Emosi adalah suatu respon tubuh kita pada kondisi atau situasi dan merupakan bentuk dari upaya beradaptasi dengan lingkungan sehingga tubuh kita bereaksi terhadap situasi tersebut, emosi juga memiliki bentuk seperti amarah, kesedihan, rasa takut atau gugup, kenikmatan (gembira, bahagia, bangga), cinta (penerimaan, kepercayaan, rasa hormat), terkejut atau takjub, jengkel (kesal,jijik), dan rasa malu.
Mengendalikan emosi sangat penting pada kehidupan sehari-hari, karena dengan adanya emosi maka akan berpengaruh dengan keseimbangan hormon di dalam tubuh, memunculkan efek pada tingkah laku, persepsi kita dalam bentuk emosi tertentu. Sehingga diperlukan cara dalam mengendalikan atau meluapkan emosi dengan cara yang positif, salah satunya adalah dengan menulis ekspresif.
Terapi menulis ekspresif dapat membuat seseorang mengeksplorasi emosi dan spiritual serta dapat menyalurkan pemikirannya sendiri ke dalam wadah yang dapat digunakan dalam berkomunikasi dengan diri sendiri secara positif. Dalam hal ini segala perasaan kegundahan maupun kebahagiaan dituangkan pada suatu tulisan. Menulis ekspresif memiliki beberapa pendekatan yaitu :
1. Pendekatan Psikoanalisis
Segala bentuk perilaku manusia yang bersumber pada alam bawah sadar. Pendekatan psikoanalisis juga memiliki beberapa teori seperti Emotional Catharis yaitu meluapkan emosi negatif dan Emotional Inhibition and Confrontation yaitu dengan mengingat kejadian atau suatu peristiwa yang mengakibatkan trauma dan membantu untuk mengatasi trauma tersebut.
2. Pendekatan Behavior
Pendekatan berdasarkan tingkah laku bisa dipelajari,tingkah laku lama bisa diubah dengan tingkah laku baru, dan mempunyai potensi untuk berperilaku yang benar dan salah. Teori yang berhubungan dengan pendekatan behavior adalah Cognitive Processing yaitu menulis ekspresif dengan cara menyusun dan mengatur ingatan yang membuat trauma sehingga dapat adaptif ketika menghadapi masalah pada diri sendiri maupun orang di sekitar, dan Repeated Exposure yaitu menulis tentang ingatan atau memori pada kejadian yang traumatis secara berulang.
Beberapa Manfaat dalam menulis ekspresif adalah meningkatkan kreatifitas, memori, memotivasi diri sendiri maupun orang lain, mengurangi penggunaan obat-obatan kimia, serta kehidupan sosial pun lebih baik.
Prosedur dalam terapi menulis ekspresif.
Proses menulis membutuhkan waktu sekitar 10 menit hingga 30 menit atau lebih selama 3 atau 5 hari, media yang digunakan dapat berupa buku, jurnal, blog pribadi. Durasi dalam menulis ekspresif berbeda-beda pada beberapa orang tergantung tingkat kedalaman masalah yang dirasakan atau dihadapi, beberapa langkah sedehana dalam menulis ekspresif yaitu:
Menetapkan waktu yang dibutuhkan,
Topik permasalahan yang sedang terjadi,
Menulis secara terus menurus tanpa memikirkan aturan penulisan atau tata bahasa.
Jangan ragu dalam menulis hal yang bersifat pribadi karena, hanya tulisan tersebut hanya untuk anda sendiri
Ketika anda sedang menulis tiba-tiba perasaan anda memburuk, maka lebih baik berhenti dahulu, lanjutkan ketika suasana hati anda lebih baik
Buatlah harapan anda terhadap diri sendiri, setelah menulis maka perasaan anda akan lebih baik.
Terapi menulis ekspresif juga dapat digunakan dalam konseling secara terbuka maupun tertutup, dapat dilakukan secara pribadi maupun kelompok.
Beberapa penelitian yang membuktikan bahwa terapi menulis ekspresif mampu mengatasi emosi, stres dan depresi adalah penelitian Mia Ayu Yuliati dalam skripsinya yang berjudul Pengaruh terapi menulis ekspresif terhadap tingkat depresi pada lansia di Panti Sosial Rehabilitasi lanjut usia dan pemeliharaan Taman Makan Pahlawan Ciparay Kabupaten Bandung Tahun 2018 didapatkan bahwa ada penurunan tingkat depresi dari sedang ke ringan ketika mendapatkan terapi menulis ekspresif, dan penelitian Riska Okty Saputri dalam laporan tugas akhirnya yang berjudul Pengaruh terapi menulis ekspresif terhadap penurunan stres pada remaja, dari penelitian ini didapatkan bahwa terdapat pengaruh terhadap penurunan stres setelah mendapatkan terapi menulis ekspresif.
Daftar Pustaka :
Ayu Yulianti, Mia. (2018). “Pengaruh Terapi Menulis Ekspresif Terhadap Tingkat Depresi Pada Lansia Di Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia dan Pemeliharaan Taman Makan Pahlawan Ciparay Kabupaten Bandung”. SKRIPSI. Bandung: STIKES Bhakti Kencana Bandung.
Chaplin, J. P. (2008). Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Komalasari, Gantina., Eka Wahyuni., dan Karsih. (2011). Teori dan Teknik
Konseling. Jakarta: Indeks.
Okty Saputri, Riska. (2019). “Pengaruh Terapi Menulis Ekspresif Terhadap Penurunan Stres Pada Remaja”. NASKAH PUBLIKASI. Surakarta: Institut Teknologi Sains dan Kesehatan PKU Muhammadiyah.
Pennebaker, & Chung. (2007). Expressive Writing: Connections to Physical and
Mental Health. New York: Oxford University Press.
Qonitatin, N., Widyawati,S.,&Asih,G. Y. (2011).Pengaruh Katarsis Dalam
Menulis Ekspresif Sebagai Intervensi Depresi Ringan Pada Mahasiswa.
Jurnal Psikologi Undip Vol. 9, No.1, April 2011.
Walker, E. James & Shea, Thomas. 1988. Behavior Management: A Practical
Approach For Educators (4th ed.). Ohio: Merrill Publishing Company
Penulis
Ulfa Undari, S.Kep., Ners.