Self-Efikasi atau keyakinan diri merupakan suatu keyakinan dalam diri individu terhadap kemampuan dirinya menyelesaikan tugas dan mencapai tujuan, yang dipengaruhi oleh pengalaman, bujukan verbal, dan kondisi fisiologis. Efikasi diri juga membahas tentang dampaknya terhadap kinerja akademis, motivasi dan perilaku seseorang diberbagai bidang.
Taukah kamu bahwa semakin tinggi self efikasi seseorang maka semakin tinggi pula keyakinan diri tentang kemampuannya untuk mencapai keberhasilan. Saat seseorang dengan self efikasi yang tinggi dihadapkan pada situasi yang sulit , mereka akan berupaya lebih keras untuk mengatasi tantangan yang dihadapinnya. Namun, berbeda dengan seseorang dengan self efikasi yang rendah. Dalam situasi yang sulit merkea akan mudah megurangi upayanya atau mudah untuk menyerah.
Ketika seseorang berhadapan dengan suatu kondisi, maka akan muncul suatu rasaa atau keyakinan bahwa dirinya mampu atau tidak untuk mengatasu kondisi tersebut. Keyakinan akan kemampuan diri inilah yang diartikan dengan istilah self-efficacy. Mengapa self-efficacy kemudian menjadi penting untuk diri seseorang ? karena jika seseorang tidak mempunyai self-efficacy atau self-efficacynya rendah maka semua aspek yang akan dihadapi dalam hidupnya, ia akan mudah untuk menyerah.
Dalam berbagai literatur terdapat beberapa pengertian tentang self-efficacy. Self-efficacy sendiri juga dapat diartikan sebagai keyakinan seseorang akan kemampuannya yang akan mempengaruhinya dalam bereaksi terhadao siatu dan juga kondisi tertentu.
Self-efficacy juga diartikan sebagai keyakinan seseorang tentang kemapuannya dalam melakukan suatu tugas secara bebas. Seseorang yang mempunyai keyakinan diri yang tinggi tentang kemampuannya akan lebih optimis dan juga berusaha keras melibatkan dirinya dibandingkan seseorang yang mempunyai kepercayaan diri yang rendah. Faktanya, jika memiliki self-efficacy yang tinggi seseorang akan mengabaikan umpan balik negatif atau bahkan tidak memikirkan hal-hal negatif tersebut. Hal yang dipikirkannya hanyalah kesuksesan. Jika seseorang dengan self-efficacy yang tinggi akan menganggap kegagalan sebagai kesuksesan yang tertunda sehingga mereka terus berupaya.
Berbeda halnya dengan seseorang yang mempunyai self-efficacy yang rendah, mereka cenderung mengurangi usaha mereka ketika mendapatkan umpan balik yang negatif. Mereka hanya fokus memikirkan kekurangan dirinya dan hal-hal lain bukan memikirkan bagaimana mereka mencapai kesuksesan tersebut. Mereka cenderung sedikit usaha dan lebih pesimis.
Self-efficacy ini juga mempengaruhi tindakan individu, besarnya upaya yang mereka keluarkan dan seberapa mereka sanggup bertahan pada situasi tersulit mereka. Dengan kata lain, semakin tinggi sefl-efficacy seseorang makan semakin tinggi upaya yang mereka lakukan.
Secara psikologis, persepsi tentang kemampuan diri ini akan mempengaruihi pikiran, perasaan dan juga tindakan. Faktanya, sefl-efficacy yang sudah terbentuk ini cenderung akan menerap dan tidak mundah berubah pada diri seseorang. Kekuatan self-efficacy yang dimiliki juga sebagai penentu perilaku. Berikut ini terdapat beberapa peran dari terciptanya self-efficacy seseorang.
a.Menentukan pemilihan perilaku: individu akan cenderung memilih melakukan tugas di mana ia merasa memiliki kemampuan yang lebih tinggi untuk menjalankannya, alih-alih tugas lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa self-efficacy menjadi pemicu munculnya suatu perilaku.
b.Menentukan besarnya upaya dan daya juang terhadap hambatan. Menurut Bandura, self-efficacy menentukan kekuatan dan daya tahan individu dalam mengatasi hambatan dan situasi yang tidak menyenangkan. Self-efficacy yang tinggi akan menurunkan kecemasan tentang kemampuan menyelesaikan tugas sehingga individu akan lebih tabah ketika mengalami hambatan dalam menjalankan tugasnya. Upayanya pun akan lebih banyak dikerahkan karena keyakinan bahwa usahanya tidak akan sia-sia.
c.Menentukan cara pikir dan reaksi emosional. Individu dengan self-efficacy yang rendah cenderung menganggap dirinya tidak akan mampu menghadapi tantangan pekerjaannya. Dalam menjalankan tugasnya, mereka cenderung membesarbesarkan masalah yang akan timbul jauh lebih berat daripada kenyataannya. Mereka lebih sering merasa pesimis, mudah putus asa, dan tertekan. Sebaliknya, orang dengan self-efficacy yang tinggi akan menganggap tugas-tugas beratnya sebagai tantangan yang menarik untuk diatasi. Pikiran dan perasaannya lebih terbuka untuk menemukan solusi bagi permasalahan yang dihadapi.
d.Prediksi perilaku yang akan muncul. Orang dengan self-efficacy yang tinggi cenderung lebih berminat melibatkan diri dalam aktivitas organisasi. Interaksinya dengan lingkungan kerja lebih intensif. Dalam kerja sama tim, mereka lebih kreatif menemukan berbagai solusi dan ikhlas bekerja keras karena keyakinan yang tinggi tentang kemampuannya. Sebaliknya individu dengan self-efficacy yang rendah cenderung lebih tertutup dan kurang terlibat dalam kerja sama tim karena persepsi mereka tentang masalah dan kesulitan lebih besar ketimbang peluang untuk merubah keadaan).
Secara garis besar, self-efficacy terbagi menjadi dua yaitu :
1.Self-efficacy tinggi
Dalam mengerjakan suatu tugas, seseorang dengan self-efficacy yang tinggi akan cenderung memilih untuk terlibat langsung. Mereka akan mengerjakan tugas tertentu, sekalipun tugas tersebut adalah tugas yang sulit. Mereka tidak memandang tugas sebagai suatu ancaman yang harus mereka hindari. Selain itu, mereka mengembangkan minat dan ketertarikannya yang mendalam terhadap suatu aktivitas, mengembangkan tujuan dan berkomitmen dalam mencapai tujuan. Mereka juga meningkatkan usaha dalam mencegah kegagalan yang mungkin timbul. Mereka yang gagal dalam melaksanakan sesuatu juga biasanya cepat mendapatkan kembali self-efficacy mereka setelah mereka mengalami kegagalan.
2.Self-efficacy rendah
Seseorang yang ragu akan kemampuan mereka (self-efficacy yang rendah) akan menjauhi tugas-tugas yang sulit karena tugas tersebut dipandang sebagai ancaman bagi mereka. Seseorang yang seperti ini memiliki aspirasi yang rendah serta komitmen yang juga rendah dalam mencapai tujuan yang mereka pilih atau mereka tetapkan. Ketika seseorang dengan self-efficacy yang rendah dihadapkan dengan tugas0tugas yang sulit, mereka sibuk memikirkan tentang kekurangan-kekurangan dalam diri mereka, gangguan-gangguan yang mereka hadapi dan semua hasil yang dapat merugikan mereka. Dalam mengerjakan suatu tugas, seseorang yang memiliki self-efficacy rendah cenderung menghindari tugas tersebut.
Selain itu, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi self-efficacy pada diri individu yaitu :
a.Budaya
b.Gender
c.Sifat dari tugas yang dihadapi
d.Intensif eksternal
e.Status atau peran individu dalam lingkungan
f.Informasi tentang kemampuan diri.
Sumber :
file:///C:/Users/User/Documents/Downloads/lppiman,+3+Lianto+55-61.pdf
http://etheses.uin-malang.ac.id/2231/5/08410092_Bab_2.pdf
Penulis
Fahri Setiawan S.Kep.,Ners