Berdasarkan amanat Undang-Undang Dasar tahun 1945, kesehatan merupakan komponen utama dalam meningkatkan produktifitas sumber daya manusia. Peningkatan jumlah penyakit tidak menular adalah faktor penyebab utama penurunan fungsi kognitif  yang kelak akan meningkatkan prevalensi penyakit Alzheimer dan demensia lainnya pada kelompok lanjut usia. Penurunan fungsi kognitif berdampak pada menurunnya aktivitas sosial sehari-hari pada lanjut usia yang menjadi masalah dalam kesehatan masyarakat, dan berdampak pada bertambahnya pembiayaan kesehatan keluarga, masyarakat dan pemerintah. Pasien dengan Alzheimer dan demensia tidak akan dapat produktif lagi seperti sebelum terkena penyakit sehingga akan menurunkan tingkat produktivitas kerja. Karena salah satu sumber yang mempengaruh produktivitas adalah kesehatan. Definisi demensia menurut Unit Neurobehavior pada Boston Veterans Administration Medical Center (BVAMC) adalah kelainan fungsi intelektual yang didapat dan bersifat menetap, dengan adanya gangguan paling sedikit 3 dari 5 komponen fungsi luhur yaitu gangguan bahasa, memori, visuospasial, emosi dan kognisi. Jumlah orang yang terkena demensia di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Perkiraan jumlah pasien demensia menjadi lebih dari empat juta jiwa di tahun 2020 menurut World Report Alzheimer. Oleh karena itu diperlukan perhatian yang tinggi dari pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat untuk mencegah dan menanggulangi peningkatan jumlah orang dengan demensia. Salah satu caranya adalah mengupayakan kondisi otak yang tetap sehat. Kesehatan otak yang optimal akan diperoleh apabila upaya kesehatan dilakukan sejak dalam kandungan, bayi, balita, remaja, dewasa dan lanjut usia. Otak tidak sehat dan tidak produktif di masa tua tidak saja dapat mengakibatkan timbulnya masalah kesehatan dan masalah sosial tetapi juga menjadi beban ekonomi bagi keluarga maupun pemerintah. Adapun 10 gejala umum dari demensia harus disosialisasikan kepada masyarakat sejak dini, sehingga prognosis penyakit akan lebih baik dan penanganannya dapat dilakukan secara komprehensif. Gejala ini adalah gejala yang paling banyak muncul pada saat pasien menderita demensia. Gejala tersebut meliputi : Gangguan daya ingat            Pasien sering lupa kejadian yang baru saja terjadi, lupa akan janji yang dibuat, sering menanyakan dan menceritakan kembali hal yang sama berulang kali, lupa tempat menaruh kunci dalam frekuensi             yang sering.         2. Sulit fokus             Orang dengan demensia biasanya sulit melakukan aktivitas pekerjaan sehari-hari, contohnya lupa cara untuk memasak, mengoperasikan telpon atau handphone, tidak dapat melakukan perhitungan                uang yang sederhana, melakukan pekerjaan yang biasa dengan waktu yang lebih lama dari biasanya.        3.Sulit melakukan kegiatan yang biasa dilakukan            Pasien seringkali sulit untuk merencanakan atau menyelesaikan tugas sehari-hari yang biasa dilakukan, contohnya bingung dengan cara mengemudi, sulit untuk mengatur keuangan.         4. Disorientasi             Pasien akan bingung dengan waktu (hari/tanggal/hari penting), bingung dimana mereka berada dan bagaimana mereka bisa sampai di sana, tidak tahu jalan pulang kembali ke rumah.         5. Kesulitan dalam hal memahami visuospasial              Pasien akan sulit untuk membaca, mengukur jarak, menentukan jarak, membedakan warna, akan sulit untuk mengenali wajah sendiri.         6. Gangguan pada saat berkomunikasi              Pada saat pengamatan yang dilakukan oleh dokter, pasien akan kesulitan berbicara atau mencari kata yang tepat. Seringkali pasien berhenti di tengah percakapan dan bingung untuk melanjutkannya          7. Menaruh barang-barang tidak pada tempatnya              Pasien sering lupa dimana meletakkan barang, bahkan biasanya mereka kadang curiga ada yang mencuri atau menyembunyikan barang tersebut.          8. Sering salah dalam membuat keputusan              Contohnya adalah berpakaian tidak serasi, misalnya memakai kaos kaki kanan berwarna putih, kaos kaki kiri berwarna hitam, pasien tidak dapat merawat diri dengan baik.          9. Pasien menarik diri dari pergaulan sosial              Pasien tidak mempunyai inisiatif ataupun semangat untuk melakukan aktivitas sosial yang biasa dia lakukan, tidak bahagia ketika berkumpul dalam acara teman atau keluarga.         10. Perubahan dalam perilaku dan kepribadian               Emosi pasien dapat berubah secara drastis, sering menjadi curiga tak beralasan, malas, takut, kecewa, putus asa dalam berusaha. Daftar pustaka Alzheimer Disease’s International, 2013. Laporan Alzheimer Dunia Tahun 2013 Menyatakan Epidemis Alzheimer Sedunia Menyebabkan Keterbatasan Jumlah Para Perawat Dan Kekurangan Dukungan Bagi AnggotaKeluarga. Online tersedia http://www.alzheimerindonesia.org/ wp-content/uploads/2013/08/Siaran-Pers-World-Alzheimers-Report2013-INA-.pdf diakses 11 Oktober 2018 Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2010. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2010. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Online tersedia http://www.litbang.depkes.go.id/sites/download/buku_ laporan/lapnas_riskesdas2010/Laporan_riskesdas_2010.pdf diakses 11 Oktober 2018