DEFINISI
Kesehatan jiwa menurut UU No. 18 tahun 2014 adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya. Jika seseorang tidak memiliki karakteristik sehat jiwa maka dapat menjadi indikasi suatu gangguan jiwa.
Gangguan jiwa adalah suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi kehidupan, menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosial (Keliat, dkk 2014).
Kelompok adalah sekumpulan orang yang saling berhubungan, saling bergantung satu sama lain dan menyepakati suatu tatanan norma tertentu. Individu dalam kelompok saling mempengaruhi dan bertukar informasi melalui komunikasi. Dinamika dalam kelompok bahkan dapat memfasilitasi perubahan perilaku anggota kelompoknya sehingga apabila kelompok ini didesain secara sistematis dapat menjadi sarana perubahan perilaku maladaptif menjadi perilaku adaptif atau dapat difungsikan sebagai perilaku (Kelliat dkk 2014).
Terapi kelompok adalah terapi psikologis yang dilakukan secara kelompok untuk memberikan stimulasi bagi pasien dengan ganggan interpersonal (Yosep, 2008 dalam Prabowo, 2017).
Terapi aktivitas kelompok merupakan salah satu terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada sekelompok pasien yang mepunyai masalah keperawatan yang sama. Aktivitas digunakan sebagai terapi, dan kelompok digunakan sebagai target asuhan (Klliat, 2015).
Terapi aktivitas kelompok adalah salah satu upaya untuk memfasilitasi psikoterapis terhadap sejumlah pasien pada waktu yang sama untuk memantau dan meningkatkan hubungan antar anggota (Depkes RI, 1997 dalam Prabowo, 2017).
2. MANFAAT TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK
Manfaat terapi aktivitas kelompok menurut (Direja, 2011)
Terapeutik
a.Umum
Meningkatkan kemampuan kemampuan uji realitas (reality testing) melalui komunikasi dan umpan balik dengan atau dari orang lain.
Melakukan sosialisasi
Membangkitkan motivasi untuk kemajuan fungsi kognitif dan efektif.
b. Khusus
Meningkatkan identitas diri
Menyalurkan emosi secara konstruktif
Meningkatkan ketrampilan hubungan interpersonal atau sosial
c. Rehabilitasi
Meningkatkan keterampilan ekspresi diri
Meningkatkan ketrampilan sosial
Meningkatkan kemempuan empati
Meningkatkan kemampuan/pengetahuan pemecahan masalah.
3. TAHAPAN DALAM TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK
Kelompok sama dengan individu, mempunyai kapasitas untuk tumbuh dan berkembang. Kelompok akan berkembang melalui empat fase, yaitu : fase praklompok, fase awal kelompok, fase kerja kelompok, fase terminasi kelompok (Prabowo, 2017).
Fase Prakelompok
Dimulai dengan membuat tujuan, menentukan leader, jumlah anggota, kriteria anggota, tempat dan waktu kegiatan, media yang digunakan. Menurut Yosep dalam Prabowo (2017), jumlah kelompok yang ideal dengan cara verbalisasi biasanya 7 – 8 orang. Sedang jumlah minimum 4 dan maksimum 10. Kriteria anggota yang memenuhi syarat untuk mengikuti TAK adalah : sudah punya diagnosa yang jelas, tidak terlalu gelisah, tidak agresif, waham tidak terlalu berat.
2. Fase Awal Kelompok
Fase ini ditandai dengan ansietas karena masuknya kelompok baru, dan peeran baru. Stuart dan Laria dalam Prabowo (2017) membagi fase ini menjadi tiga fase, yaitu orientasi, konflik, dan kohesif.
Tahap Orientasi
Anggota mulai mencoba mengembangkan system sosial masing-masing, leader menunjukan rencana terapi dan menyepakati kontrk dengan anggota.
b. Tahapan Konflik
Merupakan masa sulit dalam proses kelompok. Pemimpin perlu memfasilitasi ungkapan perasaan, baik positif maupun negative dan membantu kelompok mengenali penyebab konflik. Serta mencegah prilaku yang tidak produktif.
c. Tahap Kohesif
Anggota kelompok merasa bebas membuka diri tentang informasi dan lebih intim satu sama lain.
d. Fase Kerja Kelompok
Pada fase ini kelompok sudah menjadi intim. Kelompok menjadi stabil dan realistis. Pada akhir fase ini, anggota kelompok menyadari produktivitas dan kemampuan yang bertambah disertai percaya diri dan kemandirian.
e. Fase Terminasi
Terminasi yang sukses ditandai oleh perasaan puas dan pengalaman kelompok akan digunakan secara individual pada kehidupan sehari-hari. Terminasi dapat bersifat sementara (temporal) atau akhir.
A. TUJUAN TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK
Tujuan terapi aktivitas kelompok menurut (Direja, 2011) :
Mengembangkan stimulasi kognitif
Tipe : Biblioterapy.
Aktifitas : menggunakan artikel, sajak, puisi, buku, surat kabar untuk merangsang dan mengembangkan hubungan dengan orang lain.
Mengembangkan stimulasi sensoris
Tipe : musik, seni, menari.
Aktifitas : menyediakan kegiatan, mengekpresikan perasaan.
Tipe : relaksasi.
Aktifitas : belajar teknik relaksasi dengan cara nafas dalam.
2. Mengembangkan orientasi realitas
Tipe : kelompok orientasi realitas, kelompok validasi.
Aktifitas : fokus pada orientasi waktu, tempat, dan orang, benar, salah.
3. Mengembangkan sosialisasi
Tipe : kelompok remotivasi.
Aktifitas : mengorientasikan klien yang menarik diri, regresi.
B. MACAM TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK
Terpi Aktivitas Kelompok Stimulasi kognitif atau Persepsi.
Terpi Aktivitas Kelompok Stimulasi Sensori.
Terpi Aktivitas Kelompok Orientasi Realitas.
Terpi Aktivitas Kelompok Sosialisasi.
Penyaluran Energi.
DAFTAR PUSTAKA
Direja, Ade Herman S. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Nuha Medika.
Keliat, Budi Anna dkk, 2014-2015. Keperawatan Jiwa, Terapi Aktivitas Kelompok. Jakarta: EGC.
Prabowo, 2017. Asuhan Keperawatan Jiwa. Semarang : Universitas Diponegoro
Yosep, Iyus, 2008. Keperawatan Jiwa. Bandung : Refika Aditama.