Setiap makhluk hidup yang ada di dunia akan mengalami pertembuhan, termasuk manusia. Pertumbuhan dan perkembangan manusia yang secara utuh dimulai dari dalam kandungan, lahir, bayi tumbuh menjadi anak, remaja, melalui masa dewasa, tua sampai akhirnya meninggal dunia. Selama dalam perjalanan dari menjadi bayi, anak-anak akan melalui titik kritis perkembangan yang timbul di setiap tahap perkembangannya. Berhasil tidaknya anak mencapai tugas perkembangan pada tahap yang bersangkutan ditentukan oleh titik kritis. Apakah anak mampu bertahan dan melanjutkan perkembangan secara progresif atau anak akan mengalami stagnasi perkembangan prekoks. Seorang anak akan melalui lima tahap dasar pertumbuhan yaitu sebagai berikut: Seorang anak akan melalui tahapan yang disebut tahap dasar kepercayaan (Basic trust) vs ketidakpercayaan (Mistrust) (tahapan ini biasanya pada usia anak 0–1,5 tahun). Selanjutnya anak akan melalui tahap pertumbuhan otonomi (Autonomy) vs malu dan ragu (Shame and doubt) (tahapan ini anak berusia pada 1,5 tahun). Pada tahapan selanjutnya disebut tahapan inisiatif (initiative) vs rasa bersalah (guilt) (anak yang berada pada tahap ini berusia atara 3–6 tahun). Kemudian anak berada pada tahapan kerja keras (industry) vs inferioritas (inferiority) (tahapan ini anak berusia 7–11 tahun). Tahap yang ke lima disebut dengan tahap Identitas (identity) vs difusi peran (Role diffusion) (usia anak-anak mulai 12–18 tahun). Tahap Dasar Kepercayaan (Basic Trust) vs Ketidakpercayaan (Mistrust) Saat bayi baru dilahirkan dan mulai kontak dengan dunia luar sangat bergantung pada orang lain dan lingkungannya disekitarnya. Bayi baru lahir berharap mendapatkan rasa aman dan rasa percaya terhadap lingkungan. Rasa itu akan dirasakan sempurna bila ada ibunya, yang sekaligus sebagai perantara dengan lingkungan luar. Bila terjalin hubungan yang baik antara orang tua dengan bayi, maka rasa percaya (trust) terhadap lingkungan dapat berkembang dengan baik, dan berlaku dengan kebalikannya. Saat berintraksi dengan dunia luar Bayi menggunakan mulut dan pancaindera sebagai alat bantu untuk berhubungan dengan dunia luar. Sehingga memungkinkan Bayi mengalami gangguan antara lain seperti sulit makan (setelah usia 6 bulan), iritabilitas, takut/cemas, dan ingin selalu melekat pada ibu. Tingkat ketergantung Bayi yang kuat dapat diinterpretasikan sebagai kurang berkembangnya dasar kepercayaan dan menjadi faktor predisposisi dalam menimbulkan kelainan jiwa seperti depresi, skizofrenia, dan adiksi. Otonomi (Autonomy) vs Malu dan Ragu (Shame and Doubt) Pada usia 1,5 tahun Anak tumbuh dan berkembang sejalan dengan kemampuan alat gerak, dan didukung rasa kepercayaan dari ibu (orang yang merawatnya) dan lingkungan dimana anak berada. Akan tumbuh kesadaran anak bahwa dirinya dapat bergerak dan ingin mendapatkan kepuasan gerak sehingga anak berbuat sesuai dengan kemauannya. Pada usia ini anak mengalami perkembangan pada rasa otonomi diri. Anak mulai mera dapat memutuskan sesuatu untuk dirinya, seperti anak mulai dapat menolak ataupun memberi sesuatu pada lingkungannya sesuai dengan keinginannya tanpa dipengaruhi orang lain. Sangat penting anak memiliki kemampuan otonomi diri, sebab kemampuan ini sebagai dasar untuk membentuk keyakinan yang kuat dan dapat meningkatkan harga diri seorang anak di kemudian hari. Sifat anak-anak saat berhubungan dengan orang lain cenderung egosentrik, sehingga lingkungan disekitar anak sangat berperan dalam membentuk kepribadian anak. Bila terjadi gangguan pada masa ini dapat menyebabkan anak menjadi pemalu, ragu-ragu, dan cenderung memberi pengekangan pada diri. Kemungkinan gangguan jiwa yang timbul pada tahapan ini yaitu kemarahan, sadistik, keras kepala, menentang, agrasi, enkopersis, enuresis, obsesi kompulsif, dan paranoid. Inisiatif (Initiative) Vs Rasa Bersalah (Guilt) Pada tahap yang ketiga anak-anak belajar bagaimana cara mengendalikan diri dan memanipulasi lingkungan. Mulai timbul rasa inisiatif yang menguasai anak, namun lingkungan mulai menuntut anak agar melakukan tugas tertentu. Timbul perasaan Anak merasa bahwa dirinya adalah bagian dari lingkungannya dan menginginkan disertakan sebagai seorang individu yang mempunyai peranan.  Keterbatasan yang dimiliki oleh seorang anak dalam memenuhi tuntutan lingkungan akan menimbulkan rasa kecewa dan rasa bersalah dalam dirinya. Ikatan hubungan antara ibu, ayah, dan anak sangat penting karena akan menjadi dasar kemantapan identitas diri yang dimiliki anak. Pada saat ini anak juga mulai membentuk peran yang sesuai jenis kelamin yang wajar, anak mencoba berlatih mengintegrasikan peran sosial dan tanggung jawab. Pada tahapan ini dalam berhubungan dengan teman sebaya atau saudara, anak akan cenderung untuk menang sendiri. Pada masa ini anak mengalami gangguan yang mungkin timbul adalah kesulitan belajar, masalah yang ada di sekolah, pergaulan dengan teman-teman,  serta anak menjadi pasif, takut, dan mungkin terjadi neurosis. Kerja Keras (Industry) vs inferioritas (Inferiority) Pada tahapan ini Anak mulai mengenal lingkungan yang lebih luas, yaitu sekolah atau kegiatan diluar rumah. Keadaan yang dihadapkan pada Anak menuntut agar anak mampu menyelesaikan suatu tugas dan perbuatan hingga menghasilkan sesuatu. Hubungan ibu-ayah-anak mulai ada perubahan dalam waktu terbatas, dimana akak pergi meninggalkan rumah dan orang tua ke sekolah atau mengikuti kegiatan diluar rumah. Pada tahapan ini Anak juga mulai merasakan sifat kompetitif, mengembangkan sikap saling memberi dan menerima, serta memiliki rasa kesetia kawanan dan berpegangan pada aturan yang berlalu. Kemungkinan gangguan yang timbul pada masa ini adalah merasa ada kekurangan pada dirinya, merasa dirinya tidak mampu, adanya rasa inferior, terjadi gangguan pada prestasi belajar, dan memiliki rasa takut berkompetisi. Identitas (Identity) vs Difusi Peran (Role Diffusion) Pada tahapan ini Anak mengalami banyak perubahan dan perkembangan dalam berbagai aspek. Bentuk fisik mengalami perubahan, dimana anak merasa sudah dewasa karena pertumbuhan badan yang pesat, tetapi secara psikososial anak belum memiliki hak-hak sebagaimana orang dewasa. Dimasa ini juga dikenal sebagai masa standardisasi diri karena anak berusaha mencari identitas diri dalam hal seksual, umur, dan jenis kegiatan. Yang menjadi pengaruh utama dalam pembentukan jiwa anak remaja adalah lingkungan dimana anak remaja berada. Sedangkan peran orang tua nya sebagai sumber perlindungan dan sumber nilai utama mulai berkurang, anak lebih senang mendapatkannya dari lingkungan luar. Anak mulai lebih memilih berkelompok untuk bereksperimen dengan peranannya dalam menyalurkan ekspresinya. Saat kritis Anak akan cenderung memilih orang dewasa untuk mereka jadikan sebagai bantuan.   Sumber: Yusuf, dkk. 2015. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Penerbit Salemba Medika. Jagakarsa, Jakarta Selatan. Maramis, W.F. 2010. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press. Maslim, R. 2002. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta. Ogden, J. 2007. Health Psychology a Textbook, 4th Edition. Inggris: Open University Press.