Latar Belakang Perawatan berpusat pada pasien adalah pendekatan inovatif untuk perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi perawatan kesehatan yang didasarkan pada kemitraan yang saling menguntungkan antara penyedia layanan kesehatan, pasien, dan keluarga. Perawatan pasien dan keluarga berpusat pada pasien dari segala usia, dan dipraktekkan di tempat perawatan kesehatan manapun (Australian Commission on Safety and Quality in Health Care, 2010). Perawatan yang berpusat pada pasien adalah suatu model pendekatan yang memandang pasien secara holistik lebih berfokus pada orangnya, daripada kondisi penyakitnya. Perawat merupakan komponen yang vital dari tenaga kesehatan karena perawat berperan sebagai penghubung bagi pasien terhadap profesi kesehatan lainnya (Ghebrehiwet, 2011). International Council of Nurses (ICN), Kode Etik Perawat, menegaskan bahwa “perawat mendukung hubungan kerjasama dengan rekan kerja dalam keperawatan maupun bidang lainnya”. Peranan perwat sangat penting dalam memberikan pelayanan berpusat pada pasien. Penerapan Patient Centre Care (PCC) Sesuai dengan tuntutan akreditasi rumah sakit, menyatakan bahwa tanggung jawab rumah sakit dan staf adalah memberikan asuhan dan pelayanan yang efektif dan aman bagi pasien. Asuhan dan pelayanan pasien ini diberikan secara terkoordinasi dan terintegrasi oleh semua Profesional Pemberi Asuhan (PPA) dan dibantu oleh staf klinis lainnya dengan menggunakan alur klinis (clinical pathway) dan perencanaan pemulangan pasien yang terintegrasi/integrated discharge palnning (Komisi Akreditasi Rumah Sakit, 2017) Clinical Pathway sudah lama dikembangkan dan digunakan dengan tujuan untuk mencapai pelayanan bermutu dan berkualitas yang berorientasi keselamatana pasien. Namun dalam pembentukan dan pengembangan CP membutuhkan waktu  yang relatif lama mengingat dalam satu format dokumentasi CP tersebut hanya digunakan untuk satu diagnosa spesifik sehingga untuk masing-masing diagnosa membutuhkan format sendiri yang tentunya berbeda satu sama lainnya. Hal ini akan menghasilkan format yang banyak sesuai dengan jenis pelayanan yang ada di suatu rumah sakit (Yasman, Y, 2012). Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas pelayanan di rumah sakit dikembangkan Sistem Informasi Manajeman (SIM) rumah sakit yang dapat memudahkan proses perawatan pasien dan memiliki akses komunikasi yang tinggi dan cepat yang berorientasi patient safety. KAJIAN LITERATUR Program CP terintegrasi di gunakan sebagai alat potensial untuk peningkatan kualitas dan  daya tariknya yang luar biasa karena metode multidisiplin ilmu dan profesi, fokusnya adalah pada proses dan hasil perawatan, dan mengurangi variasi perawatan yang tidak perlu. CP merupakan intervensi terintegrasi yang meliputi dokter, perawat dan tenaga kesehatan lain untuk menyelesaikan suatu diagnosis atau prosedur yang partikular. Sekarang CP didefinisikan sebagai intervensi yang komplek untuk pembuatan keputusan yang mutual dan mampu diprediksi oleh organisasi untuk memberikan pelayanan yang baik bagi pasien sebagai periode perawatan (Sung et al., 2013). Keberhasilan pelaksanaan CP sangat tergantung kepada keterlibatan dan peran serta dari pemberi pelayanan klinik dan manajer. Keterlibatan semua staf yang relevan sangat penting untuk memastikan implementasi penggunaan CP di rumah sakit (Evans-Lacko, Jarrett, McCrone, & Thornicroft, 2010)  Implementasi yang baik dari CP membuat adanya integrasi dan komunikasi yang adekuat dari tenaga kesehatan. CP bisa digunakan diperawatan primer, pelayanan kesehatan jiwa dan perawatan paliatif (Rankin et al., 2015). CP menyediakan kualitas yang tinggi dari pelayanan dan meminimalkan pelayanan yang tidak diperlukan. Hal ini menyebabkan CP dapat diintegrasikan dalam pelayanan kesehatan. Keuntungan dari CP antara lain: (1) mengukur perkembangan kesehatan pasien. (2) CP efektif dalam membangun kerjasama dalam pembuatan keputusan untuk pasien. (3) Meningkatkan kepercayaan antar tim multidisiplin. (4) Mempermudah sistem pembayaran sehingga pasien dapat mengetahui anggaran yang harus disediakan untuk perawatan yang akan dilakukan.Selain kelebihan yang di miliki terdapat pula kelemahan yaitu pelaksanan CP hanya dapat dilakukan oleh tenaga profesi dan tingkat pendidikan tenaga kesehatan sangat mempengaruhi  pengetahuan yang sesuai CP memiliki banyak hal untuk ditawarkan kepada organisasi perawatan kesehatan dan dokter praktik individu. Ini menyediakan fasilitas proaktif yang dimiliki secara lokal dimana tim multidisiplin dapat secara kritis meninjau dan memperbaiki proses dan praktik pemberian perawatan mereka terhadap pencapaian hasil klinis yang disepakati melalui penyediaan praktik terbaik yang tersedia dalam sumber daya yang ada. CP juga merupakan sarana untuk pengelolaan sumber daya yang efisien, penyediaan informasi lebih lanjut kepada pasien dan audit klinis. Sebuah studi kualitatif ditemukan bahwa perawat secara positif menganggap EMR membantu dalam pekerjaan sehari-hari mereka di rumah sakit. Perawat melaporkan bahwa memasukkan, mengakses, dan membaca data mudah dilakukan dengan EMR dan bahwa EMR kemungkinan akan menghilangkan banyak dokumen dan memperbaiki kemampuan mereka untuk memantau kemajuan pasien dan mengurangi beban kerja mereka. Perawat juga merasa bahwa mereka saat ini mampu menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dibandingkan dengan sistem manual yang masih menggunakan kertas dan pena sebelumnya di rumah sakit mereka. (Top, Yilmaz, & Gider, 2013). Perawat sebagai sentral pelayanan kesehatan bagi pasien tentu saja berperan besar terhadap kebutuhan dasar pasien. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa pemberian asuhan dengan menggunakan EMR  memiliki efek yang signifikan dibandingkan dengan menggunakan kertas (Top et al., 2013) dan (Kern, Barrón, Dhopeshwarkar, Edwards, & Kaushal, 2013). Clinical decision support (CDS) yang disampaikan melalui electronic health record (EHR) menyediakan metode inovatif dan terukur untuk mengintegrasikan CP ke dalam perawatan rutin dalam sistem kesehatan yang besar. Penggunaan CDS yang terkait dengan EHR dapat membantu membatasi kebutuhan akan pelatihan perawat atau penyedia layanan dan memastikan bahwa pedoman yang ditargetkan ditampilkan pada titik perawatan. Hasil studi menunjukkan bahwa CDS yang dihubungkan dengan EHR dapat memperbaiki kepatuhan terhadap pedoman operasional (Kharbanda et al., 2016).  Penelitian tentang penggunaan Elektronic medical record (EMR) sudah sangat banyak dilakukan (Manca, 2015). Dalam pelaksanannya ada beberapa hal yang menjadi faktor penghalang yang menghambat keterlibatan dan penerapan secara klinis CP mungkin terjadi pada staf (klinis atau manajemen) atau organisasi kesehatan (manajemen, sumber daya, dan struktur keuangan atau kelembagaan) atau dipengaruhi oleh faktor eksternal (kebijakan sosial atau karakteristik pasien) (Evans-Lacko et al., 2010) Kendala yang ada dalam mengembangkan CP adalah adanya variasi dalam pendekatan institusi terhadap pemilihan topik, komposisi tim, dokumentasi sistem manajemen CP dan variasi pelayanan yang tidak perlu. CP dapat mengurangi lama rawat dan penggunaan sumber daya yang tidak perlu (cost efektif). KESIMPULAN Pelayanan kesehatan yang berfokus pada pasien dapat terwujud dengan adanya kerjasama dari seluruh tenaga kesehatan. Kolaborasi interprofesional mampu menciptakan keselarasan regimen perawatan yang diberikan kepada pasien, sehingga pelayanan menjadi holistik dan berkualitas. Kolaborasi ini salah satunya diaplikasikan dalam bentuk clinical pathway yang didalamnya mengandung tentang intervensi yang terintegrasi antar tenaga medis. Clinical pathway diimplementasikan oleh dokter, perawat, ahli gizi, maupun apoteker untuk mencapai kesembuhan bagi pasien. Clinical pathway sebelumnya dibuat menggunakan kertas dan diisi secara manual oleh tenaga medis mengikuti panduan pengisian. Perkembangan IT dan perkembangan metode pelayanan kesehatan berbasis komputerisasi menyebabkan dibentuknya elektronik clinical pathway. Inovasi ini dibuat agar tercipta kemudahan pengisian data perawatan pasien, selanjutnya data tersebut akan tersimpan dengan baik di dalam database rumah sakit. Manfaat lainnya adalah inovasi dalam penghematan kertas dan waktu untuk melakukan integrasi kerjasama antar tenaga medis. REKOMENDASI Rekomendasi yang dapat diberikan adalah penerapan clinical pathway seyogyanya diimplemtasikan secara umum diseluruh pelayanan kesehatan karena mampu meningkatkan kualitas pelayanan. Clinical pathway berbasis elektronik juga penting untuk diaplikasikan karena sesuai dengan perkembangan IPTEK dan memudahkan intergasi kerjasama antar tenaga medis yang terlibat. Regulasi secara nasional juga perlu dibentuk agar penerapan penggunaan clinical pathway di tatanan pelayanan kesehatan menjadi suatu kewajiban. Teknologi ini sangat mungkin diterapkan di Indonesia seiring dengan perkembangan ilmu teknologi dan sistem komputerisasi dokumen rekam medik pasien. Apabila rumah sakit telah menerapkan sistem rekam medik elektronik maka proses adopsi clinical pathway  didalamnya akan lebih cepat. Daftar Pustaka Australian Commission on Safety and Quality in Health Care. (2010). Patient - Centred Care: Improving Quality and safety by focusing care on Patients and Consumer (Discussion Paper), (September), 1–75. Donald, M., McBrien, K., Jackson, W., Manns, B. J., Tonelli, M., King-Shier, K., … Hemmelgarn, B. R. (2016). Development and implementation of an online clinical pathway for adult chronic kidney disease in primary care: a mixed methods study. BMC Medical Informatics and Decision Making, 16(1), 109. https://doi.org/10.1186/s12911-016-0350-z Evans-Lacko, S., Jarrett, M., McCrone, P., & Thornicroft, G. (2010). Facilitators and barriers to implementing clinical care pathways. BMC Health Services Research, 10, 182. https://doi.org/10.1186/1472-6963-10-182 Ghebrehiwet, T. R. P. (2011). FROM THE THIRD GENEVA CONFERENCE ON PERSON-CENTERED MEDICINE : THE TEAM APPROACH IN PERSON-CENTERED HEALTH CARE Nurses and Person - Centred Care. The International Journal of Person Centered Medicine, Volume 1(Issue 1), pp 20-22. Kern, L. M., Barrón, Y., Dhopeshwarkar, R. V., Edwards, A., & Kaushal, R. (2013). Electronic health records and ambulatory quality of care. Journal of General Internal Medicine, 28(4), 496–503. https://doi.org/10.1007/s11606-012-2237-8 Kharbanda, A. B., Madhok, M., Krause, E., Vazquez-Benitez, G., Kharbanda, E. O., Mize, W., & Schmeling, D. (2016). Implementation of Electronic Clinical Decision Support for Pediatric Appendicitis. Pediatrics, 137(5), e20151745–e20151745. https://doi.org/10.1542/peds.2015-1745 Komisi Akreditasi Rumah Sakit. (2017). Standar Akreditasi Nasional Rumah sakit (I). Manca, D. P. (2015). Rebuttal: Do electronic medical records improve quality of care? YES. Canadian Family Physician, 61, e435. Rankin, N. M., Butow, P. N., Thein, T., Robinson, T., Shaw, J. M., Price, M. a, … Grimison, P. (2015). Everybody wants it done but nobody wants to do it: an exploration of the barrier and enablers of critical components towards creating a clinical pathway for anxiety and depression in cancer. BMC Health Services Research, 15, 28. https://doi.org/10.1186/s12913-015-0691-9 Sung, K. H., Chung, C. Y., Lee, K. M., Lee, S. Y., Ahn, S., Park, S., … Park, M. S. (2013). Application of clinical pathway using electronic medical record system in pediatric patients with supracondylar fracture of the humerus: a before and after comparative study. BMC Medical Informatics and Decision Making, 13(1), 1. https://doi.org/10.1186/1472-6947-13-87 Top, M., Yilmaz, A., & Gider, Ö. (2013). Electronic Medical Records (EMR) and Nurses in Turkish Hospitals. Systemic Practice and Action Research, 26(3), 281–297. https://doi.org/10.1007/s11213-012-9251-y