Komunikasi teraupetik sangatlah penting dalam praktek keperawatan, karena merupakan sarana untuk membina hubungan yang teraupetik antara perawat dengan pasien. Dalam proses komunikasi terjadi penyampaian informasi serta pertukaran pikiran dan perasaaan: dapat mempengaruhi pasien untuk mengubah kebiasaan yang kurang menunjang kesehatan menjadi suatu kebiasaan hidup yang sehat: membantu pasien agar mampu menghadapi kenyataan, sehingga ia dapat memahami diri sendiri lebih baik, serta mencapai tarap kemampuan beradaptasi yang baru sesuai dengan situasi yang dihadapinya; dan bagi perawat, memungkinkan untuk memperoleh umpan balik atas tindakan yang telah dilakukannya.
Penelitian yang telah dilakukan oleh mahasiswa di RSJD Prov.Kep.Bangka belitung yang berjudul faktor yang berhubungan dengan perawat dalam penerapan komunikasi teraupetik kepada pasien gangguan persepsi sensori halusinasi yang bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan perawat dalam penerapan komunikasi teraupetik kepada pasien gangguan persepsi sensori halusinasi di Rumah Skit Jiwa Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2018 dengan desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian cros sectional dan tehnik pengambilan sampel. Penelitian deskriptif kuantitatif, yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskrifsi tentang suatu keadaan secara objektif, dari 146 populasi dengan sampel sebanyak 117 orang
Hubungan penerapan komunikasi teraupetik pada pasien gangguan Persepsi Sensori Halusinasi, Komunikasi terapeutik adalah cara yang digunakan untuk mempengaruhi perilaku orang lain. Oleh karena itu komunikasi sangat penting untuk mencapai keberhasilan intervensi keperawatan, berdasarkan hasil penelitian univariat diatas bahwa penerapan komunikasi teraupetik pada pasien gangguan persepsi halusinasi di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2018 sebagian menunjukkan bahwa responden yang menyatakan tidak perna melakukan penerapan komunikasi terapeutik (0%), menjawab jarak melakukan komunikasi teraupetik sebanyak (0,9%), Menjawab kadang-kadang melakukan komunikasi teraupetik (51%), Menjawab sangat sering melakukan komunikasi teraupetik sebayak (77%) dan yang menjawab sering melakukan komunikasi teraupetik sebayak (68%) dari hasil penelitian penerapan komunikasi teraupetik persentasi yang lebih banyak menjawab penerapan komunikasi teraupetik yaitu sangat sering dibandingkan penerapan komunikasi teraupetik yang menjawab tidak perna, jarang, kadang kadang dan sering.
Hubungan pengetahuan dengan penerapan komunikasi terapeutik kepada pasien gangguan persepsi sensosi halusinasi, pengetahuan merupakan hasil pengindraan manusia terhadap objek diluarnya melalui pendengaran, penciuman, penglihatan dan sebagainya jadi dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dapat diukur atau diobservasi melalui apa yang diketahui tentang objek sehingga sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga dari hasil penelitian yang dilakukan bahwa makin tinggi pengetahuan perawat maka semakin baik juga dalam melakukan komunikasi terapeutik kepada pasien gangguan persepsi sensori halusinasi, sebaliknya semakin rendah pengetahuan perawat tentang komunikasi terapeutik kepada pasien gangguan persepsi sensori halusinasi kurang baik.
Hubungan sikap dengan penerapan komunikasi terapeutik kepada pasien gangguan persepsi sensori halusinasi ini merupakan respon atau reaksi sesorang yang masih tertutup pada stimulus atau objek, sikap individu dalam komunikasi dapat menghambat proses komunikasi, saat perawat berinteraksi sikap harus berhadapan, membungkukkan badan kearah pasien, sikap terbuka pada pasien, tetap rileks, mempertahankan kontak mata, mengangukkan kepala, tersenyum, menunjukkan perhatian, menunjukkan terkaitan, dari sejumlah 117 sampel yang menjawab sangat setuju (45%) yang menjawab setuju (38%), respon yang menjawab ragu-ragu (8%), dan responden yang menjawab sangat tidak setuju (4%). Dari hasil penelitian diketahui bahwa makin tinggi sikap perawat maka semakin baik juga dalam melakukan komunikasi terapeutik kepada pasien gangguan persepsi sensori halusinasi, sebaliknya semakin rendah sikap perawat tentang komunikasi terapeutik kepada pasien gangguan persepsi sensori halusinasi kurang baik.
Daftar Pustaka
Anna keliat, Budi (2005). Keperawatan jiwa. Jakarta: Buku kedokteran
Data dari RM RSJD Sungailiat Tahun 2018
Azhar, Khairul. (2011) Teori tindakan sosial. Hhtp://Khairul Azhar.blospot.com
Bakri. Maria (2014. Asuhan Keperawatan keluarga yogyakarta: pustaka mahardika
Penulis
Yesika Manalu,S.Kep,Ns