Hamil dan melahirkan merupakan proses normal dalam kehidupan. Perempuan di usia produktif dapat mengalaminya satu kali atau lebih dalam kehidupannya. Kehamilan biasanya mendatangkan kebahagiaan bagi perempuan yang mengalaminya maupun bagi orang-orang di sekitarnya. Perempuan yang mengetahui bahwa dirinya hamil akan secara naluriah melakukan perubahan-perubahan dalam kesehariannya, misalnya dengan mengurangi kegiatan fisik yang berat, memilih makanan dan minuman yang baik dikonsumsi selama hamil, lebih banyak membaca atau membicarakan tentang kehamilan dan bayi. Orang-orang di sekitar sang calon ibu pun biasanya memberikan nasihat-nasihat tentang hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama kehamilan.
Peran baru sebagai ibu yang disandangnya ketika anaknya telah lahir membuat hidupnya terasa lebih berarti dan dapat meningkatkan rasa percaya diri dalam pergaulannya di tengah keluarga dan masyarakat. Hari-hari pertama bersama bayinya membuatnya merasa dibutuhkan dan berarti walaupun ia merasa lelah mengurus bayinya tersebut.
Namun, ada perempuan yang justru mengalami perasaan sedih, putus asa, rasa lelah, mudah marah, merasa dirinya tidak berarti dan tidak berdaya seusai melahirkan bayi yang sebelumnya dinanti-nantikannya. Kondisi ini diikuti oleh keengganan untuk merawat bayinya, adanya perasaan ingin bunuh diri, atau bahkan timbul keinginan untuk membunuh bayinya. Jika dibiarkan, kondisi seperti ini dapat berakibat buruk bagi ibu, bagi bayinya, dan bagi orang di sekitarnya. Bayi dapat mengalami gangguan perkembangan, baik fisik maupun kepribadiannya.
Tanda dan gejala yang dijabarkan di atas merupakan sebuah kondisi yang disebut Depresi Pasca Persalinan. Kejadiannya sekitar 15-20% dari seluruh angka persalinan ibu. Angka tersebut bukanlah angka yang kecil, tetapi keberadaannya seringkali tidak terdeteksi dan tidak terlaporkan, karena ibu yang mengalaminya maupun keluarga tidak memahami apa yang sedang terjadi, sehingga tidak membawanya ke dokter atau layanan kesehatan lainnya. Padahal kondisi ini cukup serius, mengingat dampaknya bagi si ibu sendiri maupun terhadap bayinya.
Depresi Pasca Persalinan adalah depresi yang ditemukan pada ibu setelah melahirkan yang terjadi dalam kurun waktu setidaknya selama empat minggu, dapat berlanjut sampai beberapa bulan bahkan lebih lama bila tidak diatasi dengan tepat. Kondisi ini harus dibedakan dengan maternity blues atau postpartum blues, yaitu gejala depresi pada ibu yang baru melahirkan, pada hari ketujuh sampai hari keempat belas setelah bersalin. Berbeda dengan Depresi Pasca Persalinan, Postpartum Blues berlangsung sementara dan dapat pulih tanpa pengobatan. Penyebabnya adalah perubahan kadar hormon yang berlangsung cepat setelah melahirkan, ibu tidak siap menerima tanggung jawab baru, kurangnya dukungan orang sekitar, atau konflik internal maupun eksternal pada diri ibu.
Gejala Depresi Pasca Persalinan serupa dengan gejala depresi pada umumnya, yaitu perasaan sedih, cepat lelah, kehilangan minat terhadap hal-hal yang awalnya disukai, gangguan pola tidur, gangguan pola makan, kehilangan gairah seksual, mudah tersinggung. Pada Depresi Pasca Pesalinan, ibu yang awalnya menanti-nantikan kehadiran bayi, justru menjadi kehilangan minat mengurus bayinya, bahkan ada keinginan untuk mengenyahkan bayinya. Seringkali ibu menjadi putus asa dengan kondisinya dan berpikir untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Kondisi ibu dengan Depresi Pasca Persalinan dapat menyebabkan gangguan perkembangan fisik maupun psikologis pada bayinya, karena pemberian makanan (ASI) akan berkurang, dan komunikasi antara ibu dengan bayi juga tidak berlangsung seperti yang seharusnya.
Depresi Pasca Persalinan dapat diobati, dan semakin cepat mendapat pengobatan, hasil yang didapat akan semakin baik. Keluarga atau orang sekitar merupakan penolong yang paling dapat diharapkan untuk segera mengenali gejalanya dan membawa ibu yang mengalami Depresi Pasca Persalinan untuk segera diobati. Pengobatan tidak selalu dengan obat, mengingat ibu harus menyusui anaknya dan obat harus digunakan sebijaksana mugkin dengan mempertimbangkan untung rugi terhadap bayi yang disusuinya. Pilihan pertama yang diberikan adalah psikoterapi, yaitu terapi psikologis bagi ibu untuk memahami kondisi yang dialaminya, memberi dukungan, mengoptimalkan potensi yang ada di dalam dirinya, mengubah cara berpikirya, dan membuatnya merasa nyaman dengan peran barunya. Terapi dan edukasi juga perlu diberikan bagi keluarga terdekat, agar keluarga dapat paham kondisi ibu yang mengalami depresi, dan mengerti hal-hal apa yang harus dilakukan untuk membantu proses pemulihannya.
Obat dapat diberikan jika psikoterapi tidk memungkinkan untuk dilakukan, atau kondisi Depresi Pasca Persalinan yang dialami berat dan membahayakan ibu ataupun bayinya. Bila obat yang diberikan berisiko terhadap bayi, maka untuk sementara waktu ASI dihentikan sampai keadaan lebih memungkinkan untuk melanjutkan pemberian ASI.
Semakin cepat Depresi Pasca Persalinan ditangani maka proses pemulihannya akan semakin baik, dan risiko bagi ibu dan bayi juga akan semakin kecil.
Referensi :
American Psychiatric Association : Desk Reference to the Diagnostic Criteria from DSM-5. Arlington, VA, American Psychiatric Association, 2013.
Elvira SD. Depresi Pasca Persalinan. Balai Penerbit Fakultas Universitas Indonesia, 2006.
Penulis :
dr. Imelda Gracia Gani, SpKJ
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (Psikiater)
Rumah Sakit iwa Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Penulis
dr Imelda Gracia Gani, Sp.KJ