Pasien dengan gangguan jiwa tinggal di rumah dengan beberapa anggota keluarga, baik bersama  keluarga inti maupun bersama keluarga besar. Meskipun terdapat beberapa anggota, namun ada anggota keluarga yang peduli dengan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), baik dalam merawat, pengobatan, maupun dalam memenuhi kebutuhan ODGJ yang disebut dengan caregiver. Menurut Awad dan Voruganti (2008), caregiver adalah seseorang yang merawat dan mendukung kehidupan ODGJ. Pada penelitian ini, semua caregiver ODGJ berasal dari keluarga inti, yaitu orang tua dan saudara kandung. Anggota keluarga yang menjadi  caregiver beperan dalam pemenuhan kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, dan papan. Caregiver juga berperan dalam perawatan dan pengobatan ODGJ selama di rumah. Oleh karena itu, peran caregiver sangat besar dalam proses pemulihan penyakit ODGJ. Peran yang sangat besar yang dimiliki oleh caregiver, dapat menimbulkan beban tersendiri, baik beban tenaga, beban ekonomi, maupun beban perasaan. Menurut Halida (2015), ketergantungan ODGJ terhadap keluarga yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan perawatan diri antara lain ketergantungan ODGJ dalam makan, minum, cukur rambut, berpakaian, eliminasi, istirahat/ tidur, dan interaksi. Selain ketergantugan pemenuhan kebutuhan perawatan diri, ODGJ juga mengalami ketergantungan dalam bidang ekonomi. Besarnya ketergantungan ODGJ dalam pemenuhan kebutuhan perawatan diri dan ekonomi, menimbulkan beban yang besar pula bagi caregiver. Beban-beban yang dialami oleh caregiver muncul dikarenakan caregiver lebih sering bersama-sama dengan ODGJ dibandingkan dengan anggota keluarga yang lain. Frekuensi interaksi bertemu dengan ODGJ yang lebih tinggi tersebut menyebabkan peluang tindakan kekerasan yang dilakukan juga menjadi lebih besar. Oleh karena itu, caregiver utama harus siap dan mampu merawat ODGJ di rumah. Kesiapan dan kemampuan keluarga dalam melakukan perawatan lanjutan di rumah harus diidentifikasi oleh petugas kesehatan sebelum ODGJ dipulangkan dari rumah sakit. Pada penelitian ini, seluruh partisipan adalah penderita skizofrenia. Caregiver yang merawat ODGJ dengan skizofrenia memiliki beban yang lebih besar dibandingkan dengan ODGJ dengan diagnosa medis yang lain. Penelitian Koujalgi dan Patil (2013) menyatakan bahwa caregiver penderita skizofrenia mengalami tingkat beban yang lebih tinggi dibanding caregiver penderita depresi. Nilai Family Burden Interview Schedule (FBIS) meningkat secara signifikan pada caregiver penderita skizofrenia dibandingkan dengan caregiver penderita depresi. Hal ini dikarenakan ODGJ sulit mendapatkan pekerjaan dan menikah. Konsekuensinya adalah beban caregiver semakin besar karena harus merawat ODGJ dalam jangka waktu yang lama. Beban yang dimiliki menjadi permasalahan tersendiri bagi caregiver yang dapat mempengaruhi sikap caregiver dalam merawat ODGJ di rumah. Sikap dan perilaku caregiver dalam merawat ODGJ merupakan satu kesatuan yang disebut dengan ekspresi emosi. Ekspresi emosi yang dimiliki oleh keluarga dapat terbagi menjadi ekspresi emosi tinggi dan ekspresi emosi rendah. Bentuk ekspresi emosi rendah adalah kehangatan dan komentar positif, sedangkan bentuk ekspresi emosi tinggi antara lain kritikan, overprotektif, dan permusuhan. Pada penelitian ini, kekerasan yang dilakukan oleh caregiver utama merupakan bentuk ekspresi emosi tinggi caregiver utama terhadap ODGJ. Kekerasan merupakan bentuk sikap dan perilaku permusuhan. Ekspresi tinggi tersebut muncul dikarenakan caregiver memiliki beban dalam merawat ODGJ. Penelitian Darwin (2013) menyatakan bahwa adanya hubungan yang bermakna antara beban perawatan dengan ekspresi emosi. Caregiver utama yang memiliki ekspresi emosi tinggi menjadi salah satu faktor penyebab ODGJ mengalami kekambuhan. ODGJ yang berada di lingkungan dengan ekspresi emosi tinggi memiliki rata-rata kekambuhan sebesar 45%, sedangkan ODGJ yang berada di lingkungan dengan ekspresi emosi rendah memiliki rata-rata kekambuhan hanya 21% (Yusuf, 2009). Oleh karena itu caregiver utama harus memiliki ekspresi emosi rendah dalam merawat ODGJ. Caregiver utama yang memiliki ekspresi emosi rendah mampu menunjukkan sosok yang dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi ODGJ. Pada penelitian ini, ODGJ tidak menemukan sosok caregiver utama yang demikian. ODGJ justru menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh caregiver utama. Caregiver utama ODGJ pada penelitian ini yaitu ayah, ibu, dan kakak kandung. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa keluarga bukanlah tempat yang aman dan nyaman bagi ODGJ. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Oram, Trevillion, Feder, dan Howard (2013) yang menyatakan bahwa ODGJ mempunyai resiko yang lebih tinggi mengalami kekerasan di dalam keluarga dibandingkan dengan populasi yang lain. Oleh karena itu, keluarga yang menjadi caregiver utama perlu mendapatkan perawatan dari petugas kesehatan sehingga beban yang dialami oleh keluarga dapat teratasi.   DAFTAR PUSTAKA Awad, A. G., & Voruganti, L. N. (2008). The Burden of Schizophrenia on Caregivers. Journal of Pharmacoeconomics, 26(2), 149-162. Darwin, P. (2013). Hubungan antara Beban Perawatan dengan Ekspresi Emosi serta Faktor-Faktor yang Berhubungan pada Pramurawat Pasien Skizofrenia di RSJ Islam Klender Jakarta Timur. Tesis FK UI. (Tidak Dipublikasikan) Halida, N. (2015). Pengalaman Keluarga dalam Pemenuhan Kebutuhan Perawatan Diri pada Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dengan Pasung di Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember. http://repository.unej.ac.id/handle/123456789/65879 Koujalgi, S. R., & Patil, S. R. (2013). Family Burden in Patient with Schizophrenia and Depressive Disorder: A Comparative Study. Indian Journal of Psychological Medicine, 35(3), 251–255. http://doi.org/10.4103/0253-7176.119475 Oram, S., Trevillion, K., Feder. G., & Howard, L. M. (2013). Prevalence of Experiences of Domestic Violence Among Psychiatric Patients: Systematic Review. HowardThe British Journal of Psychiatry 202, 94–99. doi: 10.1192/bjp.bp.112.109934 Yusuf, A. J., Nuhu, F. T., & Akinbiyi. (2009). A Caregiver Burden Among Relatives of Patients with Schizophrenia in Kastsina, Nigeria. SAJP. Vol. 15. No. 2, 43-47