Kata depresi adalah kata yang sudah sering kita dengar sehari-hari. Namun, pemahaman terhadap arti kata ini rupanya tidak seragam antara satu orang dengan orang lainnya. Penggunaan kata ini seringkali ditujukan untuk orang yang mengalami gangguan jiwa berat dan tidak mampu mengenali realita, padahal gangguan jiwa yang dimaksud itu sebetulnya adalah skizofrenia, bukan depresi. Ada pula yang menggunakan kata depresi untuk kondisi kecemasan berlebihan, padahal Gangguan Cemas merupakan bentuk gangguan jiwa tersendiri, di luar Gangguan Depresi.
Depresi berasal dari kata depression, yang artinya tekanan. Dalam hal gangguan jiwa, Gangguan Depresi merupakan gangguan yang terutama mempengaruhi mood penderitanya, yaitu kondisi dimana terjadi penurunan mood secara bermakna dibandingkan biasanya. Mood adalah alam perasaan yang sifatnya menetap, berbeda dengan ekspresi yang sifatnya hanya sementara, yang merupakan respon terhadap suatu kondisi sesaat.
Terdapat dua gejala utama Gangguan Depresi, yaitu mood yang terdepresi dan hilangnya minat terhadap segala sesuatu yang sebelumnya disukai. Kedua gejala ini disebut sebagai gejala mayor Gangguan Depresi.
Mood yang terdepresi bisa dirasakan sebagai perasaan sedih, merasa tidak ada harapan, merasa masa depan suram, hidup sudah berakhir atau sudah tidak bermakna lagi, merasa putus asa dan tidak ada jalan keluar, merasa tidak berharga, serta yang paling berat adalah timbulnya ide-ide tentang kematian atau keinginan untuk bunuh diri. Pada beberapa orang, mood yang terdepresi tidak ditunjukkan dengan kesedihan, tetapi berupa perasaan yang mudah tersinggung dan mudah marah. Hal kecil pun sudah menyinggung perasaannya dan membuatnya marah berlebihan. Depresi pada anak dan remaja seringkali tidak dikenali gejalanya oleh orang sekitarnya, karena pada anak dan remaja, bentuk gejala depresi yang ditunjukkan biasanya berupa kemarahan dan kenakalan, menentang, serta sulit diatur.
Hilangnya minat bisa terjadi pada aktivitas sehari-hari, pekerjaan, atau hobi yang biasanya disenangi. Biasanya orang yang mengalami Gangguan Depresi merasa sulit untuk memulai aktivitas pada pagi hari, karena ia kehilangan minat untuk menjalani aktivitas seperti biasa. Hilangnya minat juga dapat terjadi dalam hubungan interpersonal, sehingga membuat orang tersebut mengurung diri di kamar atau di rumah untuk menghindari bertemu dengan orang lain.
Selain kedua gejala mayor di atas, Gangguan Depresi juga dapat berupa gangguan tidur, gangguan makan, perasaan mudah lelah atau kehilangan energi, dan timbulnya gejala-gejala fisik, seperti sakit kepala, rasa tegang pada tengkuk, sakit maag berkepanjangan, berdebar-debar, dada terasa penuh dan sesak.
Seringkali penderita depresi tidak sadar bahwa gejala-gejala yang dialaminya merupakan gejala depresi, begitu pula dengan orang-orang di sekitarnya. Bila gejala fisik yang dominan, maka ia akan datang ke dokter atau ke pusat layanan kesehatan untuk mengobati penyakit fisiknya tersebut, misalnya sakit kepala yang terus menerus tanpa penyebab yang jelas, sakit maag berkepanjangan yang tidak sembuh dengan pengobatan biasa, berdebar-debar, dan sulit tidur. Bila tidak ditangani dengan tepat, maka dapat terjadi ketergantungan obat tidur, padahal depresinya tidak teratasi, dan bila menjadi semakin berat dapat terjadi hal yang paling tidak diinginkan, yaitu bunuh diri.
Pada anak dan remaja, bila depresi tidak dikenali dan tidak diatasi, sering berakhir sebagai ketergantungan zat, kenakalan remaja, putus sekolah, dan bunuh diri. Anak dan remaja yang mengidap depresi seringali disangka sebagai anak nakal, pembangkang, pemarah, dan tidak dapat mengikuti aturan. Karena itulah maka depresi pada anak dan remaja sering tidak dikenali dan tidak teratasi dengan baik. Seorang bayi pun dapat mengalami depresi bila mengalami pengabaian dari lingkungan sekitarnya (pengasuh utamanya), dan dapat mempengaruhi proses tumbuh kembangnya, baik fisik maupun psikis. Bayi yang depresi biasanya malas menghisap susu, rewel, sulit ditenangkan, dan peningkatan berat badan tidak sesuai harapan.
Penyebab depresi ada beberapa faktor yaitu faktor biologis, faktor psikologis, dan faktor sosial. Faktor biologis misalnya keturunan dari orangtua yang memiliki riwayat depresi, dan penyakit-penyakit tertentu yang menyebabkan terganggunya fungsi zat kimiawi otak sehingga menimbulkan depresi. Faktor psikologis misalnya karena ada tekanan psikologis dalam pekerjaan, konflik dengan orang terdekat, dan kehilangan sosok yang bermakna dalam hidupnya. Faktor sosial misalnya tekanan teman sebaya, perundungan (bullying), bencana alam, dan lain-lain.
Gangguan Depresi dapat diobati, dan penanganan yang tepat dan segera sangat dibutuhkan untuk mencegah kronisitas penyakit, mencegah kejadian bunuh diri, dan mengembalikan produktivitas penderitanya. Pengobatan berupa psikofarmaka (obat-obatan), psikoterapi (terapi psikologis oleh ahli di bidang keiwaan), dan dukungan sosial. Psikofarmaka yang diberikan untuk penderita depresi adalah anti depresi. Pengobatan membutuhkan waktu setidaknya 4 minggu untuk mengatasi fase akut depresi, dan perlu dilanjutkan untuk fase pemeliharaan sampai dengan seluruh gejala depresi tidak ditemukan lagi.
Mengenal gejala depresi sedini mungkin, dukungan keluarga dan lingkungan, serta pengobatan yang tepat merupakan kunci utama pemulihan bagi orang yang mengalami depresi.
Daftar Pustaka :
American Psychiatric Association : Desk Reference to the Diagnostic Criteria from DSM-5. Arlington, VA, American Psychiatric Association, 2013.
Penulis :
dr. Imelda Gracia Gani, SpKJ
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa
Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Penulis
dr Imelda Gracia Gani, Sp.KJ