Gangguan pendengaran pada pasien jiwa sering bermanifestasi sebagai halusinasi audiotorik yakni mendengar suara/bisikan palsu tanpa stimulus nyata yang umum pada skizofrenia, bipolar atau depresi berat. Halusinasi pendengaran adalah gangguan persepsi berupa mendengar suara, bisikan, atau kebisingan yang tidak nyata dan tidak didengar orang lain, ciri utamanya meliputi dimana penderita sering merasa cemas atau berdialog dengan suara tersebut yang bisa berpotensi berbahaya, kondisi ini menyebabkan distorsi persepsi sensori, sering mengancam atau memerintah serta memerlukan penanganan melalui anti psikotik dan psikoterapi untuk mengurangi risiko gangguan fungsi sehari-hari. Halusinasi pendengaran adalah ketika Anda mendengar suara, misalnya suara orang, suara langkah kaki atau ketukan pintu, namun orang lain tidak mendengarnya, karena sebenarnya suara tersebut tidak nyata. Ciri utama halusinasi pendengaran yaitu mendengar suara yang tidak didengar oleh orang lain. Halusinasi bisa terjadi pada salah satu dari lima indra. Tetapi dibandingkan dengan jenis halusinasi lainnya, halusinasi pendengaran lebih umum terjadi. Halusinasi pendengaran bisa dialami oleh siapa saja.
Adapun penyebab dari halusinasi pendengaran meliputi:
1.Mengalami Gangguan Mental
Halusinasi pendengaran sangat umum terjadi pada penderita skizofrenia. Namun, bisa juga terjadi pada penderita gangguan mental lain seperti gangguan bipolar, gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder), depresi berat, dan gangguan stres pasca trauma (PTSD) .
2.Gangguan Pendengaran
Orang yang mengalami gangguan pendengaran pada salah satu atau kedua telinga dapat mengalami halusinasi pendengaran berupa munculnya suara aneh ataupun suara musik. Mereka yang mengeluhkan telinga berdengung atau tinitus juga berisiko mengalami halusinasi pendengaran.
3.Gangguan Tidur
Kurang tidur dapat membuat seseorang rentan mengalami halusinasi. Apalagi jika kurang tidur selama berhari-hari atau dalam periode yang cukup lama. Selain itu, orang yang mengalami gangguan tidur dalam bentuk narkolepsi mungkin untuk mengalami halusinasi saat menjelang tidur ataupun saat bangun tidur.
4.Konsumsi Alkohol dan Obat Terlarang
Konsumsi alkohol dan narkoba seperti ekstasi, LSD, dan kokain umumnya akan menyebabkan halusinasi penglihatan, namun tak menutup kemungkinan juga dapat menyebabkan seseorang mendengar suara-suara yang sesungguhnya tidak ada.
5.Migrain
Kerap kali saat seseorang mengalami migrain, perasaan melihat atau mendengar suara-suara yang sebenarnya tidak ada bisa saja terjadi. Apalagi, jika orang tersebut juga mengalami depresi. Gejala munculnya halusinasi menjelang migrain ini disebut aura.
6.Alzheimer, Demensia dan Parkinson
Penderita Alzheimer, demensia dan penyakit Parkinson sering mengalami halusinasi pendengaran. Sebagian penderita penyakit ini merasakan bahwa suara yang terdengar tampak begitu nyata sehingga mereka kerap menanggapi suara tersebut.
7.Epilepsi
Selain mengalami kejang, penderita epilepsi juga dapat mengalami halusinasi pendengaran. Pasien epilepsi biasanya akan mendengar adanya suara aneh, suara bising, suara keras, dan beberapa orang akan mendengar suara yang lebih kompleks. Halusinasi ini dapat terjadi karena adanya masalah pada bagian otak tertentu.
Berikut ini adalah tekhnik spesifik komunikasi therapeutik untuk pasien jiwa dengan gangguan pendengaran :
1.Komunikasi Verbal
Komunikasi ini yang paling sering digunakan dalam pelayanan keperawatan di rumah sakit (melalui tatap muka), biasanya komunikasi ini lebih akurat dan tepat waktu karena memungkinkan klien merespon secara langsung.
2.Komunikasi Tertulis
Komunikasi ini merupakan bentuk komunikasi yang digunakan sebagai pembuat laporan. contohnya sebagai tanda. bukti otentik, dokumentasi historis, jaminan keamanan, dsb
3.Komunikasi Non Verbal
Komunikasi ini merupakan pemindahan pesan tanpa menggunakan kata-kata. seperti kinesik (bahasa tubuh), proksemik ( individu dengan objek), haptik (menepuk, meraba, mengelus, memegang), paralinguistik ( penggunaan suara), artifak (menggunakan benda disekitar), logo dan warna, dan tampilan fisik tubuh
Kondisi fisik mempunyai pengaruh terhadap komunikasi. Artinya, indra pendengaran mempunyai andil terhadap kelancaran dalam komunikasi.pemicu halusinasi pendengaran : halusinasi ini bisa di picu oleh kurang tidur, stress ekstrim, penyalahgunaan alkohol/narkoba atau penyakit neurologis seperti epilepsi dan demensia. Jika berulang dan menganggu aktifitas, disarakan untuk mencari bantuan medis seperti psikiater untuk evaluasi dan terapi.
Perawat dituntut untuk menjadi komunikator yang baik sehingga terjalin hubungan terapeutik yang efektif antara perawat dengan klien, Pendekatan khusus pada pasien jiwa bisa dimulai dengan memvalidasi perasaan, meskipun sulit mendengar serta menvalidasi perasaan pasien untuk membangun rasa percaya. Melakukan strategi pelaksanaan (SP) dengan menerapkan komunikasi therapeutik bertahap untuk membantu pasien mengenali dan mengontrol halusinasi,fokus pada penguatan komunikasi nonverbal jika pasien terdistraksi oleh suara. Dalam melakukan pendekatan khusus pada pasien jiwa dengan gangguan halusinasi harus sabar dan tenang untuk menghindari sikap terburu-buru yang dapat mengingkatan kecemasan pasien jiwa.
DAFTAR PUSTAKA
Diakses 20 April 2025 https://www.alodokter.com/halusinasi-pendengaran-bisa-disebabkan-berbaga...
Diakses 20 April 2025 https://mahasiswaindonesia.id/komunikasi-terapeutik-pada-pasien-dengan-g...
Penulis
Ns Restha Firanda Amk S.Kep