Zaman semakin canggih dan semakin maju dengan adanya perkembangan ilmu dan tegnologi, namun perilaku manusia terkadang justru mengalami kemunduran. Salah satu contoh perilaku penyalagunaan NAPZA, semua sudah mengetahui dampak buruk bagi kesehatan penggunanya namun tingkat penggunanya semakin meningkat. Peningkatan ini terjadi karna lemahnya iman, orang tidak lagi menjadikan hati kecilnya untuk menjalankan ibadah agama melaikan untuk kesenanganan sesaat. Penggunaan NAPZA selalu menjadi alasan klasik untuk menyelesaikan permasalahan yang ada pada penggunanya. Kegiatan coba-coba akan menjadi jawaban utama dalam setiap kasus orang yang menyalahgunakan NAPZA. Setelah terjadi dampak buruk pada dirinya maka mereka akan menyalahkan takdir yang menimpa pada dirinya. Menangani pengguna dan pecandu NAPZA memerlukan kerja ektra dan sangat sulit bahkan tidak tau kapan berakhirnya, kini justru diperparah dengan adanya gangguan pada mentalnya pengguna dan pecandu.  Namun tidak ada hal yang tidak mungkin selagi ada keinginan kuat, dukungan keluarga dan kerabat, dan penanganan yang tepat dapat membantu mereka kembali ke dunia nyata tanpa NAPZA. Dual diagnosis atau dual disorders merupakan istilah yang dipergunakan untuk menggambarkan individu yang mengalami penyakit mental berat dan gangguan penggunaan zat, dalam istilah yang lain juga dikenal dengan co-occuring disorder, dual disorder atau dual trouble. Sementara dalam artian sempit, dual diagnosis memiliki arti bahwa seorang individu memiliki dua penyakit yang terpisah tetapi saling berkaitan. Diagnosis yang dimaksud terdiri dari diagnosis psikiatri dan diagnosis ketergantungan zat yang dapat meliputi alkohol maupun obat.  Dalam kasus ini penyalahgunaan zat dapat terjadi terlebih dahulu kemudian diikuti gangguan mental, atau sebaliknya, gangguan mental dapat terjadi terlebih dahulu kemudian diikuti oleh perilaku penyalahgunaan zat. Sebuah dual diagnosis dapat diberikan ketika seorang individu menderita ketergantungan zat dan gangguan mental secara bersamaan. Masing-masing penyakit memiliki gejala yang dapat mengganggu penderitanya dan kedua penyakit ini pun berinteraksi satu dengan lainnya. Penyakit yang satu dapat mengeksarsebasi penyakit yang lain dan dapat menyebabkan relaps. Bila penyakit terjadi bersamaan, gejala yang timbul dapat bersamaan bahkan saling menutupi sehingga menyulitkan dalam mendiangnosis dan menterapi pasien dengan dual diagnosis. Kondisi dual diagnosis pada diri seseorang, membuat dia memiliki kondisi psikologi yang khusus sehingga tentu memerlukan penanganan yang khusus pula. Penanganan yang diberikan meliputi penanganan obat psikiatrik dan penanganan perilaku (psikososialnya). Jika para korban penyalahguna NAPZA lain melakukan terapi perubahan perilaku, maka klien Dual Diagnosis melakukan terapi obat dan terapi perubahan perilaku. Prinsip Dalam Mendiagnosis Pasien Dengan Dual Diagnosis Dalam proses mendiagnosis, pasien harus dievaluasi akan kemungkinan terjadinya suatu gangguan jiwa dan gangguan ketergantungan zat. Selain itu perlu dilakukan suatu wawancara dan pemeriksaan berkala sehubungan dengan gejala psikiatrik maupun gejala ketergantungan zat untuk melengkapi evaluasi diagnosis. Ada beberapa prinsip dalam mendiagnosis dan terapi pasien dengan dual disorder, yaitu: Stabilisasi gejala psikiatrik akut dan atau gejala ketergantungan zat akut. Perlu dilakukan observasi pada pasien ketergantungan zat untuk bebas dari zat selama 3-6 minggu sebelum membuat diagnosis psikiatrik dan merencanakan terapi jangka panjang. Obati kedua penyakit dengan efektif, karena bila tidak maka tidak akan membawa perbaikan yang bermakna. Terapi harus bersifat suportif dan tidak menghakimi. Konseling adiksi dan atau Alcohol/Narcotic Anonimous sendiri merupakan terapi yang tidak efektif untuk pasien dual disorder bila dikerjakan sendiri. Sikap konfrontasi dan kaku pada pasien dengan dual disorder hendaknya dihindari untuk membuat pasien berhenti menggunakan obat/zat pada awal terapi. Frekuensi terapi sebaiknya dilakukan 2-3 kali seminggu sampai fase stabilisasi untuk kedua penyakit tercapai. Berikan terapi dengan satu klinisi atau dengan satu program, karena bila diobati dengan dua terapis yang berbeda, akan dibutuhkan diskusi antar terapis dan pasien dapat memanipulasi terapis. Relaps lebih mudah terjadi pada pasien dengan dual disorder, tetapi bukan berarti terapi yang sebelumnya gagal. Hati-hati akan adanya reaksi transferens dan countertransferens. Pasien biasanya menginginkan kesembuhan atau terapi yang diberikan akhirnya gagal. Berikan dorongan penuh pada pasien. Prinsip Pengobatan Yang Efektif Tidak ada terapi tunggal yang sesuai untuk semua orang. Perlu pengobatan segera. Pengobatan yang efektif memperhatikan berbagai kebutuhan dari seseorang, tidak hanya pemakaian     zatnya. Suatu rencana pengobatan dan layanan seseorang harus dikaji secara berkesinambungan dan dimodifikasi bila diperlukan untuk memastikan bahwa rencana tersebut memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang berubah-ubah dari orang tersebut. Tetap dalam pengobatan untuk periode waktu yang adekuat merupakan hal yang penting bagi keberhasilan terapi. Konseling (perorangan dan/atau kelompok) dan terapi perilaku yang lain merupakan komponen yang penting dari pengobatan yang efektif untuk adiksi. Obat-obatan merupakan elemen pengobatan yang penting bagi kebanyakan pasien, terutama ketika digabung dengan konseling dan terapi perilaku yang lain. Orang-orang yang mengalami adiksi atau menyalahgunakan zat dengan gangguan jiwa yang coexisting harus mendapat pengobatan untuk kedua gangguan secara terintegrasi. Detoksifikasi medis hanyalah tahap pertama dari pengobatan adiksi dan dengan demikian memberikan sedikit sekali terhadap perubahan pemakaian zat jangka-panjang. Pengobatan tidak harus bersifat sukarela untuk dapat efektif. Kemungkinan pemakaian zat selama pengobatan harus diawasi secara berkesinambungan. Program-program pengobatan harus memberikan kajian untuk HIV/AIDS, hepatitis B dan C, tuberkulosis dan penyakit menular yang lain, dan konseling untuk membantu para pasien memodifikasi atau mengubah perilaku yang menempatkan diri mereka atau orang lain pada risiko infeksi. Pemulihan dari adiksi zat dapat berupa proses jangka-panjang dan seringkali membutuhkan episode pengobatan yang banyak. Konsep Pengobatan Terintegrasi Terapi yang terintegrasi sangat penting di dalam pengobatan pasien dengan dual diagnosis. Terapi ini terdiri dari dua pendekatan, yaitu pendekatan serial dan pendekatan paralel. Pada terapi dengan pendekatan serial, pasien dengan dual disorder tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan terapi sebelum penyakit yang satu terselesaikan atau stabil. Pada terapi dengan pendekatan paralel, gangguan jiwa dan penyalahgunaan zat diobati secara bersamaan oleh para pakar yang berbedabeda. Secara teori, para pakar yang memberikan layanan secara terpisah ini seharusnya berusaha untuk mengkoordinasikan pelayanannya dengan cara membuat pertemuan rutin dan membuat konsensus tentang elemen-elemen yang penting dari rencana pengobatan. Selain dari kedua bentuk diatas, pengobatan terintegrasi juga dapat berarti: Mengintegrasikan intervensi obat dan psikososial untuk ketergantungan zat dan gangguan jiwa. Mengintegrasikan terapi individu, kelompok, pasangan dan keluarga. Menangani masalah merokok dalam seting pengobatan. Mengintegrasikan teknik-teknik komplementer dengan teknik-teknik tradisional yang mempunyai pembuktian secara medis. Mengintegrasikan model pemulihan medis dan rehabilitasi dari perawatan. Mengintegrasikan pencegahan gangguan sekunder ke dalam pengobatan. Mengintegrasikan pencegahan dan tatalaksana dari penyakit medis umum ke dalam pengobatan. Penatalaksanaan 1. Abstinensia atau penghentian total penggunaan napza. Tujuan terapi ini tergolong sangat ideal, namun sebagian besar pasien tidak mampu atau tidak bermotivasi untuk mencapai sasaran ini, terutama pasien-pasien pengguna awal. Sedangkan sebagian pasien lain memang telah sungguh-sungguh abstinen terhadap salah satu napza, tetapi kemudian beralih menggunakan jenis napza yang lain. 2. Pengurangan frekuensi dan keparahan relaps. Tujuan utamanya adalah mencegah relaps. Bila pasien pernah menggunakan satu kali saja setelah abstinensia, maka ia disebut“slip”. Bila ia menyadari kekeliruannya, dan ia memang telah dibekali keterampilan untuk mencegah pengulangan penggunaan kembali, pasien akan tetap mencoba bertahan untuk selalu abstinen. Program pelatihan ketrampilan mencegah relaps (relapse prevention program), terapi perilaku kognitif (cognitive behavior therapy), opiate antagonist maintenance therapy dengan naltrexone merupakan beberapa alternatif untuk mencapai tujuan terapi jenis ini. 3. Memperbaiki fungsi psikologi, dan fungsi adaptasi sosial. Dalam kelompok ini, abstinensia bukan merupakan sasaran utama. Terapi rumatan metadon, syringe exchange program merupakan pilihan untuk mencapai tujuan terapi jenis ini. Terapi medik ketergantungan napza merupakan kombinasi psikofarmakoterapi dan terapi perilaku. Meskipun banyak faktor yang terlibat dalam terapi ketergantungan zat (termasuk faktor problema psikososial yang sangat kompleks), namun upaya penyembuhan ketergantungan napza dalam konteks medik tetap selalu diupayakan. Sumber:   Keliat, B. A& Akemat. (2016). Keperawatan Jiwa: Terapi Aktivitas Kelompok. Jakarta: EGC Media komunikasi RSJS. 2018. Lentera Jiwa. Magelang. Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesi Nomor 3 Tahun 2012. Tentang Standar Lembaga Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Aditif Lainya. Jakarta. Prabowo, 2017. Asuhan Keperawatan Jiwa. Semarang: Universitas Diponegoro. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009. Tentang Narkotika. Jakarta.