Indonesia merupakan salah satu negara dengan iklim tropis. Penyakit kulit sangat umum di temukan. Ada banyak macam penyakit kulit, yang paling sering kita temui yaitu panu atau biasa yang disebut masyarakat umum dengan istilah “duit logam”. Meski terkesan sepele penyakit kulit bisa sangat mengganggu aktivitas hingga rasa percaya diri orang mengalaminya. Penyakit yang dalam dunia medis dikenal dengan Tenia Vesikolor atau Pityriasis Versikolor. Faktornya bermacam-macam, mulai dari suhu, lingkungan atau bahkan dari prilaku personal hygiene orang tersebut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Awal Anugrah Fabe, dkk dengan judul “Hubungan Prilaku Personal Hygiene Dengan Kejadian Pitiriasis Versikolor Pada Pasien Jiwa di Runag Merak Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat tahun 2012”. Dengan hasil penelitian ada 82 % pasien yang mengalami Tenia Vesikolor. Berdasarkan hasil surveilans IPCN (komite PPI) di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung setiap bulan yang banyak di temukan adalah Tenia Vesikolor atau panu. Salah satu contoh data pada bulan maret 2018 ada 44 %  pasien yang mengalami Tenia Vesikolor dari ke tujuh indikator HAiS yang ada di komite PPI. Ada banyak macam faktor yang berhubungan dengan resiko penyakit kulit di antaranya prilaku kebersihan diri dan kondisi sanitasi lingkungan. Prilaku kebersihan diri adalah tindakan seseorang atau kejadian (kebersihan rambut, kaki, tangan, kuku, kulit, berpakaian). Yang dilakukan oleh seseorang baik langsung maupun tidak langsung untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatan kebersihan dirinya serta mencegah resiko penyakit (Laily Isro’in & Sulistyo Andarmoyo, 2012). Menurut Unandar Budi Mulya (dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, 2011). Tenia Vesikolor merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur Malassezia Fulfur Robin (Bailon 1889) adalah penyakit jamur supervisial yang kronik, biasanya tidak memberikan keluhan subjektif. Jamur penyebab penyakit kulit ini muncul bisa di karenakan prilaku personal hygiene yang kurang terjaga atau melalui penularan dari orang yang mengalami penyakit kulit ini. Biasanya orang atau pasien yang terkena Tenia Vesikolor atau panu mengeluh ketika cuaca panas dan pada saat itu tubuh mengeluarkan keringat sehingga rasa gatal yang sangat menggangu. Hal tersebut bisa menimbulkan gangguan rasa nyaman bahkan gangguan citra tubuh bagi orang yang mengalaminya.  Pasien yang di rawat khususnya di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, ada yang sudah terdiagnosa oleh dokter dengan Tenia Vesikolor  terkadang prilaku mereka yang  sulit diarahkan. Sebagai contoh pasien si A dengan diagnosa medis Tenia Vesikolor, prilaku pasien tersebut sering menggunakan pakaian, pakaian dalam, handuk temannya atau pasien tersebut sering tidur di tempat tidur temannya yang secara otomatis pasien tersebut sudah menularkan penyakit kulit pada teman-temannya. Hal tersebut merupakan salah satu kendala yang ada di Ruang Rawat Inap dan juga angka kejadian HAiS di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Berdasarkan hal diatas penangan yang tepat di harapkan dapat mengurangi atau mencegah meningkatnya angka kejadian HAiS di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Mengatasi keluhan infeksi jamur pada kulit dapat di bagi menjadi dua yaitu penanganan mengunakan obat dan menanganan dengan tidak menggunakan obat. Untuk penanganan penyakit kulit menggunakan obat, beberapa kelainan yang timbul akibat infeksi jamur pada kulit dapat di obati dengan menggunakan obat oles atau salep atau krim anti jamur. Namun pada beberapa kelainan lain infeksi jamur pada kulit membutuhkan obat minum. Hal tersebut tidak terlepas dari kita kolaborasi atau konsultasi dengan dokter. Secara obat tadisional panu atau Tenia Vesikolor dapat menggunakan lengkuas atau jahe yang dioleskan pada bagian panu tersebut. Ada beberapa hal yang dapat mencegah terjadinya infeksi jamur secara umum atau bisa kita implementasikan pada pasien yang di Rawat. Upayakan untuk menghilangkan faktor pencetus infeksi, misal setelah kita beraktifitas terlebih mengeluarkan keringat sebaiknya segera untuk membersihkan tubuh atau pada pasien yang di rawat untuk berjemur di pagi hari kurang lebih 30 menit setelah di berikan obat salep atau krim anti jamur. Dan perlu diingat bahwa faktor pencetus  setiap infeksi jamur sangat bervariasi. Tingkatkan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan bergizi seimbang. Usahakan untuk tidak bertukar barang pribadi seperti pakaian, pakaian dalam, handuk. Kalau untuk di rumah sakit jiwa memang agak sulit mengarahkan pasien atau merubah prilaku pasien, jadi perlunya manajemen linen yang baik dan terorganisasi  agar penularan atau HAiS tidak meningkat.   Merubah prilaku personal hygiene yang kurang baik menjadi lebih baik, misalkan mandi minimal 2 kali sehari dengan sabun dan selalu menjaga kelembapan kulit. Pengobatan infeksi jamur pada kulit selain juga untuk mencegah terjadinya infeksi lain yang disebabkan oleh mikroorganisme lain seperti bakteri. Dengan demikian di harapkan petugas kesehatan yang merawat pasien dengan penyakit kulit diharapkan dapat merubah prilaku personal hygiene pasien. Petugas kesehatan harus lebih care dalam hal pembersihan tempat tidur pasien harus rutin dibersihkan, apabila ditemukan kasur yang tidak layak pakai harus segera digantikan, manajemen linen yang terorganisasi. Penggunaan handuk, pakaian dan pakaian dalam pasien harus benar-benar di perhatikan. Dan segara berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan terapi obat untuk pasien dengan tenia vesikolor. Demikian yang bisa kami sampaikan, semoga menambah informasi pembaca.   Daftar Pustaka Notoadmodjo, S.2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Prilaku. Edisi Pertama. Jakarta : Renika Cipta  Unandar, Budi Mulya.2010. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, edisi revisi IV. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. http :www.ejurnal.stikesbhaktikencana.ac.id/file.php?file=jurnal&id=545&cd...name...pdf