Fatherless dan kesehatan mental anak? Apakah ada hubungannya?
Data yang didapat dari UNICEF pada tahun 2021, kurang lebih 20,9% anak-anak di Indonesia tumbuh kembangnya tidak ada kehadiran dari seorang ayah begitupun peran ayah yang seharusnya, dikarenakan adanya perceraian, orangtua (ayah) yang meninggal, ataupun ayah yang tinggal harus berjauhan dari anak.
Istilah Fatherless atau tanpa ayah akhir-akhir ini mulai sering dibahas, walaupun sebenarnya sejak dahulu pun memang sudah ada. Fatherless adalah tidak adanya peran dan figur dari seorang ayah dalam tumbuh kembang anak. Selain terjadi kepada anak-anak yatim juga terjadi kepada anak-anak yang hubungannya tidak dekat dengan ayah dalam tumbuh kembang anak. Ketidakhadiran seorang ayah bisa secara fisik atau psikologis, hal ini bisa disebabkan karena orangtua (ayah) yang meninggal atau adanya perceraian hingga tidak memiliki akses untuk berkomunikasi dengan baik.
Padahal peran serta ayah dalam tumbuh kembang anak sangat penting dalam tumbuh kembang anak.
Berikut adalah peran dari seorang ayah dan ibu di dalam keluarga
1. Orangtua sebagai teladan atau contoh yang baik dalam tutur kata maupun tindakannya
2. Orangtua memberikan kedisiplinan terhadap sesuatu yang salah atau buruk
3. Orangtua memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya
4. Orangtua sebagai perantara anaknya ke lingkungan masyarakat
Selain itu arti kehadiran ayah bagi anaknya yaitu mendukung sumber keuangan untuk anaknya, sebagai teman yang menyenangkan bisa dengan mendampingi anak bermain, bercanda,memiliki hubungan yang baik dengan anak, sebagai teman dalam menyelesaikan masalah atau membantu anak dalam mengatasi stresnya atau cemasnya, dan aktif dalam perkembangan anaknya, ayah juga sebagai sosok yang membuat nyaman sehingga anak merasa aman, sebagai guru atau panutan untuk anaknya, mengawasi anaknya dan mendidik anak untuk disiplin, melindungi anaknya dan memberikan kesejahteraan bagi anak-anaknya serta memiliki support dalam kesuksesan anak.
Begitu banyak peran ayah dalam tumbuh kembang anak, sehingga bisa disimpulkan apabila ayah tidak dapat memenuhi perannya dengan baik akan berdampak terhadap kesehatan mental anaknya. Benarkah demikian ? hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Musfirah Azis dan M. Ahkam dengan jurnal Pengaruh Fatherless Terhadap Kesejahteraan Psikologis Pada Mahasiswa Universitas Negeri Makassar didapatkan hasil fatherless memiliki pengaruh terhadap kesejahteraan psikologis dimana semakin tidak adanya kehadiran ayah maka semakin rendah tingkat kesejahteraan psikologisnya.
Apa saja dampak atau pengaruh buruk yang ditimbulkan dengan adanya fatherless?
1. Emosi anak labil, mudah depresi, cemas dan sulit dalam mengontrol emosi
2. Perilaku yang buruk, sulit diatur, tidak disiplin dan merugikan diri sendiri, pemakaian napza.
3. Kepercayaan diri kurang
4. Sulit dalam membangun hubungan sosial
5. Kurangnya support keuangan dan sosial
Begitu berpengaruh bukan kehadiran dari ayah dalam tumbuh kembang anaknya?, dan hal ini bisa saja memberikan dampak bagi anak hingga dia beranjak dewasa, seperti penelitian terkait tersebut, kehadiran seorang ayah juga mempengaruhi dalam pengambilan keputusan dalam penyelesaian masalah dan juga meningkatkan rasa percaya diri dalam bersosialisasi di lingkungan sekitarnya, oleh karena itu tanggung jawab mengasuh anak bukan saja hanya untuk seorang ibu, tetapi diharapkan juga dengan adanya kehadiran seorang ayah baik secara fisik maupun psikologis, semangat untuk selalu mendidik anak bersama-sama dan kompak agar anak tumbuh dalam lingkungan yang sehat dan menyenangkan.
Daftar Pustaka
1. Azis, M., Ali,M Ahkan. (2024) Pengaruh Fatherless Terhadap Kesejahteraan Psikologis Pada Mahasiswa Universitas Negeri Makassar. Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora.
2. Fadli, dr R. (2023, 12 Mei). Dampak Fatherless Bagi Perkembangan Anak. Diakses Pada 20 Desember 2024 dari https://www.halodoc.com/artikel/dampak-fatherless-bagi-perkembangan-anak...
3. Hart,Harold. (1999). Organic Chemistry. Haughton Mifflin Company : New York.
4. Hasna, Irma U. (2022) Dampak Fatherless Terhadap Kondisi Emosi Remaja Korban Perceraian. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Islam Sultan Agung Semarang.
5. Hoffman, M. (2001). Prosocial Behavior and Empathy. Dalam Smelser, N.J. & Baltes, P.B. International Encylopedia of the Social & Behavior Sciences. Oxford : Elsevier Science, Ltd
6. Regina, Zahwa Novia. (2024, 13 Mei). Fatherless : Indonesia, Benarkah Negara Kekurangan Figur ayah?. Diakses Pada 20 Desember 2024 dari https://kumparan.com/zahwaawa11/fatherless-indonesia-benarkah-negara-kek...
Penulis
Ulfa Undari, S.Kep., Ners