Demensia adalah sebuah sindrom yang berkaitan dengan penurunan kemampuan fungsi otak, seperti berkurangnya daya ingat, menurunnya kemampuan berpikir memahami sesuatu, melakukan pertimbangan, dan memahami bahasa, serta menurunnya kecerdasan mental. Menurut Lumbantobing (1995), demensia adalah himpunan gejala penurunan fungsi intelektual umumnya ditandai terganggunya minimal tiga fungsi yakni bahasa, memori, dan emosional. Seiring dengan kemajuan dan perkembangan tehnologi dibidang kesehatan, maka angka kesakitan dan angka kematian mengalamai penurunan, sedangkan angka harapan hidup meningkat dari 68,6 di tahun 2004, meningkat menjadi 72 tahun pada tahun 2015. Dengan demikian maka usia diatas 60 tahun akan semakin meningkat dalam hal ini lansia semakin banyak. Dengan peningkatan usiah harapan hidup yang makin tinggi, maka penderita demensia juga ikut bertambah, hal ini mungkin dikarenakan masih rendahnya pengetahuan dan kepedulian masyarakat tentang demensia dan bagaimana mencegahnya. Demensia umumnya menyerang orang usia lanjut di atas 65 tahun, meski demikian tidak menutup kemungkinan demensia menyerang usia yang lebih muda yang terjadi karena gangguan atau kerusakan pada sel-sel otak. Penderita demensia umumnya akan mengalami depresi, perubahan suasana hati dan perilaku, kesulitan berkomunikasi dan bersosialisasii, hingga berhalusinasi. Penderita tidak mampu hidup mandiri dan memerlukan dukungan orang lain atau keluarga. Pengenalan akan gejala demensia lebih dini mungkin dapat membatu untuk mendapat pertolongan, namun demikian masih banyak petugas kesehatan yang masih kesulitan mengenali demensia secara dini sehingga lambat untuk mendapatkan terapi yang semestinya dan akhirnya berdampak pada  penurunan kwalitas hidup penderita. Perlu diingat bahwa tidak semua orang yang mengalami penurunan daya ingat atau penurunan kemampuan fungsi otak dapat diartikan sebagai demensia. Untuk memastikan keadaan penurunan daya ingat yang sebenarnya perlu diperiksakan ke dokter. Demensia tidak dapat disembuhkan, namun pengobatan secara dini dapat membantu meredakan dan memperlambat perkembangan gejala, serta menghindari komplikasi lebih lanjut. Demensia Progesif Demensia progesif adalah kondisi yang disebabkan oleh kerusakan sel saraf otak tertentu dan dapat memburuk seiring waktu. Kondisi ini umumnya tidak dapat dipulihkan secara tuntas. Beberapa jenis demensia progresif diantaranya: Penyakit Alzheimer merupakan penyebab demensia paling umum. Penyakit ini ditandai dengan adanya penurunan progresif memori, gangguan perilaku dan ketergantungan dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Masih belum diketahui penyebab yang pasti  namun beberapa kelainan genetik dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit ini. Demensia vaskuler. Hal ini merupakan penurunan kemampuan kognitif yang luas mulai dari kognisi ringan sampai dengan demensia yang dihubungkan dengan faktor risiko vaskuler seperti iskemik pada jaringan otak, stroke perdarahan, gangguan hipoperfusi dan gangguan vaskuler hipoksia. Gangguan pada pembuluh darah otak merupakan penyebab demensia tertinggi kedua. Demensia Lewy Body. Lewy body adalah penggumpalan protein abnormal pada otak, yang juga bisa ditemukan pada Alzheimer dan Parkinson. Demensia ini ditandai dengan adanya fluktuasi kognisi, halusinasi visual yag nyata terjadi pada awal perjalanan penyakit orang dengan Parkinson. Hal ini didukung dengan adanya jatuh berulang dan sinkope, sensitive terhadap neuroleptik, delusi dan atau halusinasi. Demensia frontotemporal. Demensia ini  biasanya terjadai pada usia muda, sebelum usia 65 tahun. Gejala yang muncul adalah berupa penurunan progresif perilaku dan atau kognisi yang didukung dengan adanya perilaku disinhibisi, apatis, atau inersia, juga kehilangan simpati/empati, preservasi perubahan diet/hiperoralis. Demensia campuran. Pada umumnya dialami  orang dengan usia diatas 80 tahun tanpa penyebab yang jelas. Biasanya demensia campuran ini  berupa Alzheimer, demensia vaskuler, dan Demensia Lewy Body. Kondisi yang menyerupai demensia Terdapat kondisi-kondisi lain yang dapat menyerupai demensia atau menimbulkan gejala yang mirip dengan  demensia. Sebagian besar dari kondisi tersebut menimbulkan gejala yang sifatnya sementara dan dapat pulih setelah penanganan. Namun beberapa kondisi menimbulkan gejala menetap, seperti misalnya penyakit Huntington, penyakit Creutzfeldt-Jakob, penyakit Parkinson dan cedera otak. Kondisi lain yang dapat menyebabkan gejala menyerupai demensia yang sifatnya sementara dan dapat pulih dengan pengobatan, yaitu: Adanya gangguan metabolisme atau Misalnya gangguan pada produksi hormon tiroid, hipoglikemia, dan gangguan elektrolit. Dapat menjadi pemicu gejala yang menyerupai demensia. Gangguan immunitas dimana terjadi penurunan kemapuan tubuh untuk mencegah infeksi sehingga terjadi peningkatan suhu tubuh dan mempengaruhi system saraf otak.   Beberapa interaksi antar obat atau vitamin dapat memicu demensia. Kondisi dimana nutrisi tidak terpenuhi, kekuragan elektroli tubuh seperti natrium, kalsium, magnesium dan vitamin B1, B6, dan B12. Konsumsi alcohol yang berlebihan juga dapat menimbulkan gejala yang menyerupai demensia. Terkena paparan bahan beracun, seperti timah, logam berat, pestisida, obat-obat dan termasuk alcohol. Hematoma Subdural. Adanya pendarahan atau bekuan darah dibawah lapisan durameter pada otak. Seperti pada kecelakan yang mengalami trauma kepala. Kekurangan oksigen. Dimana kadar oksigen dalam tubuh tidak mencukupi. Normal-pressure hydrocephalus. Disebabkan oleh pelebaran ventrikel dalam otak, mengakibatkan penderita kesulitan berjalan, membuang kemih hingga hilang ingatan. Adanaya tumor pada otak. Hal ini jarang terjadi, namun dapat menjadi salah satu pemicu demensia terjadi. Diagnosis Demensia Demensia tidaklah mudah untuk didiagnosa dikarenakan banyaknya gejala yang dapat mengindikasikan penyakit sejenis. Selain menanyakan riwayat penyakit dan kesehatan pasien serta keluarga, dilakukan juga pemeriksaan fisik dan serangkaian tes lanjutan, yang meliputi: Tes kognitif dan neuropsikologis. Memeriksa kemampuan berpikir, mengingat, orientasi, penilaian, dan konsentrasi, hingga merangkai bahasa. Pemeriksaan neurologi. Memeriksa kemampuan motorik, keseimbangan, rasa, dan refleks. Pemindaian, hal ini dilakukan untuk memeriksa kondisi otot, jaringan, dan aliran listrik saraf otak melalui EEG,  CT scan, MRI. Pemeriksaan darah, pemeriksaan darah dilakukan untuk memeriksa adanya kelainan yang dapat mempengaruhi fungsi otak seperti defisiensi vitamin B12, atau penurunan fungsi kelenjar tiroid. Pemeriksaan cairan tulang belakang. Untuk mendeteksi jika terdapat infeksi atau peradangan pada sistem saraf.      Tes psikiatrik. Memeriksa jika penderita mengalami depresi atau kondisi mental lainnya yang dapat mempengaruhi kesehatan otak.  Cara Merawat Pasien Penderita Demensia  Pasien penderita demensia membutuhkan dukungan dan perhatian dari anggota keluarga. Petugas kesehatan akan memberi arahan bagaimana cara  merawat pasien. Ada beberapa tips cara merawat pasien demensia: Dalam Aktifitas harian Membuat aktifitas harian agar pasien tidak bingung karena kehilangan daya ingat. Misalnya, menetapkan waktu makan dan jadwal kegiatan Member kesempatan untuk memilih  hal-hal yang pasien sukai, seperti pakaian dan makanan dan kegiatan.  Bila pendrita tidak mampu, bantu  untuk merawat kebersihan diri dan kerapiannya seperti mandi, mengenakan pakaiannya dan berhias. Berikan motifasi untuk bisa melakukan secara mandiri hal-hal sederhana seperti berpakaian dan menyikat gigi, dan hal-hal yang mungkin dia mampu. Pemeilihan pakaian yang mudah di pakai. Lingkungan Penderita Agar penderita mudah melihat dan mengenali, maka penderita di sediakan peralatan atau aksesoris yang ukuran lebih besar, seperti jam dinding, kalender dan petunjuk lain.  Berikan alat penerangan ruangan yang cukup dan mudah dijangkau sehingga pasien merasa nyaman dan tidak takut saat bangundi malam hari. Dengan penerangan yang cukup penderita bisa terhindar dari jatuh atau tersandung. Jangan banyak merubah lingkugan sekitar penderita yang membuat penderita bingun dengan tempat baru. Contohnya kamar mandi, dapur, tempat makan dan tempat lain yang biasa di gunakan penderita Pindah tempat tinggal akan membuat penderita bingung dengan lingkungan yang baru, dan butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Pola komunikasi  Mengajak bicara penderita dengan suara pelan dan mudah dipahami penderita, menggunakan kalimat yang pendek dan bisa di mengerti. Jangan menggunakan kalimat atau bahasa yang susah dimengerti.  Apabila pasien susah memahami atau lupa dengan kal;imat yang disampaikan, ulangi dengan kalimat yang sama dan perlahan. Apabila pasien belum mampu menjawab atau merespons pertanyaan yang di sampaikan, beri kesempatan untuk mengekspresikan pendapat dan perasaaanya. Jangan pernah memaksa untuk menjawab, tapi dapat dicoba dan diulangi lagi. Kontak mata dengan senyuman saat mengajak penderita berkomunikasi, bisa menggunakan bahasa tubuh. Pencegahan Demensia tidak dapat dicegah, namun ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko terjadinya demensia. seperti: Hindari rokok. Mulailah berolahraga secara teratur, minimal 3 kali seminggu Pola makan yang sehat, seperti mengkonsumsi makanan yang bergizi dan menyehatkan. Hindari asupan alcohol, karena alcohol dapat mempengaruhi system saraf otak. Vitamin D yang cukup Melakukan latihan otak , bisa dilakukan dengan main game, membaca dan mengisi teka teki silang dan sejenisnya. Memelihara kesehatan tetap prima, mengontrol tekanan darah, gula darah dan kolesterol. Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Hindari terjadinya cedera di bagian kepala dan mencegah potensi, seperti terjatuh dari tempat tidur, terpeleset di lantai dll. DaftarPustaka : Lumbantobing, 1995; Kecerdasan Pada Usia Lanjut Dan Demensia, Jakarta. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. https://www.alodokter.com https://www.docdoc.com https://www.neuroma.web.id