Gangguan makan adalah penyakit mental serius yang memengaruhi orang-orang dari segala usia, jenis kelamin, suku bangsa, dan latar belakang. Orang dengan gangguan makan menggunakan perilaku makan yang tidak teratur, yang dapat mencakup pembatasan jumlah makanan yang dimakan, makan makanan dalam jumlah yang sangat banyak sekaligus, membuang makanan yang dimakan dengan cara yang tidak sehat (misalnya membuat diri mereka sakit, menyalahgunakan obat pencahar, berpuasa, atau berolahraga berlebihan), atau kombinasi dari perilaku-perilaku ini. Dapat dipahami bahwa hal itu disebabkan oleh kombinasi faktor biologis, psikologis, dan sosial.
Penting untuk diingat bahwa gangguan makan tidak hanya tentang makanan, tetapi juga tentang perasaan. Cara seseorang memperlakukan makanan dapat membuat mereka merasa lebih mampu mengatasinya, atau dapat membuat mereka merasa memegang kendali, meskipun mereka mungkin tidak menyadari tujuan dari perilaku ini. Gangguan makan tidak pernah menjadi kesalahan orang yang mengalaminya, dan siapa pun yang memiliki gangguan makan berhak mendapatkan dukungan yang cepat dan penuh kasih sayang untuk membantu mereka menjadi lebih baik.
Gangguan makan dapat berakibat fatal, dan menyebabkan kerusakan serius baik secara fisik maupun emosional. Namun, meskipun merupakan penyakit serius, gangguan makan dapat diobati. Seperti penyakit lainnya, semakin cepat seseorang dengan gangguan makan diobati, semakin besar kemungkinan pemulihannya.
Agar profesional perawatan kesehatan dapat memilih jenis perawatan yang tepat untuk seseorang, ada sejumlah gangguan makan berbeda yang dapat didiagnosis pada seseorang. Seseorang mungkin berpindah dari satu diagnosis ke diagnosis lain jika gejalanya berubah sering kali ada banyak tumpang tindih antara berbagai gangguan makan.
Ada 3 jenis gangguan makan yang paling umum kita ketahui, antara lain:
1. Anoreksia
Anoreksia (atau anoreksia nervosa) adalah penyakit mental serius yang dapat menyebabkan seseorang membatasi jumlah makanan atau minuman yang mereka makan. Mereka mungkin mengembangkan "aturan" tentang apa yang menurut mereka boleh dan tidak boleh mereka makan, serta hal-hal seperti kapan dan di mana mereka akan makan. Anoreksia dapat memengaruhi siapa pun dari segala usia, jenis kelamin, suku bangsa, atau latar belakang. Dalam beberapa kasus, anoreksia nervosa dapat ditandai dengan berat badan rendah, namun Anda tidak akan pernah tahu seberapa tidak sehat seseorang hanya dengan melihat berat badannya.
Selain membatasi jumlah makanan yang mereka makan, mereka mungkin melakukan banyak olahraga, membuat diri mereka sakit, atau menyalahgunakan obat pencahar untuk membuang makanan yang dimakan. Beberapa orang dengan anoreksia mungkin mengalami siklus makan berlebihan (makan dalam jumlah banyak sekaligus) dan kemudian memuntahkannya.
Gejala seseorang menderita anoreksia menunjukkan penurunan berat badan drastis, menyangkal rasa lapar, dapat berupa jari-jari tangan yang membiru karena kekurangan oksigen. Orang dengan anoreksia juga dapat mengalami rambut yang menipis, patah, atau rontok, dan mereka dapat mengalami kelelahan atau insomnia. Pusing atau pingsan, tidak tahan dingin, libido rendah, mudah tersinggung, perubahan suasana hati, dan tidak adanya menstruasi pada wanita juga dapat terjadi.
2. Bulimia nervosa atau Bulimia
Saat mengidap Bulimia, seseorang mengalami kehilangan kendali ketika makan, sehingga akan mengonsumsi makanan dalam jumlah banyak secara berulang kali dan mengeluarkannya kembali (eating and purging).
Hal ini bertujuan untuk mengurangi kalori yang berlebih karena merasa bersalah, malu, dan takut mengalami kenaikan berat badan berlebih. Caranya biasanya dengan memaksa diri untuk muntah dan berolahraga terlalu keras. Gejala bulimia lainnya adalah penggunaan suplemen penurunan berat badan secara ekstrem, penggunaan pencahar, dan mengonsumsi obat diuretik atau enema secara teratur.
Selain itu, pengidap bulimia juga cenderung menilai kekurangan dalam dirinya dengan terlalu keras, meski sebenarnya berat badannya normal atau sedikit berlebih. Banyak pengidap Bulimia juga membatasi makan ketika siang hari, sehingga meningkatkan jumlah makanan pada malam hari untuk memuntahkannya kembali.
Gejala seseorang yang mengalami Bulimia berupa gigi yang berubah warna atau bernoda, kapalan di punggung tangan atau buku jari akibat muntah yang diinduksi sendiri, dan pembengkakan di pipi atau area rahang. Seseorang dengan bulimia dapat mengalami fluktuasi berat badan yang sering, dan wanita dengan kondisi ini mungkin memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur. Bulimia juga dapat menyebabkan orang mengalami perubahan suasana hati dan mudah tersinggung, terus-menerus memikirkan makanan dan berat badan, serta mengalami kesulitan berkonsentrasi.
3. Binge-Eating Disorder
Gangguan makan berlebihan atau binge eating disorder terjadi ketika orang makan makanan dalam jumlah sangat banyak tanpa merasa mampu mengendalikan apa yang mereka lakukan. Kondisi ini dapat memengaruhi siapa saja dari segala usia, jenis kelamin, suku bangsa, atau latar belakang, dan bukti menunjukkan bahwa kondisi ini lebih umum terjadi daripada gangguan makan lainnya.
Penderita binge-eating memiliki dorongan makan berlebihan yang tidak terkontrol. Tandanya ada keinginan makan secara banyak, terus-terusan, dan tidak terkendali. Tidak seperti penderita bulimia, kondisi ini tidak diikuti dengan upaya untuk membuang makanan melalui perilaku seperti muntah, meskipun terkadang mereka mungkin berpuasa di antara waktu makan berlebihan. Binge Eating bukan tentang memilih untuk makan dalam porsi besar, dan orang yang mengalaminya juga bukan sekadar memanjakan diri secara berlebihan jauh dari kata menyenangkan. Makan berlebihan sangat menyusahkan, sering kali melibatkan jumlah makanan yang jauh lebih banyak daripada yang diinginkan seseorang. Orang mungkin merasa sulit untuk berhenti saat makan berlebihan meskipun mereka ingin. Beberapa orang dengan gangguan makan berlebihan menggambarkan perasaan terputus dari apa yang mereka lakukan saat makan berlebihan, atau bahkan kesulitan mengingat apa yang telah mereka makan setelahnya.
Perilaku-perilaku tersebut biasanya akan diikuti dengan emosi negative seperti malu dan perasaan bersalah. Remaja biasanya merasa tidak dapat mengontrol keinginan makan dan kalau ada yang melarang, mereka akan makan secara diam-diam meskipun tidak dalam kondisi lapar.
Biasanya mereka makan untuk mengeluarkan emosi negatif mereka. Penderita biasanya memiliki berat badan berlebihan meskipun ada yang normal. Mereka pun tidak melakukan semacam kompensasi untuk menurunkan berat badan. Gejala psikologis yang mungkin tampak atau tidak bagi orang lain meliputi depresi, kecemasan, sering melakukan diet tanpa penurunan berat badan merupakan gejala lain dari gangguan makan berlebihan.
Sumber: Tiara Diah Sosialita, 2022. “Eating Disorder: Waspadai Gangguan Makan Pada Remaja,”
National Institute of Mental Health, 2023. Eating Disorders.
Kementerian Kesehatan, 2025. 7 Jenis Gangguan Mental: Ketahui Gejala dan Penanganannya.
Penulis
Achmad Zazuli, Amd. Kep