Epilepsi merupakan salah satu penyakit kronis pada otak yang mempengaruhi sekitar 50 juta orang di seluruh dunia. Ini ditandai dengan kejang berulang, yang merupakan peristiwa singkat gerakan tak sadar yang mungkin melibatkan sebagian tubuh atau seluruh tubuh dan terkadang disertai dengan hilangnya kesadaran dan kontrol fungsi usus atau kandung kemih. Epilepsi merupakan salah satu penyakit kronik dengan angka kejadian tinggi khususnya di negara berkembang, penyakit epilepsi bersifat kronik, sehingga dapat mengganggu kualitas hidup dan membutuhkan biaya cukup banyak. Epilepsi juga dikenal dengan sebutan ayan yang memiliki ciri khas berupa kejang kambuhan yang seringnya muncul tanpa pencetus, penyakit ini terjadi karena adanya gangguan sistem saraf pusat (Neuologis) yang menyebabkan kejang atau terkadang kehilangan kesadaran. Tatalaksana dari penyakit epilepsi yaitu memulai terapi dengan monoterapi menggunakan obat antiepilepsi yang disesuaikan dengan jenis bangkitan. Jika terapi obat antiepilepsi pertama dengan dosis maksimun tidak dapat mengontrol bangkitan maka terapi diganti dengan obat antiepilepsi kedua. Terapi obat antiepilepsi yang kedua harus memiliki mekanisme kerja yang berbeda dengan obat antiepilepsi pertama. Penghentian pemberian antiepilepsi dapat dilakukan setelah 2 tahun pasien tidak mengalami kejang serta perlu mempertimbangkan faktor klinis, pribadi dan sosial yang relevan. A.Etilogi Epilepsi   1.Epilepsi idiopatik atau epilepsi primer, yakni epilepsi yang tidak diketahui penyebabnya, sering kali bersifat genetik 2.Epilepsi simptomatik atau epilepsi sekunder, yakni terjadinya epilepsi karena kondisi medis lain, termasuk cedera otak, stroke, infeksi, cacat bawaan, atau tumor   3.Epilepsi kriptogenik, merujuk pada kasus epilepsi yang penyebabnya tidak diketahui, tetapi diduga ada kelainan otak yang belum diketahui 4.Autoimun. Imunitas atau sistem kekebalan tubuh berfungsi untuk melindungi tubuh dari serangan bakteri, virus, dan zat berbahaya. Namun, gangguan pada imunitas tubuh juga bisa menyebabkan terjadinya autoimun epilepsi. B.Faktor Risiko Epilepsi   1.Epilepsi umumnya dialami oleh usia anak-anak dan lansia.   2.Riwayat kesehatan yang dialami oleh anggota keluarga dapat menjadi pemicu penyebab epilepsi. 3.Riwayat kejang di masa kecil, kejang dapat disebabkan oleh demam tinggi.   4.Demensia   C.Gejala Epilepsi   1.Mengalami sentakan dan guncangan yang tidak terkendali   2.Pandangan kosong, dan arah pandangan ke atas   3.Tubuh kaku atau lemas   4.Tidak bisa mengatur gerakan tubuh   5.Kesulitan bernapas atau beberapa saat, sehingga badan terlihat pucat atau bahkan membiru. D.Faktor Risiko Pemicu Kambuhnya Epilepsi   1.Tersorot lampu yang sangat terang   2.Melewatkan dosis obat antikejang atau mengonsumsi obat tersebut tidak sesuai dengan anjuran dokter 3.Kurang tidur   4.Perubahan hormon selama siklus menstruasi, maupun kehamilan   5.Stres berat   E.Langkah-Langkah Pertolongan Pertama Menolong Pasien Epilepsi yang Tepat :   1.Tetap tenang dan jangan panik.   2.Lindungi kepala pasien tersebut dari benturan. Letakkan sesuatu yang lembut di bawah kepalanya. 3.Longgarkan pakaian ketat di sekitar leher.   4.Miringkan tubuhnya ke samping untuk mencegah tersedak jika terjadi muntah.   5.Jangan memasukkan apapun ke dalam mulutnya.   6.Perhatikan durasi kejang. Jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit atau terjadi kejang berulang tanpa sadar di antaranya, segera cari pertolongan medis. 7.Tetaplah bersama pasien tersebut sampai ia sadar sepenuhnya dan menawarkan bantuan jika diperlukan. F.Pengobatan Epilepsi   1.Pemberian obat-obatan   Dokter akan meresepkan obat antikejang untuk mencegah kambuhnya kejang. Dokter akan meresepkan obat tersebut sesuai dengan kondisi masing-masing pasien saat ini. 2.Terapi diet   Diet ketogenik dan diet Atkins merupakan pola makan yang dianjurkan untuk penderita epilepsi. Pilihan makanan dengan komposisi lemak tinggi, protein sedang, dan karbohidrat yang rendah. Selain itu, diet indeks glikemik rendah juga dianjurkan untuk orang yang mengalami epilepsi karena mampu mengurangi kekambuhan kejang pada sebagian penderita epilepsi. 3.Transcranial Magnetic Stimulation (TMS)   Merupakan suatu terapi non-operatif untuk pasien epilepsi dengan memanfaatkan medan magnet untuk memberi stimulasi saraf di otak yang terlalu aktif dan memicu terjadinya kejang pada orang dengan epilepsi. 4.Tindakan pembedahan   Apabila obat antikejang yang dikonsumsi tidak bisa mengontrol kondisi pasien sehingga kejang terus berulang, dokter mungkin akan mempertimbangkan untuk menjalani operasi.   Daftar Pustaka   1.https://www.halodoc.com/kesehatan/epilepsi?srsltid=AfmBOorQMUtENbsWD8bnL... nw9QNh5X7rYYAhVIe2VlSs9Zbc3P75E 2.https://rsudsleman.slemankab.go.id/read/mari-mengenal-epilepsi   3.https://eprints.poltekkesjogja.ac.id/13147/3/Chapter%201.pdf   4.https://www.rspondokindah.co.id/id/news/epilepsi-gejala-penyebab-penanganan