Manusia sebagai makhluk sosial selalu berinteraksi dengan individu lain dengan berbagai tujuan. Interaksi yang dilakukan antar individu dapat menghasilkan berbagai hal yang positif, namun tak jarang juga menimbulkan kekecewaan atau hal yang menyakitkan. Kekecewaan pada umumnya disebabkan karena adanya persepsi individu bahwa ia diperlakukan tidak baik, sehingga ia merasa hak-haknya sebagai pribadi dilanggar oleh orang lain.
Asep Haerul Gani menyatakan suatu hal dinyatakan masuk dalam konteks memaafkan apabila ada pikiran yang mempersepsi bahwa pada suatu peristiwa dimana ada seseorang atau sesuatu yang melakukan ketidak adilan terhadap diri individu. Dalam hal ini individu memilih menjadi objek ketimbang menjadi subjek. Persepsi tersebut memicu munculnya perasaan negatif diantaranya marah, kecewa, kesal, geram dan putus asa yang pada awalnya dirasa wajar menunjukan alarm dalam tubuh bahwa sesuatu sedang terjadi, namun seiringnya waktu intensitasnya menjadi tinggidan dapat mengganggu.
Perasaan-perasaan yang mengganggu ini jika bertahan dalam diri individu tentunya dapat mengganggu aktivitas keseharian, baik disadari ataupun tidak disadari. Sementara menurut WHO, seseorang dapat dikatakan sehat secara psikologis yakni ketika ia bisa memahami diri sendiri, mampu menghadapi permasalahan yang muncul dan dapat beraktivitas dengan baik dalam kesehariannya. Untuk itu memaafkan dapat dijadikan sebagai salah satu upaya dalam mencapai kesehatan secara psikologis. Manfaat memaafkan untuk kesejahteraan individu juga telah didokumentasikan di berbagai jurnal termasuk dalam mempengaruhi kesehatan fisik. Hal ini karena dengan memaafkan adanya upaya mengubah emosi dan perilaku yang negatif kepada respon yang lebih positif.
Everret Worthington Jr (dalam Herul Gani: 2011) menyatakan memaafkan adalah mengurangi atau membatasi kebencian serta dendam yang mengarah kepada pembalasan. Secara sederhana memaafkan lebih dari sekedar membuang hal-hal yang negatif. Memaafkan juga menggerakkan seseorang untuk merasakan kebaikan dari pelaku. Dengan kata lain, memaafkan tidak hanya mengenyahkan emosi negatif tetapi juga menggerakkan kita ke perasaan positif.
Manfaat memaafkan itu sendiri cukup banyak, sehingga digunakan juga sebagai salah satu terapi dalam praktek klinis psikologi yang dikenal dengan istilah forgiveness therapy. Manfaat memamaafkan dipaparkan oleh Asep Haerul Gani (2011) berdasarkan riset-riset yang dilakukan oleh kalangan medis maupun psikolog yang menemukan kenyataan bahwa dibandingkan dengan yang tidak memaafkan, orang yang memaafkan menunjukan:
Tekanan darah jadi lebih normal
Penurunan Stres
Kemarahan mereda
Memiliki keterampilan mengelola kemarahan yang lebih baik.
Tekanan jantung menurun.
Risiko rendah atas penyalahgunaan alkohol dan narkoba
Menurunkan gejala-gejala depresi yang rendah
Gejala-gejala kecemasan yang rendah
Rasa nyeri yang akut.
Lebih bersahabat
Hubungan yang lebih sehat
Merupakan tindakan klinis yang bermanfaat bagi pasien bertekanan darah tinggi yang rasa marahnya cepat naik.
Meningkatkan kesehatan jiwa dan raga.
Mengurangi rasa nyeri punggung yang akut.
Dengan mengetahui banyaknya manfaat dari memaafkan tentunya banyak orang akan memilih melakukan pemaafan dari pada membelenggu dirinya dengan kemarahan maupun kekecewaan, namun perlu kita kenali juga alasan kenapa seorang individu memilih tidak memaafkan yang telah dikelompokkan oleh Asep Haerul Gani (2011) dari pengalaman praktiknya, yakni:
Untuk memperoleh simpati dan perhatian dari orang di lingkungannya.
Menunjukan secara moral bahwa saya benar dan pelaku salah.
Melakukan pembenaran atas kemarahan yang terjadi
Memaafkan sama saja dengan menjadi pecundang
Memaafkan adalah bentuk dari ketidak mampuan dari membela hak.
Memaafkan adalah memberi keuntungan kepada sipelaku, sehingga sipelaku akan berbuat lagi.
Pilihan memaafkan atau tidak tentu itu menjadi hak individu untuk memutuskan. Namun ketika kita bicara kapan waktu yang tepat untuk memaafkan, jabaran dari Asep Haerul Gani (2011) dapat membantu seseorang untuk menentukan pilihannya apakah ia akan memaafkan atau tidak seseorang yang dipersepsi sebagai pelaku yang menyebabkan kekecewaan. Menurutnya memaafkan terlalu cepat sebelum kita memahami apa yang terjadi dan merasakan perasaan apa yang terlibat tidak memberikan manfaat, karena memaafkan dengan segera lebih menunjukan diri kita lemah dan tidak berdaya. Sebaliknya ketika memaafkan terlalu lama dapat menimbulkan kerugian yang besar, karena kerusakan yang dialami baik fisik, psikis maupun rohani sudah menjadi kronis. Keterlambatan ini diibaratkan seperti kita ingin mengeluarkan bisa ular yang sudah terlanjur menjalar 15 menit yang lalu. Meski bisa dikeluarkan namun sudah menimbulkan kerusakan yang parah.
Berikut jabaran kapan waktu yang tepat untuk memaafkan, tanpa harus semuanya terpenuhi untuk memilih memaafkan.
Saat Anda menahan sakit, kecewa dan pahitnya hidup serta kebencian, semua bagian kehidupan andapun pengalami penderitaan.
Saat anda membayar mahal untuk semua ongkos kehidupan.
Saat anda membawa kemarahan dan kepahitan terhadap setiap hubungan sosial Anda dan terhadap pengalaman-pengalaman baru.
Saat kehidupan Anda terkungkung dalam kekeliruan san anda tidak mampu menikmati hidup saat ini.
Saat anda mudah terpicu oleh peristiwa yang memiliki kemiripan dengan peristiwa tersebut.
Saat Anda mendengar dari orang lain bahwa diri Anda menanggung beban.
Saat Anda mendapat umpan balik darik orang lain bahwa Anda mudah menjadi putus asa.
Saat Anda kemudian dijauhi oleh Keluarga Anda dan sahabat Anda karena mereka tidak menikmati saat-saat bersama Anda.
Saat anda menjadi mudah marah hanya oleh hal-hal sepele.
Saat anda merasa sering salah paham.
Saat anda mengalihkan perhatian pada mabuk, merokok atau menggunakan obat untuk mengatasi nyeri batin Anda.
Saat Anda mudah merasa cemas atau merasa tertekan.
Saat Anda dikuasai hasrat untuk balas dendam atau menghukum
Saat anda mengalami pikiran buruk terhadap situasi dan orang
Saat Anda banyak menghindar dari berhubungan dengan sejumlah orang
Saat Anda merasa bahwa hidup anda kehilangan makna dan kehilangan tujuan hidup.
Saat anda menjadi meragukankayakinan/agama Anda
Saat Anda mudah dan sering merasakan penderitaan pada kehidupan Anda sekarang.
Sumber:
Haerul Gani, Asep. 2011. Forgiveness Therapy “Maafkanlah niscaya dadamu lapang”. Yogyakarta: Kanisius.
Penulis
Sefrita Danur,S.Psi., M.Psi