Di sebuah Rumah Sakit Jiwa Sumber Daya Manusia (SDM) dan pelatihan petugas kesehatan merupakan bagian yang dapat mempengaruhi kualitas dari pelayanan kesehatan. Maka perlu adanya perhatian khusus dan upaya dalam menjaga SDM dan keahlian petugas kesehatan termasuk di bidang penanganan Orang Dengan Gangguan Jiawa.(OGJD).
Beberapa penelitian yang dilakukan menyebutkan bahwa jumlah tenaga kesehatan di Indonesia meningkat dalam hal kuantitas dan kualitas, namun persebarannya masih belum merata. Tidak meratanya distribusi dari profesi kesehatan dan keterampilan yang kurang menyebabkan hambatan dalam memberikan pelayanan kesehatan jiwa. Distribusi yang tidak merata dari pekerja profesi kesehatan yang terutamanya ketika terkait dengan kebijakan daerah tentang jumlah minimal pekerja profesional kesehatan, rendah gaji, kurangnya fasilitas dan ketidakpastian masa depan.
Menurut World Health Organization (WHO), Indonesia termasuk dalam 57 negara yang mengalami kriris tenaga kesehatan sehingga menyebabkan distribusi tenaga kesehatan di Indonesia tidak merata, padahal capaian 80% keberhasilan dalam pembangunan kesehatan ditentukan oleh tenaga kesehatan. Sedangkan berdasarkan hasil rekapitulasi Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (BPPSDMK) menyebutkan bahwa jumlah tenaga keperawatan sebanyak 296.876 jiwa namun distribusi masih belum merata.
Banyaknya jumlah tenaga kesehatan di Rumah Sakit Jiwa dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat dan kinerja dari petugas kesehatan. Sedangkan terbatasnya jumlah tenaga kesehatan menyebabkan tidak berjalannya program kesehatan jiwa dengan sebagaimana mestinya sehingga, kinerja petugas kesehatan menjadi rendah akibatnya tingkat kesembuhan ODGJ menjadi lebih lama atau tidak maksimal. Hal ini diperburuk lagi dengan sedikitnya jumlah petugas kesehatan yang mengikuti pelatihan. Sedikitnya jumlah petugas kesehatan yang mengikuti pelatihan karena adanya kendala pembiayaan.
Meningkatnya jumlah ODGJ dan seringnya kambuh ODGJ dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jumlah tenaga kesehatan yang kurang, kurangnya kesediaan keluarga dalam memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan karena terbatasnya ekonomi keluarga, terbatasnya akses pelayanan kesehatan, keengganan dari keluarga untuk mengantarkan ODGJ berobat karena merasa malu dan putus asa, kurangnya sosialisasi petugas kesehatan jiwa tentang pengadaan fasilitas kesehatan jiwa untuk menampung dan membina ODGJ dengan pendanaan Negara, dan kinerja petugas kesehatan rendah.
Pelayanan kesehatan yang buruk menimbulkan kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pelayanan kesehatan dalam menangani ODGJ. Petugas kesehatan dalam menjalankan program kesehatan jiwa perlu adanya pemahaman dan pengalaman agar dapat dengan mudah menyelesaikan tugas. Kejadian dan pengalaman yang pernah dirasakan atau dialami dapat dijadikan sebuah pembelajaran untuk mengasah softskill, potensi dan mampu menjalankan pekerjaan dengan baik sehingga meningkatkan kinerja perawat kesehatan jiwa dalam memberikan pelayanan kesehatan yang sesuai.
Hal Yang Dirasakan Dan Diperoleh Petugas Kesehatan Jiwa
Adapun hal yang dirasakan petugas kesehatan jiwa berasal dari luar (Ekstrinsik) dan dari diri sendiri (Intrinsik). Secara ekstrinsik yang didapatkan dirasakan oleh petugas kesehatan jiwa yaitu rasa kebahagiaan dan kepuasan setelah melihat ODGJ sembuh. Sebagian besar ODGJ dan keluarga merasa bosan untuk berobat sehingga membuat petugas kesulitan dalam memberikan pengobatan karena pengobatan yang dijalankan seumur hidup sehingga ketika melihat perkembangan positif dari ODGJ petugas merasa puas, hal tersebut tidak dicapai dengan mudah dan butuh waktu yang lama.
Sedangkan secara intrinsik hal yang di rasakan petugas kesehatan jiwa yang di munculkan dari diri sendiri yaitu proses adaptasi ketika menjadi petugas kesehatan jiwa, tidak sedikit petugas kesehatan yang menolak ketika pertama kali diberi tanggung jawab menjadi petugas kesehatan jiwa karena stigma yang masih melekat pada diri petugas kesehatan. Seiring berjalannya waktu petugas mulai belajar dan menerima apa yang telah diberikan dan perlahan menemukan passion baru dimana ketika petugas mulai menerima pekerjaan yang dijalankan mendapatkan suatu pembelajaran dari pengalaman ODGJ.
ODGJ sangat memerlukan dan membutuhkan peran serta dari petugas kesehatan dalam proses kesembuhannya karena, beberapa keluarga dan masyarakat terkadang menolak keberadaan mereka sehingga beban ini diberikan pada petugas. Petugas dalam menjalankan tanggung jawabnya dengan ikhlas dan memiliki niat yang tulus untuk beribadah menolong orang yang membutuhkan.
Keuntungan yang didapat petugas kesehatan jiwa yang tak ternilai adalah memiliki rasa syukur dan cukup terhadap diri sendiri, karena ODGJ memberikan banyak pelajaran untuk terus menjalani hidup dan menikmati hidup. Selain itu petugas kesehatan jiwa mulai mendapat perhatian khusus seperti, review, dapat inventaris khusus kendaraan dan tempat tinggal, pelatihan, seminar, izin belajr bagi petugas kesehatan jiwa, studi banding.dan masih banyak perhatian yang dicurahkan kepada petugas kesehatan jiwa. Hal tersebut dilakukan untuk menunjang kinerja petugas kesehatan jiwa agar dapat memberikan pelayanan terbaik bagi OGJD dan Masyarakat.
Hambatan Dalam Menjalankan Program Kesehatan Jiwa
Adapun hambatan yang dihadapi oleh petugas kesehatan berasal dari keluarga dan ODGJ, sebagian besar ODGJ berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah dan berpendidikan rendah sehingga tingkat pengetahuan rendah menyebabkan petugas kesulitan dalam memberikan penjelasan dan edukasi tentang kesehatan jiwa.
Dengan adanya tingkat pengetahuan yang kurang dapat juga menyebabkan dukungan keluarga berkurang karena keluarga merasa jenuh dan malu dengan kondisi ODGJ yang tidak bisa sembuh sehingga keluarga mulai menelantarkan ODGJ. Akibat lain dari kurangnya pengetahuan keluarga dan budaya yang ada di suatu daerah bahwa gangguan kesehatan jiwa identik dengan adanya roh halus yang mengikuti, sehingga untuk mencari pengobatan sebagian besar masih ke paranormal, sebagian yang telah kebingungan mencari bantuan ke pelayanan kesehatan. Namun tak sedikit yang telah rutin berobat ke puskesmas.
ODGJ yang telah lama menjalani pengobatan sebagian besar timbul rasa bosan karena setiap hari minum obat, sehingga memutuskan untuk mengakhiri pengobatan tanpa sepengetahuan petugas, ditambah kurang perhatianya keluarga sehingga dalam jangka waktu tertentu mengalami kekambuhan.
Lingkungan tempat tinggal juga mempengaruhi kesembuhan ODGJ, ketika lingkungan tidak mendukung maka akan menjadi hambatan dalam kesembuhan ODGJ dan bahkan dapat memperburuk kondisinya. Salah satunya yang dihadapi oleh ODGJ dari masyarakat adalah kurang dukungan masyarakat dan stigma negatif masyarakat. Hal ini menyebabkan keluarga merasa malu sehingga keluarga menyembunyikan atau memasung kembali ODGJ. Sementara program pemerintah adalah program bebas pasung tetapi adanya hal ini menyebabkan masih ada ODGJ yang dipasung oleh keluarganya.
Keluarga memilih memasung kembali bukan dengan tanpa alasan, alasan dasar agar ODGJ tidak berkeliaran mengganggu masyarakat. Walaupun keluarga menyadari tindakan pemasungan adalah tindakan yang melanggar HAM, namun hal ini lebih baik dilakukan dari pada ODGJ meresahkan serta membahayakan keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu petugas memiliki peran yang penting dalam upaya bebas pasung.
Peran petugas kesehatan jiwa dalam hal ini untuk memberikan pengobatan, perawatan, dukungan dan memberikan kegiatan-kegiatan positif bagi ODGJ, sehingga dapat membantu ODGJ untuk dapat kembali diterima oleh masyarakat. Namun, justru dibeberapa tempat peran petugas menjadi salah satu penghambat pemulihan ODGJ saat di masyarakat, hal itu dipicu oleh keterbatasan SDM (Sumber Daya Manusia). Jumlah petugas pemegang program jiwa di puskesmas hanya sedikit tidak sebanding dengan jumlah ODGJ di wilayah kerja puskesmas sehingga dalam pemberian pelayanan tidak bisa secara maksimal.
Perlakuan ODGJ Yang Diterima Petugas Kesehatan Jiwa Selama Menjalankan Program
Sebagian besar petugas kesehatan jiwa telah mengalami kekerasan baik secara fisik maupun secara verbal dari ODGJ yang menjalani perawatan. Sering kali terjadinya kekerasan fisik pada petugas kesehatan jiwa, dimana ketika ODGJ mengalami kondisi yang tidak stabil akan memiliki perilaku di luar control sendiri seperti memukul, meludah, melempar barang, dan menyiram air. Kekerasan verbal yang seringkali dialami oleh petugas kesehatan jiwa berupa ucapan kasar, dibentak bahkan ancaman.
Kekerasan fisik ataupun kekerasan verbal yang diterima oleh petugas tidak merubah persepsi petugas dalam memberikan pengobatan sesuai dengan tanggung jawab dan kemampuan petugas, petugas menganggap bahwa tindakan yang dilakukan oleh ODGJ adalah tindakan diluar control ODGJ dianggap sebagai hal yang wajar.
Cara Mengatasi Hambatan
Dalam mengatasi hambatan petugas kesehatan jiwa melakukan beberpa cara. Namun dalam menjalankan cara mengatasi hambatan petugas tidak bisa menjalankan sendiri dan perlu adanya kerja sama dengan lintas sektor. Sebelum melakukan kunjungan ke rumah ODGJ petugas lebih dulu meminta ijin dan melakukan pendekatan ke pihak perangkat pemerintahan setempat, tujuanya untuk membantu masuk ke dalam keluarga ODGJ dan menyampaikan tujuanya akan menangani ODGJ. Penanganan pasien gaduh gelisah dapat melibatkan sektor lain seperti satpol PP, koramil, kepolisian.
Keterlibatan lintas sektor mulai dari tingkat desa, kecamatan, kepolisian, koramil, dan satpol PP (Satuan polisi Pamong Praja) harus dikoordinasikan dengan baik oleh petugas kesehatan jiwa. Keterlibatan lintas sektor selain untuk membantu menangani pasien yang sulit ditangani sendiri misalnya pada pasien gaduh gelisah; bertujuan melaporkan; dan melibatkan dalam kegiatan dari puskesmasn yang melibatkan ODGJ.
Selain koordinasi dengan lintas sektor untuk meningkatkan kualitas pelayanan yaitu pelatihan tentang kesehatan jiwa. Untuk petugas pemegang program pelatihannya bernama CMHN, sedangkan dokter penanggung jawab mendapat pelatihan bernama PJ+. Setelah pelatihan kemudian petugas menerapkan ilmu yang didapatkan yaitu dengan melakukan sosialisasi dan memberikan health education ke ODGJ, keluarga dan masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan jiwa Pendidikan kesehatan sangat penting untuk diberikan terutama bagi keluarga, banyak keluarga yang tidak mengetahui bahwa apabila ODGJ mendapat mengobatan secara rutin dapat menjalankan aktitvitas kembali meskipun tidak seperti sebelum sakit.
Sumber : Fairuzahida, N. N. (2018) ‘Perilaku Keluarga Dalam Pengasuhan Orang Dengan Gangguan Jiwa Di Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar’, Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery), 4(3), pp. 228–234. doi:10.26699/jnk.v4i3.art.p228-234.
Lestari, dkk. (2020). Pengalaman Petugas Kesehatan Jiwa Dalam Menangani Orang Dengan Gangguan Jiwa (Odgj) Di Puskesmas Kabupaten Lamongan. Faculty of Nursing, Universitas Airlangga, Surabaya, East Java, Indonesia.
Penulis
Ns. Nurya, S. Kep