World Health Organization (WHO) memperkirakan sebanyak 450 juta orang diseluruh dunia mengalami gangguan mental. Terdapat sekitar 10% orang dewasa mengalami gangguan jiwa saat ini dan 25% penduduk diperkirakan akan mengalami gangguan jiwa pada usia tertentu selama hidupnya. Dampak dari tingginya gangguan jiwa menyebabkan peran sosial yang terhambat dan menimbulkan penderitaan pada klien karena perilaku yang buruk. Dengan meningkatkan pelaksaan pengawasan dan evaluasi program kegiatan kesehatan jiwa dengan cara peningkatan pembinaan program kegiatan kesehatan jiwa di sarana kesehatan pemerintah, swasta dan puskesmas terutama upaya promotif dan preventif. Salah satu gangguan jiwa terberat adalah skizofrenia. Skizofrenia adalah suatu gangguan proses pikir yang menyebabkan keretakan dan perpecahan antara emosi dan psikomotor disertai distorsi kenyataan dalam bentuk psikosa fungsional. Gejala primer skizofrenia adalah gejala awal yang terjadi dan menyebabkan gangguan proses pikir, gangguan afek emosi, gangguan kemauan, Sedangkan gejala sekunder skizofrenia adalah waham dan halusinasi gejala yang timbul karena gangguan pada gejala primer skizofrenia. Salah satu komponen dalam skizofrenia adalah gangguan konsep diri. Gangguan konsep diri didefinisikan secara umum sebagai keyakinan yang dimiliki dan pandangan atau penilaian seseorang terhadapnya. Seseorang yang meyakini dan memandang dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, tidak menarik, tidak disukai, dan kehilangan daya tarik terhadap hidup adalah konsep diri negatif. Sedangkan dalam gangguan konsep diri terdapat gangguan harga diri. Harga diri rendah adalah adanya perasaan hilang kepercayaan diri, merasa gagal karena tidak mampu mencapai keinginan sesuai ideal diri, perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif terhadap diri sendiri atau kemampuan diri. Aktualisasi : kontak sosial dan pengalaman positif yang berhubungan dengan orang lain. Konsep diri positif : persepsi terhadap respon sosial maupun lingkungan yang positif. Harga diri rendah : keadaan dimana individu sedang mengalami penilaian negatif terhadap dirinya sendiri. Keracunan identitas : kegagalan individu untuk mengintegrasikan masa pertumbuhan. Depersonalisasi : suatu perasaan asing terhadap diri sendiri diakibatkan oleh stress dan depresi. Terapi keperawatan yang diberikan pada klien dengan harga diri rendah ini meliputi tindakan untuk klien secara pribadi, juga untuk keluarga dan komunitas di lingkungan klien tinggal. Terapi yang diberikan tetap dengan menggunakan tindakan keperawatan generalis ditambah dengan tindakan berupa terapi kognitif untuk individu, triangle terapi untuk keluarga dan terapi aktivitas kelompok sosialisasi dan logoterapi  untuk terapi kelompok pada klien harga diri. Tindakan keperawatan kepada pasien dengan harga diri rendah 1) Terapi generalis Prinsip tindakan: Identifikasi kemampuan dan aspek positif yang masih dimiliki klien. Bantu klien menilai kemampuan yang dapat digunakan Bantu klien memilih/menetapkan kemampuan yang akan dilatih Latih kemampuan yang dipilih klien Beri pujian yang wajar terhadap keberhasilan klien Bantu menyusun jadwal pelaksanaan kemampuan yang dilatih Evaluasi kemampuan pasien sesuai jadwal kegiatan harian Latih kemampuan kedua Motivasi klien memasukkan kemampuan kedua kedalam jadwal harian 2) Terapi Kognitif Kata cognitive atau cognition berarti pengetahuan atau pemikiran, oleh karena itu kognitif terapi dianggap sebagai pengobatan psikologi untuk pikiran. Secara sederhana terapi kognitif menjalankan asumsi tentang pikiran, keyakinan, sikap dan persepsi terhadap prasangka tanpa tekanan emosi yang berpengalaman dan juga intensitas emosi tersebut. Prinsip tindakan: Sesi  I                : Mengungkapkan pikiran otomatis Sesi II               : Mengungkapkan alasan Sesi III              : Tanggapan terhadap pikiran otomatis Sesi  IV             : Menuliskan pikiran otomatis Sesi V               : Penyelesaian masalah Sesi VI              : Manfaat tanggapan Sesi VII            : Mengungkapkan hasil Sesi VIII           : Catatan harian Sesi IX              : Support system Tindakan Keperawatan kepada keluarga Terapi generalis Prinsip tindakan: Menjelaskan tanda-tanda dan cara merawat klien harga diri rendah Menjelaskan cara-cara merawat klien dengan harga diri rendah Mendemonstrasikan dihadapan keluarga cara merawat klien dengan harga diri rendah Memberikan kesempatan kepada keluarga mempraktekkan cara merawat klien dengan harga diri rendah seperti yang telah di demonstrasikan perawat sebelumnya         2. Triangle terapi (melibatkan klien, terapis dan keluarga) Setiap hubungan antara terapis, klien dan keluarga dalam psikoterapi merupakan bagian dari triangle relationship (hubungan segitiga). Hal ini karena setiap klien merupakan bagian dari multi generasi yang disebut keluarga. Setiap terapi berpengaruh bagi keluarga dan dipengaruhi oleh keluarga. Hal ini sesuai dengan konsep triangle therapy bahwa jika dua orang anggota keluarga terjadi konflik, maka dibutuhkan pihak ketiga (terapis) untuk menyelesaikan dan mendukung penyelesaian masalah mereka. Prinsip tindakan : Sesi I: Mengenali dan mengekspresikan perasaan Sesi II    : Menerima orang lain (klien) Sesi III   : Penyelesaian masalah Sesi IV   : Mengungkapkan hasil Tindakan Keperawatan dengan Kelompok 1) Terapi generalis : TAKS (Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi) Prinsip tindakan: Sesi 1      :  Membantu klien meningkatkan kemampuan memperkenalkan diri Sesi 2      :  Membantu klien berkenalan dengan anggota kelompok Sesi 3      :  Membantu klien untuk mampu bercakap-cakap dengan anggota kelompok Sesi 4   : Membantu klien untuk mampu menyampaikan topik pembicaraan tertentu dengan anggota kelompok Sesi 5       :  Bantu klien untuk mampu menyampaikan dan membicarakan masalah pribadi dengan orang lain Sesi 6       : Bantu klien untuk mempu bekerja sama dalam permainan sosialisasi kelompok Sesi 7     : Bantu klien untuk mamu menyampaikan pendapat tentang manfaat kegiatan kelompok yang telah dilakukan 2) Logo terapi Logoterapi berfokus pada arti eksistensi manusia dan usahanya mencari arti itu. Logoterapi memandang manusia sebagai totalitas yang terdiri dari tiga dimensi: fisik, psikologis, dan spiritual. Untuk memahami diri dan kesehatan kita harus memperhitungkan ketiganya. Teknik analisa dalam logoterapi meliputi mengajukan pertanyaan pada diri sendiri, melihat dan merenungkan pengalaman yang bermakna dan mengungkap makna dalam kondisi kritis. Pada klien dengan harga diri rendah, dimana klien lebih dominan memandang aspek negatif dirinya dan kurang bergairah dalam mencari makna kehidupan ataupun dalam pencapaian tujuan hidup Prinsip tindakan : Sesi 1    : Mengenal masalah Sesi 2    : Mengajukan pertanyaan pada diri sendiri Sesi 3    : Melihat dan merenungkan pengalaman yang bermakna Sesi 4    : Mengungkap makna dalam kondisi kritis Sesi 5    : Evaluasi dan terminasi Beberapa terapi keperawatan yang dapat diberikan kepada klien dengan harga diri rendah ini adalah terapi kognitif, logo therapy dan triangle therapy untuk di modifikasi dengan terapi medis yang diberikan. Dengan pertimbangan pemberian psikofarmaka hanya untuk mengatasi masalah penyakitnya saja dimana gejalanya diharapkan menjadi berkurang atau hilang tetapi tidak merubah pola pikir, perasaan dan perbuatan klien, sehingga klien akan kembali pada situasi mengalami harga diri rendah. Karena sebenarnya masalah utama  penyebab dari harga diri rendah kronis yang dialami belum diatasi dan kemampuan koping yang dipergunakan dalam menghadapi tekanan belum digunakan seefektif mungkin. Daftar Pustaka dan Referensi : Direja, H. A. S. (2011). Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha Medika. Fitria, N. (2013). Laporan Pendahuluan Tentang Masalah Psikososial. Jakarta: Salemba Medika. Meryana. (2017). Karya Tulis Ilmiah Upaya Meningkatkan Harga Diri Dengan Kegiatan Positif Pada Pasien Harga Diri Rendah. Muhith, A. (2015). Pendidikan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Penerbit Andi. Shanti. (2009). Penatalaksanaan Keperawatan pada Pasien Harga Diri Rendah. [online]. Tersedia : http://shanti.staff.umy.ac.id/?p=9 yang direkam pada 08 Desember 2009. [05 Oktober 2018]. Yosep, I. (2010). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika Aditama.