Rumah Sakit Jiwa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan tempat pelayanan kesehatan jiwa dan kesehatan fisik  bagi yang memerlukan kesehatan, Setiap hari Rumah Sakit jiwa banyak dikunjungi orang rata-rata jumlah kunjungan perhari 50 orang pasien belum ditambahkan dengan pendamping pasien yang datang berobat kerumah sakit jiwa. Dan  Rumah Sakit Jiwa juga memiliki ruang Rehabilitasi Napza  dan pada Tahun 2015 sudah menerima rawatan sampai dengan sekarang. Dan dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2017 Rehabilitasi Napza sudah merawat residen kurang lebih 163 orang. Dan pada tahun 2017 menurut data rekam medis RSJD Sungailiat penyalahgunaan/ ketergantungan napza terdapat pada urutan kedua dari sepuluh besar penyakit yang berobat ke RSJD, dimana yang pertama yaitu Skizofrenia Paranoid dan urutan kedua ketergantungan Napza, urutan ketiga Skizofrenia Hebefrenik, urutan keempat Gangguan Psikotik Akut, urutan kelima Skizoafektif tipe dafresif, urutan keenam skizoafektif tipe manik, urutan ketujuh gangguan afektif bipolar, urutan kedelapan Skizofrenia Katatonik, urutan kesembilan Observasi, urutan kesepuluh gangguan mental organik.  Dan berdasarkan dari penjelasan yang di dapatkan dari perawat di ruang rehabilitasi napza setiap awal residen masuk per-tiga bulan sekali di nyatakan sembuh dan dipulangkan setelah menjalankan program rehabilitasi dan tidak menggunakan narkoba sewaktu di rumah sakit. Berdasarkan uraian diatas maka mahasiswa melakukan penelitian tentang analisis keberhasilan perawatan residen ketergantungan Napza di ruang rehabilitasi napza Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada bulan Juni 2018, tujuan penelitiannya yaitu untuk mengetahui secara medalam tentang analisis keberhasilan perawatan residen ketergantungan napza di ruang rehabilitasi napza Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Analisis keberhasilan Yang pertama yaitu tentang pengobatan dengan ketergantungan napza di ruang rehabilitasi napza RSJD, Pengobatan pada residen ketergantungan napza yang pertama dilihat sejauh mana residen ketergantungan obatnya, apakah sudah masuk kegangguan jiwa (psikotik) atau gangguan umum (fisik), lalu dilakukan terapi detoksifikasi selama 2 minggu untuk memutuskan zat yang ada di tubuh residen, dengan cara residen dimasukkan ke dalam suatu ruangan kosong yang memang tidak di obati walaupun dia menggigil karena disitulah dia merasakan istilahnya putus obat. Analisis keberhasilan Yang kedua yaitu konseling adiksi dengan ketergantungan napza konseling adiksi merupakan proses komunikasi dua arah antara konselor dan klien untuk mengetahui permasalahan, memberi penguatan (motivasi) dalam menghadapi masalah dan keinginan untuk menggunakan narkoba kembali. Perlu dilakukan wawancara mendalam pada residen ketergantungan napza proses pertama langsung tatap muka membina hubungan  saling percaya dan memberi kepercayaan dengan memberitahu tujuan untuk pemulihan setelah itu residen akan timbul kepercayaan karna sulit seorang adiksi ataupun pemakai narkoba menerima untuk dilakukan konseling untuk mengikuti program rehabilitasi maka akan terjadi peningkatan keberhasilan dalam program rehabilitasi yang dijalani selama tiga bulan sehingga residen memahami SOP yang akan dijalankan selama tiga bulan kedepan mulai dari masuk sampai dengan pulang. Analisis keberhasilan ketiga yaitu dengan melakukan terapi aktifitas kelompok pada residen ketergantungan napza mereka terbentuk dalam suatu kelompok saling terbuka satu sama lain, saling peduli, saling bertukar pikiran dan mereka diajarkan untuk bertanggung jawab dalam melakukan kesalahan serta mereka juga di berikan kesibukan-kesibukan yang bermamfaat untuk mengalihkan dari kecanduannya dan hal ini dilakukan selama perawatan. Analisis keberhasilan keempat yaitu adanya dukungan keluarga, dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap anggota keluarga sedang menjalankan rehabilitasi dengan dukungan keluarga pada residen ketergantungan napza sangat mendukung karena keluarga pintu utama untuk kesembuhan residen, selama residen dirawat keluarga menjenguk setiap dua minggu sekali pada hari sabtu dan minggu untuk memberi dukungan baik secara materi maupun moril sejalan dengan penelitian Ibnul Aljauzi tentang pengaruh motivasi individu, dukungan keluarga dan lingkungan sosial terhadap peningkatan keberhasilan rehabilitasi diwilayah kerja badan narkotika nasional provinsi sulawesi selatan karena terdapat pengaruh yang signifikan antara dukungan keluarga terhadap peningkatan keberhasilan Rehabilitasi napza. Daftar Pustaka Data dari  RM RSJD Tahun 2018 Hawai, D. (2009), Penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA, Edisi 3 Jakarta: FKUI Ibnul, A (2016 oktober), pengaruh  motivasi individu, dukungan keluarga dan lingkungan sosial terhadap peningkatan keberhasilan rehabilitasi diwilayah kerja badan narkotika nasional provinsi sulawesi selatan. Jurnal mirai management, artikel 1 diakses 28 maret 2018 dari http// journal.stieamkop.ac.id>mirai>download Febrianti, 2014:37, Dukungan keluarga terhadap pengaruh kesembuhan anggota keluarga