sore dan malam. Operan dari shift malam ke shift pagi dan dari shift pagi ke shift sore dipimpin oleh kepala ruangan, sedangkan operan dari shift sore ke shift malam dipimpin oleh penanggung jawab shift sore.
Preconference, yaitu komunikasi katim dan perawat pelaksana setelah selesai operan mengenai rencana kegiatan pada shift tersebut yang dipimpin oleh ka tim atau PJ Tim. Jika hanya satu perawat yang dinas pada tim tersebut, preconference ditiadakan. Isi preconference adalah rencana tiap perawat (rencana harian) dan tambhan rencana dari katim atau PJ Tim.
Postconference, yaitu komunikasi ka tim dan perawat pelaksana tentang hasil kegiatan sepanjuang shift dan dilakukan sebelum operan kepada shift berikutnya. Isi Postconference adalah hasil asuhan keperawatan tiap perawat dan hal penting untuk operan (tindaklanjut). Postconference dipimpin oleh Katim atau PJ Tim.
Analisa Data
Analisa data dilakukan berdasarkan hasil wawancara, kuesioner dan observasi yang dilakukan 26 s/d 28 maret 2018, kemudian dikategorikan dengan menggunakan skala ordinal sebagai berikut (Nursalam, 2009):
≤ 56 % : kategori rendah
56-75% : kategori sedang
76-100% : kategori baik
Operan dinas
Wawancara
Menurut keterangan Kepala Ruangan, operan dinas sudah dilakukan secara rutin, hanya saja perawat sering datang terlambat untuk melakukan operan sehingga hanya dioperkan ke sebagian perawat saja, kebanyakan operan hanya sebatas membaca buku laporan saja. Selain itu ronde ke ruangan pasien tidak dilakukan.
Kuisioner
Berdasarkan kuisioner didapatkan data bahwa karu atau PJ Shift membuka operandengan salam, Katim atau PJ mengoperkan tindakan yang sudah dilaksanakan dan katim/ PJ mengoperkan tindak lanjut (90%) namum masih ada yang kadang – kadang (10%). Katim/ PJ yang mengoperkan diagnosa keperawatan (50%). Katim/ PJ mengoperkan TUK yang sudah dicapai (60%), Karu memimpin ronde ke ruangan pasien (60%) dan kadang – kadang tidak dilakukan ronde (30%), Katim/ PJ mengoperkan hasil Asuhan Keperawatan sebesar (80%). PJ tim berikutnya mengklarifikasi sebesar (70%) dan yang kadang – kadang (30%), karu merangkum hasil operan sebesar (80%). Karu memimpin doa dan menutup acara sebesar (80%) yang tidak (10%)dan yang kadang – kadang (10%). Operan menggunakan tehnik SBAR sebesar (70 %) dan yang tidak (30%).
Berdasarkan hasil kuisioner didapatkan kegiatan operan sudah dilakukan dengan baik, hanya saja pada kegiatan katim/PJ mengoperkan diagnosa keperawatan hanya dilakukan sebesar 50% (kategori rendah).
Observasi
Berdasarkan hasil observasi, operan diruang Rajawali belum berjalan optimal, operan kadang dilakukan melewati ketentuanjam yang ada di SPO, operan dinas tidak melakukan ronde ke ruangan pasien, tidak menjelaskan asuhan keperawatan secara jelas, tidak menjelaskan hasil yang didapatkan dari hasil askep
Berdasarkan observasi yang dilakukan menggunakan daftar tilik SPO didapatkan perawat yang benar-benar melakukan operan sesuai dengan SPO hanya sebesar 20%
Pre dan post conference
Wawancara
Menurut Kepala Ruangan, pre conference terkendala dengan kebijakan yang mengharuskannya mengikuti apel pagi hingga jam 8, sehingga perawat pelaksana biasanya sudah melakukan kegiatan mengeluarkan pasien dari ruangan yang membutuhkan pengawasan/tidak bisa ditinggalkan.
Untuk post conference menurut Kepala Ruangan jarang dilakukan.
Menurut Katim, pre dan post conference di Ruangan Rajawali belum optimal, terkendala jumlah perawat yang bertugas sore dan malam terbatas, tapi sedang diusahakan secara maksimal.
Kuisioner
Berdasarkan hasil kuisioner yang dibagikan kepada perawat diketahui bahwa, Penerapan Pre Conference :
Pada aspek Katim/PJ tim membuka acara sebesar 80% perawat yang menjawab ya (kategori sedang).
Pada aspek Katim/PJ tim menanyakan rencana harian sebesar 80% perawat yang menjawab ya (kategori sedang).
Pada aspek Katim/PJ tim memberikan masukan dan tindak lanjut sebesar 80% (kategori sedang).
Pada aspek katim/PJ tim memberi reinforcement sebesar 80% perawat yang menjawab ya (kategori sedang).
Pada aspek Katim/PJ tim menutup acara sebesar 90% perawat yang menjawab ya (kategori tinggi/baik).
Penerapan Post Conference :
Pada aspek Katim/PJ tim membuka acara didapatkan 80% perawat yang menjawab ya (kategori sedang).
Pada aspek Katim/PJ tim menanyakan hasil asuhan masing-masing pasien didapatkan 80% perawat yang menjawab ya (kategori sedang).
Pada aspek Katim/PJ tim menanyakan kendala pemberian asuhan didapatkan 70% perawat yang menjawab ya (kategori sedang).
Pada aspek katim/PJ tim menanyakan tindak lanjut pada dinas berikutnya didapatkan 70% perawat yang menjawab ya (kategori sedang).
Pada aspek Katim/PJ tim memberikan reinforcement didapatkan 80% perawat yang menjawab ya (kategori sedang).
Pada aspek Katim/PJ tim menutup acara didapatkan 90% perawat yang menjawab ya (kategori tinggi/baik).
Observasi
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan menggunakan daftar tilik SPO, didapatkanpenerapan pre conference sesuai SPO sebesar 0%, penerapan pre conference tetapi tidak sesuai SPO sebesar 45,5%, penerapan pre conference tidak dilakukan sama sekali sebesar 54,5%.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan menggunakan daftar tilik SPO, post conference tidak dilakukan perawat sama sekali (0%). penerapan post conference tetapi tidak sesuai SPO sebesar 40,5%, penerapan post conference tidak dilakukan sama sekali sebesar 59,5%.
Penerapan Bentuk Komunikasi ruang MPKP .
Berdasarkan hasil pengolahan data di Ruang” R “ terkait penerapan bentuk komunikasi ruang MPKP,ditemukan bahwa ;
1. Operan dinas belum optimal
2 Pre conference belum optimal
3. Post conference belum optimal
Dapat ditemukan beberapa hal yang mempengaruhi mengapa penerapan komunikasi MPKP terlihat belum optimal dan sangat perlu ditemukan cara agar komunikasi bisa menjadi optimal,karena komunikasi merupakan salah satu fungsi pokok manajemen terkait pengarahan suatu organisani dalam hal ini pelayanan ruang rawat inap pasien yang berisi tukar menukar pemikiran, pendapat, saran dan bekerjasama. Sangat diperlukan komunikasi dalam suatu organisasi pelayanan ruang rawat inap pasien, komunikasi yang kurang baik /tidak optimal dapat mengganggu kelancaran dalam mencapai tujuan pelayanan keperawatan pada pasien.
Beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai cara untuk mencapai komunikasi ruang MPKP yang lebih optimal antara lain;
Melakukan Sosialisasi dan Demonstrasi Operan sesuai SPO, serta membuat figura SPO Operan yang diletakkan diruang nurse station untuk membantu proses pemahaman saat pelaksanaan operan.
Melakukan Sosialisasi dan Demonstrasi Pre Conference dan Post Conference sesuai SPO,serta membuat figura SPO pre dan post conference sebagai panduan saat pelaksanaan.
Selain hal tersebut, harus terus dilakukan pembinaan dan pengawasan serta memotivasi peningkatan disiplin tenaga keperawatan sehingga dapat dicapai suatu komunikasi model praktik keperawatan professional yang lebih optimal demi mencapai tujuan pelayanan keperawatan pada pasien yang optimal pula.
Penulis
Muhammad Isnaini, S.Kep