PASUNG DAN PENGANIAYAAN FISIK PADA ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA

Kekerasan fisik yang dialami oleh ODGJ meliputi penganiayaan fisik dan pemasungan. Penganiayaan fisik dilakukan keluarga terhadap ODGJ disebabkan kurang pengetahuan keluarga dalam merawat ODGJ, baik ketidaktahuan dalam cara merawat maupun ketidaktahuan dalam pengobatan. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 menjelaskan bahwa penganiayaan fisik merupakan bentuk kekerasan fisik yang mengakibatkan korban mengalami rasa sakit, jatuh sakit, dan luka berat. Penganiayaan fisik yang dialami oleh ODGJ bermacam-macam bentuknya. Penganiayaan fisik yang dialami berupa pukulan, baik dengan menggunakan alat atau benda, maupun dengan tangan kosong. Penganiayaan fisik dilakukan oleh keluarga untuk menimbulkan efek jera kepada ODGJ yang tidak patuh kepada keluarga, seperti ketidakpatuhan ODGJ dalam pengobatan. Penganiayaan tersebut ternyata tidak membuat ODGJ menjadi patuh, akan tetapi justru menimbulkan dampak negatif. Dampak yang dialami oleh ODGJ tidak hanya membawa dampak terhadap fisik korban, tetapi juga memiliki dampak psikologis.

Pemasungan menjadi pilihan bentuk kekerasan yang dilakukan keluarga terhadap ODGJ. Pemasungan dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti pengikatan dan pengurungan. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan pemasungan sebagai tindakan memasukkan ke dalam kurungan atau membatasi gerakan (Poerwadarminta, 2006). Pada penelitian ini, pemasungan yang dilakukan keluarga adalah dengan cara pengurungan dan pengikatan. Pemasungan dilakukan oleh keluarga sebagai cara untuk melindungi anggota keluarga dari gejala psikotik yang ODGJ alami. Hal ini sesuai dengan penelitian Buanasari, Daulima, dan Wardani (2016) yang menyatakan bahwa penyimpangan perilaku dan stigma sebagai alasan dilakukannya pemasungan. Gejala psikotik berupa amuk menjadi alasan keluarga yang paling utama melakukan pemasungan. Penelitian Mariyati, Hamid, dan Daulima (2016) juga menyatakan bahwa amuk sebagai alasan pengikatan. Meskipun demikian, tindakan pemasungan tetap tidak dapat dibenarkan karena menimbulkan dampak negatif bagi ODGJ.

ODGJ yang mengalami pemasungan mengalami dampak negatif pada fisiologis. Jacubowski et al (2015) menjelaskan bahwa ada peningkatan hormon kortisol yang merupakan hormon pemicu stres pada ODGJ yang mengalami isolasi atau pengasingan. Selain itu, pemasungan dalam jangka waktu lama tanpa adanya pengobatan dapat menyebabkan kerusakan otak karena kadar dopamin yang meningkat secara terus menerus dapat merusak saraf (Lestari, Choiriyyah, & Matahfi, 2014). Kerusakan saraf  tersebut akan menyebabkan penurunan fungsi kognitif dan mengganggu kontrol emosi pada ODGJ. Pemasungan dalam waktu yang lama juga dapat menyebabkan ODGJ rentan terkena infeksi dan mengalami kontraktur otot (Iskandar et al, 2013).

Dampak psikologis juga dialami oleh ODGJ yang mengalami pemasungan. ODGJ yang dipasung dapat mengalami trauma, merasa diabaikan, dendam pada keluarga, putus asa, bahkan dapat menimbulkan keinginan bunuh diri (Lestari, Choiriyyah & Mathafi, 2014). Selain itu, pemasungan juga dapat menyebabkan fungsi sosial ODGJ menurun. ODGJ menjadi lebih banyak diam. Menurut Rasmawati, Daulima, dan Wardani (2016), ODGJ yang dipasung memiliki manifestasi awal berupa perilaku menarik diri. Hal ini mengakibatkan ODGJ yang dipasung akan mengalami gejala negatif yang semakin parah.

Melihat besarnya dampak yang ditimbulkan akibat kekerasan fisik berupa pemasungan, maka negara melindungi setiap warga untuk bebas dari pemasungan. Pemasungan merupakan bentuk pelanggaran hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM). Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pasal 28 (G) ayat 2 menyatakan bahwa setiap warga mempunyai hak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan yang merendahkan martabat manusia. Pemasungan yang dialami oleh ODGJ dapat merampas hak ODGJ untuk bebas dan merupakan tindakan yang merendahkan martabat ODGJ itu sendiri. Oleh karena itu, pengetahuan keluarga tentang hukum menjadi sangat penting sehingga tidak terjadi lagi kekerasan fisik berupa pemasungan.

 

REFERENSI

Buanasari, A., Daulima, N. H. C., & Wardani, I. Y. (2016). Pengalaman Remaja Hidup Bersama Orang Tua dengan Gangguan Jiwa yang Dipasung. Tesis. FIK UI. Tidak dipublikasikan.

Iskandar, S., et al. (2015). Menuju Jawa Barat Bebas Pasung: Komitmen Bersama 5 Kabupaten Kota. Tesis. Universitas Padjajaran. Tidak dipublikasikan

Jacubowski., et al. (2015). The impact of long-term confinement and exercise on central and peripheral stress markers. Physiology & Behavior 152, 106–111

Lestari, P., Choiriyyah, Z., & Mathafi. (2014). Kecenderungan atau sikap keluarga penderita gangguan jiwa terhadap tindakan pasung (Studi kasus di RSJ Amino Gondo Hutomo Semarang). Jurnal Keperawatan Jiwa, 2, (1); 14-23.

Mariyati., Hamid, A. Y. S., & Daulima, N. H. C. (2016). Studi Fenomenologi: Pengalaman Klien Perilaku Kekerasan yang Pernah Dilakukan Pengikatan. Tesis. FIK UI. Tidak dipublikasikan.

Poerwadarminta, W.J.S. (2006). Kamus Umum Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta : Balai Pustaka.

Rasmawati., Daulima, N. H. C., & Wardani, I. Y. (2016). Pengalaman Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Paska Pasung Melakukan Adaptasi Fungsi Sosial di Masyarakat. Tesis. FIK UI. Tidak dipublikasikan.

 

Penulis: 
Ns.Kristianus Triaspodo, M.Kep, Sp.Kep.J
Sumber: 
Perawat Rumah Sakit Jiwa Daerah

Artikel

13/01/2022 | Roesmala Dewi,AMK
29/12/2021 | Novariani, S.Si, Apt
29/12/2021 | Novariani, S.Si, Apt
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
10/10/2018 | Emanuel Triwisnu Budi, AMK
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep

ArtikelPer Kategori