Setiap makhluk dalam menjalani kehidupan akan selalu dihadapka dengan masalah kehidupan. Masalah yang dihadapi senantiasa beragam dan berbeda, sehingga perlu adanya penanganan yang berbeda-beda. Masalah yang timbul akan menimbulkan stress bagi yang tidak mampu menyelesaikan masalahnya.
Manusia merupakan salah satu makhluk yang paling banyak memiliki masalah kehidupan. Dengan pola dan gaya kehidupan manusia yang tidak memiliki batas memaksa manusia itu sendiri menghadapi berbagai masalah kehidupan. Masalah yang timbul berkelanjutan dan tanpa adanya penyelesaian menimbulkan setress bagi manusia itu sendiri. Setiap manusia yang ada dimuka bumi ini pernah mengalami stress namun, tingkatan stressnya berbeda dan cara mengatasinya berbeda setiap tingkatan.
Ketidak tepatan dalam mengatasi stress justru dapat menimbulkan masalah baru, dan terkadang dapat menimbulkan stress baru. Maka penting untuk mengetahui Coping Stres pada diri, agar tidak menyelesaikan masalah dengan masalah yang baru. Coping merupakan suatu proses dimana individu mencoba untuk mengelola jarak yang ada antara tuntutan-tuntutan (baik itu tuntutan yang berasal dari individu maupun tuntutan yang berasal dari lingkungan) dengan sumber-sumber daya yang digunakan dalam menghadapi stressful.
Penjelasan lain yang berkaitan dengan coping ialah sebuah proses yang dilalui oleh individu dalam menyelesaikan situasi stresfull, coping yang dimaksud merupakan respon individu terhadap situasi yang mengancam dirinya baik pada fisk maupun psikologisnya. Menurut beberapa ahli mendefinisikan coping sebagai segala usaha, sehat maupun tidak sehat, positif maupun negatif, usaha kesadaran atau ketidaksadaran, untuk mencegah, menghilangkan, atau melemahkan stressor, atau untuk memberikan ketahanan terhadap dampak dari stress.
Sifat coping pada dasarnya merupakan salah satu jenis pemecahan masalah, dimana prosesnya melibatkan pengelolaan situasi yang berlebihan, meningkatkan usaha untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan kehidupan, dan mencari cara untuk mengalahkan stress atau minimal menguranginya.
Stress merupakan suatu reaksi negatif yang timbul akibat mengalami tekanan berlebih yang dibebankan akibat tuntutan, hambatan, atau peluang yang terlampau banyak. Stress juga dapat sebagai akibat ketidakseimbangan antara tuntutan dan sumber daya yang dimiliki individu, semakin tinggi kesenjangan terjadi semakin tinggi juga stress yang dialami individu, dan akan mengancam.
Coping stress merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh individu dalam mengelola tuntutan-tuntutan, baik tuntutan internal maupun eksternal untuk memberikan ketahanan terhadap dampak stress yang berupa dampak fisiologis, emosional, kognitif, interpersonal, dan organisasional.
Jenis-jenis Coping Stress
Jenis Coping stress yaitu:
Emotion Focused Coping
Emotional focused coping dapat digunakan untuk mengatur respon emosional terhadap stres. Pengaturan yang dilakukan melalui perilaku individu, seperti penggunakan alkohol, menghilangkan fakta-fakta yang tidak menyenangkan, melalui strategi kognitif. Namun saat individu tidak mampu mengubah kondisi yang stressfull, individu akan cenderung untuk mengatur emosinya.
Emotion focused coping dapat juga diartikan sebagai strategi penanganan stress dimana individu memberikan respon terhadap situasi stres dengan cara emosional, terutama dengan menggunakan penilaian defensif. Emotion focused coping merujuk pada berbagai upaya untuk mengurangi berbagai reaksi emosional negatif terhadap stres, salah satu contoh dengan mengalihkan perhatian dari masalah, melakukan relaksasi, atau mencari rasa nyaman dari orang lain.
Pada coping yang sifatnya berfokus pada emosi, seseorang berusaha segera mengurangi dampak dari stressor atau menarik diri dari situasi yang dihadapi. Coping yang sifatnya berfokus pada emosi tidak menghilangkan stressor atau tidak juga membantu individu dalam mengembangkan cara yang lebih baik untuk mengatur stressor yang ada.
Problem Focused Coping
Problem focused coping dapat digunakan dalam mengurangi stressor, individu berusaha mengatasi dengan mempelajari cara-cara atau keterampilan-keterampilan yang baru. Individu yang akan cenderung menggunakan strategi ini, bila dirinya yakin akan dapat mengubah situasi. Metode atau fungsi masalah ini lebih sering digunakan oleh orang-orang dewasa.
Pada coping yang sifatnya berfokus pada masalah, seseorang akan menilai stressor yang dihadapi dan melakukan sesuatu hal untuk mengubah stressor atau memodifikasi reaksi yang dilakukan untuk meringankan efek dari stressor tersebut.
Problem focused coping dapat juga dimaksudkan sebagai strategi kognitif untuk penanganan stres atau coping yang digunakan oleh seseorang yang menghadapi masalahnya dan berusaha menyelesaikannya. Problem focused coping yang dimaksud bertindak secara langsung untuk mengatasi masalah atau mencari informasi yang relevan dengan solusi yang tepat
Menurut Lazarus (dalam GYA, HW, RD. 2018) coping dibagi menjadi dua jenis bagian,yaitu :
Tindakan langsung (Direct Action)
Jenis coping merupakan setiap usaha tingkah laku yang dilakukan oleh individu dalam mengatasi kesakitan atau luka; sebuah ancaman atau tantangan dengan cara mengubah hubungan yang bermasalah dengan lingkungan. Terdapat empat macam coping jenis tindakan langsung (Direct Action):
Mempersiapkan diri untuk menghadapi luka
Agresi
Penghindaran (Avoidance)
Apati
Peredaan atau peringanan (Palliation)
Pada Jenis coping ini mengacu pada mengurangi atau menghilangkan dan menoleransi tekanan-tekanan pada tubuh atau fisik, motorik atau gambaran afeksi dari tekanan emosi yang dibangkitkan oleh lingkungan yang bermasalah. Jenis coping ini diartikan juga bahwa bila seseorang menggunakan jenis coping ini, posisinya dengan masalah relative tidak berubah, yang berubah adalah diri seseorang, yaitu dengan cara merubah persepsi atau reaksi emosinya.
Ada dua macam coping jenis peredaan atau peringanan (palliation):
Diarahkan pada gejala (Symptom directed modes)
Cara intra psikis (Intrapsychicmodes)
Harber & Runyon (dalam GYA, HW, RD. 2018) menyebutkan beberapa jenis coping yang dianggap konstruktif, yaitu:
Penalaran (reasoning)
Objektifitas
Konsentrasi
Humor
Supresi
Toleransi terhadap kedwiartian atau ambiguitas
Empati
APA (dalam GYA, HW, RD. 2018) juga menyebutkan sejumlah coping yang sehat merupakan bentuk penyesuaian diri yang paling tinggi dan paling baik (high adaptive level) dibandingkan dengan jenis coping lain yang ada,yaitu :
Antisipasi
Afiliasi
Alturisme
Penegasan diri (Self assertion)
Pengamatan diri (Selft observation)
Perbedaan yang lain antara strategi pemecahan masalah adalah pendekatan yang mendekatkan pada inti masalah (Approach coping) dan pendekatan yang menghindar dari inti masalah (Avoidant coping), seperti pemecahan yang difocus pada masalah, yang berarti secara aktif terlibat dalam masalah. Seperti berpikir kritis dan kehirauan yang artinya membiarkan diri menyadari semua sisi dari masalah yang dihadapi. Avoidant coping yang berarti menyelesaikan masalah dengan mengusahakan untuk dapat mengabaikannya atau menghindarinya.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli, focus jenis coping pada pembahasan kali ini dengan menggunakan dua jenis coping stress yaitu emotional focused coping dan problem focused coping.
Sumber: Asih, Y, A, dkk. 2018. Stres Kerja. Penerbit Semarang University Press. Jl. Soekarno Hatta, Semarang.
Dessler, Gary. (2016). Manajemen Sumber Daya Manusia. Alih bahasa: Diana Angelica. Jakarta: Salemba Empat.
Hamzah, Helena Desfaroza. (2015). “Pengaruh Penempatan Kerja dan Deskripsi Jabatan (Job Description) Terhadap Prestasi Kerja Pegawai Pada Rumah Sakit Jiwa Prof HB. Sa’anin Padang”. Universitas Taman Siswa Padang.
Safaria,Triantoro dan Nofrans Eka Saputra. (2012). Manajemen Emosi. Jakarta: Bumi Aksara.
Santrock, J. W. (2012). Life Span Development. Perkembangan Masa- Hidup.Jilid 2. Alih Bahasa: Benedictine Widyasinta. Jakarta: Erlangga.
Penulis
Ns. Mewasusnita, S. Kep