Perawat merupakan tenaga kesehatan yang bertugas sepanjang waktu dan memberikan pelayanan optimal. Meskipun perawat bekerja dengan waktu yang intensif, terlebih pada perawat yang bertugas diruang Intensive Care Unit (ICU) dan IGD karena mempunyai tekanan kerja yang tinggi seperti bekerja diruang tertutup, rawan terserang infeksi dan juga pekerjaan yang monoton, diharapkan perawat memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien, tantangan terbesar terjadi ketika perawat tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan optimal. Jumlah perawat paling mendominasi dibanding tenaga kesehatan lainnya, perawat juga yang paling lama menjalin hubungan dengan pasien serta keluarganya. Dan jumlah perawat lebih mendominasi dibandingkan dengan jumlah tenaga kesehatan lainnya namun masih banyak rumah sakit yang jumlah perawatnya tidak sebanding dengan kerja yang diberikan sehinga banyak perawat yang mengalami Stres kerja. Kompleksnya tuntutan pekerjaan yang ada menyebabkan profesi perawat sangat rentan mengalami burnout. Burnout merupakan kondisi psikologi yang ditandai dengan gejala kelelahan emosional, sikap sinisme dan ketidakmampuan diri dalam menyelesaikan pekerjaannya, akibat dari tuntutan pekerjaan yang tinggi A.Tanda dan Gejala Burnout Pada Tenaga Kesehatan 1.Fatiqu / kelelahan ekstrem, merasa lelah terus-menerus meskipun sudah cukup beristirahat. 2.Adanya penurunan empati seperti adanya sikap sinis, dingin, atau mudah tersulut emosi pada pasien maupun rekan kerja. 3.Rasa tidak berdaya, merasa kurang berkompeten, tidak produktif, atau merasa  tidak dihargai. 4.Gangguan fisik seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, nyeri otot, hingga gangguan pola tidur. 5.Adanya Gangguan masalah psikologis seperti kecemasan, mudah putus asa, bahkan risiko depresi. B.Faktor Penyebab Burnout Pada Tenaga Kesehatan 1.Lama bekerja berpengaruh negatif terhadap burnout 2.Usia berpengaruh negatif terhadap burnout 3.Beban kerja berpengaruh positif terhadap burnout  4.Lingkungan kerja berpengaruh negatif terhadap burnout tenaga Kesehatan 5.Konflik kerja berpengaruh positif terhadap burnout 6.Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi berpengaruh negatif terhadap burnout.  7.Keterbatasan sumber daya, peralatan medis yang terbatas, ruang rawat yang penuh, hingga kurangnya staf pendukung. C.Dampak Burnout  1.Terhadap Tenaga Kesehatan Menurunnya kualitas hidup, peningkatan risiko penyakit kronis, dan gangguan psikologis. 2.Terhadap Pasien  Menurunnya kualitas pelayanan, risiko kesalahan medis meningkat, serta berkurangnya kepercayaan pasien terhadap tenaga kesehatan. D.Penanganan burnout Pada Tenaga Kesehatan 1.Melakukan relaksasi, meditasi, yoga, atau teknik pernapasan dalam. 2.Memberikan pelatihan manajemen stres dan resiliensi, membantu tenaga kesehatan lebih siap menghadapi situasi darurat maupun tekanan emosional. 3.Menjaga pola tidur cukup, makan sehat, olahraga rutin, dan hidrasi optimal. 4.Konsultasi profesional, mencari bantuan psikolog atau konselor bila gejala burnout semakin berat. 5.Memberikan penghargaan atas kinerja tenaga kesehatan dapat meningkatkan motivasi dan rasa dihargai. 6.Rotasi tugas dan jadwal seimbang, memberikan waktu istirahat cukup serta menghindari overload pada satu tim. 7. Ketersediaan fasilitas kesehatan mental, menyediakan akses konseling internal atau psikolog di rumah sakit.       Daftar Pustaka 1.https://rs-jih.co.id/rsjih/article-detail/burnout-pada-tenaga-kesehatan-... 2.https://d4tlm.umsida.ac.id/burnout-tenaga-kesehatan-kualitas-layanan/ 3.https://ejournal.urindo.ac.id/index.php/MARSI/article/view/7203/2434 4.http://repository.alifah.ac.id/id/eprint/2761/2/Skripsi%20Resti%20monica...