Sering kali di perkembangan zaman era digital, sosial media menyuguhkan kehidupan yang sempurna, dimulai dari pekerjaan dengan gaji yang besar, wajah yang rupawan dengan segala kesempurnaan yang menyertai, harta yang berlimpah, sera lingkungan pergaulan luas yang banyak orang inginkan, sehingga ada segelintir orang yang menganggap hal tersebut adalah sesuatu yang harus mereka dapatkan juga tanpa menyadari kemampuan yang mereka miliki belum dapat untuk memenuhi keinginan definisi “kehidupan yang sempurna”. Dengan tidak tercapainya keinginan menimbulkan perasaan kesal, kecewa dan tidak puas dengan pencapaian diri atau gangguan pada tubuh serta pikiran yang biasa kita kenal dengan sebutan “Stres”. Menurut WHO (2003) stres yaitu respon tubuh terhadap stressor psikososial atau tekanan mental serta beban dalam kehidupan. Stres terdiri dari stres akut dan kronis dengan gejala yang berupa ringan hingga berat, stres yang berat dapat menimbulkan masalah pada aktivitas sehari-hari, sehingga berdampak pada fisiologis, psikologis dan perilaku. Dengan adanya hal tersebut dibutuhkan terapi untuk menangani stres akibat dari keinginan yang tidak dapat terpenuhi, yaitu dengan terapi realitas. Terapi realitas adalah terapi yang memfokuskan pada tingkah laku yang terjadi sekarang, terapi ini dapat dilakukan dengan seorang terapis yang dapat dijadikan sebagai contoh dengan menggunakan cara yang dapat membantu klien dalam menghadapi kenyataan serta memenuhi kebutuhan dasar tanpa merugikan orang lain, terapi realitas yaitu dengan cara memodifikasi tingkah laku klien, terapis juga berfungsi sebagai pembimbing klien dalam menilai tingkah lakunya sendiri sesuai dengan realita, Dalam proses terapi, terapis dapat menjadi pendengar aktif yang baik,seperti refleksi serta klarifikasi, sehingga terciptanya suasana yang nyaman bagi klien dalam berbagi gejolak dalam batinnya.   Terapi realitas ini dipopulerkan oleh William Glasser yaitu seorang psikolog dari Amerika Serikat, tujuan dari terapi realitas ini adalah mendukung individu agar dapat mengurus diri sendiri dengan mengembangkan rencana yang nyata dan realistik pada kehidupannya, terapi realitas memiliki sistem berupa WEDP, yaitu teknik dalam membantu klien dalam membuat pilihan hidup yang lebih baik, adapun sistem WEDP,yaitu W adalah Wants dalam hal ini berupa keinginan, terapis menanyakan keinginan klien, kebutuhannya dan tingkat komitmen klien, terapis membantu klien dalam mefokuskan pada hal-hal yang mungkin dapat dicapai klien serta memiliki tanggung jawab dalam mewujudkannya. D (Doing and Direction) Melakukan dan juga mengarahkan E (Evaluation) terapis membantu klien dalam mengevaluasi perilaku klien dengan kembali mengingat kebutuhan serta keinginan klien P (Planning) terapis mendampingi klien untuk membuat rencana tindakan selanjutnya. Teknik-teknik dalam terapi realitas Bermain peran atau role playing dengan klien Menyelipkan pembicaraan yang mengandung humor, agar suasana tidak tegang Mengajukan beberapa pertanyaan kepada klien Terapis memposisikan diri untuk tidak menerima alasan dari tingkah laku yang tidak bertanggung jawab Terapis berperan sebagai role model dan guru Terapis membuat kesepakatan batasan dan struktur pada sesi terapi Terapis mendukung atau melibatkan diri dalam perjuangan hidup klien untuk mencari hidup yang efektif Apabila terdapat tingkah laku klien yang tidak realistis, maka terapis harus mengkonfrontasikannya. Memberikan tugas untuk klien yang dapat dilaksanakannya pada pertemuan selanjutnya Menyarankan klien untuk membaca beberapa artikel atau bacaan yang relevan terkait masalah yang dialaminya. Membuat kesepakatan antara terapis dan klien Memberikan dukungan kepada klien untuk dapat bertanggung jawab dalam pilihan perilaku untuk mencapai suatu tujuan Berdebat secara konstruktif Mendukung pelaksanaan rencana yang dibuat klien Pengungkapan diri terapis dalam proses terapi Tahapan terapi realitas yaitu dengan membina hubungan saling percaya, mengidentifikasi keinginan dan tingkah laku sekarang, penilaian tingkah laku sekarang, komitmen dan terminasi. Proses terapi yaitu terapis berperan sebagai motivator, penyalur tanggung jawab, terapis memegang peranan dalam menentukan nilai dari tingkah laku yang dinyatakan oleh klien, terapis memegang peranan sebagai guru dan pengikat janji atau contractor. Diharapkan dengan adanya terapi realitas ini maka seseorang dapat berperilaku sesuai dengan pencapaian yang diharapkannya berdasarkan kemampuan yang dimiliki dan menyadari potensi dalam dirinya, serta seseorang memiliki pemikiran yang realistis, karena tidak semua hal yang diinginkannya berjalan mulus seperti yang diinginkan. Daftar Pustaka : Corey, Gerald. (2013) .Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Terjemah E. Koswara. Bandung. Refika Aditama. Donsu, Jenita DT. (2017). Psikologi Keperawatan. Yogyakarta : Pustaka Baru Press Glasser, W. (2010). Reality Therapy In Action. New York, NY, US: HarperCollins Publishers. Hasiana, Isabella. (2020). Pengaruh Terapi Realitas Dalam Menangani Perilaku Membolos Sekolah. JURNAL. Surabaya : Universitas PGRI Adi Buana Komalasari, G., Wahyuni, E., & Karsih. (2016). Teori dan teknik konseling. Jakarta: PT Indeks. Mahfuza F, Rizka. (2020). “Metode Pendekatan Konseling”. Jakarta : UPI YAI Priyoto. (2014). Konsep Manajemen Stres. Yogyakarta: Nuha Medika