PENTINGNYA HIJAB PADA PASIEN MUSLIM DI RUMAH SAKIT JIWA

Terjadinya peningkatan gaya hidup menyebabkan terjadinya peningkatan kebutuhan hidup manusia, sehingga banyak diantara manusia tersebut bekerja tanpa mengenal waktu, sehingga kecenderungan untuk stress maupun depresi sangatlah besar. Himpitan ekonomi yang semakin berat serta ketidak mampuan individu dalam menghadapinya juga dapat menyebabkan stress maupun depresi. Stress yang terjadi bukan hanya melanda orang dewasa, bahkan juga melanda anak-anak. Gangguan kesehatan jiwa yang dialami oleh masyarakat bukan hanya dari kalangan ekonomi lemah, tapi dihadapi juga oleh orang-orang kaya, terutama mereka yang sedang dalam tekanan, baik psikis, maupun psikologis.
Stres seringkali dikaitkan dengan penyebab utama penyakit fisik, psiko-fisiologis (maag/ulcer, colitis, tekanan darah tinggi). Seseorang yang kehidupannya penuh dengan tekanan atau terikat dengan jadwal yang sangat ketat berpotensi berpenyakit jantung koroner. Salah satu fakta yang mengejutkan tentang stres adalah kenyataan menunjukan bahwa stres dapat menyebabkan neurotransmiter hilang dari otak (norepinephrine, serotonin, dopamine) sehingga orang yang bersangkutan mengalami depresi atau psikosis. Orang dalam proses penyembuhan bagian-bagian tubuh yang mengalami infeksi karena penyakit atau habis dioperasi bila mengalami stres akan mengalami keterlambatan.
Stress maupun depresi yang berlangsung terus menerus dapat menyebabkan terjadinya penyakit gangguan mental. Gambaran yang ditimbulkan adanya kesadaran mulai menurun, perasaan yang menjadi gelisah tidak tenang, dan emosi yang sering meluap-luap atau tak terkendali. Bila hal ini terjadi secara terus menerus dan tidak tertanggulangi dengan baik maka, penyakit ini akan mendorong penyakit-penyakit lain unutk timbul seperti penyakit jantung, karena sering emosi dan marah-marah sehingga tekanan darah pun akan ikut naik atau akan terjadi gangguan mental berat.
Pasien dengan penyakit gangguan mental membutuhkan penanganan khusus dan intensif dikarenakan orang yang terkena penyakit gangguan mental ini cenderung untuk menyakiti dirinya sendiri dan orang lain, serta membutuhkan waktu yang relatif lama untuk penyembuhan dan pemulihan. Selain membutuhkan waktu yang panjang dalam penanganannya, pasien gangguan mental juga harus ditempatkan di tempat yang khusus karena itulah dibutuhkan rumah sakit jiwa.
Rumah sakit jiwa atau insane asylums telah didirikan para dokter dan psikolog Islam beberapa abad sebelum peradaban Barat menemukannya. Dalam menjalankan pelayanan pihak Rumah sakit memasukkan unsur-unsur keislaman misalnya konsep hijab (konsep pemisahan antara laki-laki dengan perempuan).
Hijab yang merupakan tabir atau tirai yang berfungsi melindungi kaum perempuan terhadap pandangan dari kaum laki-laki. Hijab juga dapat digunakan sebagai pembeda antara laki-laki dan Perempuan, karena hijab hanya diperuntukan bagi perempuan saja. Penggunaan hijab bagi Perempuan muslim merupakan sebuah kewajiban, maka hendaknya setiap Perempuan muslim menggunakan hijab dalam keseharianya terlebih disaat ia diluar Rumah atau ditempat yang terbuka.
Kewajiban dan ancaman terkait hijab bagi Perempuan muslim sudah diatur dalam kitab yang diyakini umat muslim yaitu Al-Quran dan Hadist. Hijab merupakan sebuah keharuskan pada setiap Perempuan muslim dengan tanpa terkecuali, bila ada pelanggaran maka akan ada sangsi bagi pelanggarnya. Pelanggaran terkait hijab dapat dikenakan pada Perempuan maupun pada laki-laki, maka penting untuk memperhatikan hijab bagi Perempuan muslim. Bila melihat pentingnya hijab bagi Perempuan muslim maka, Perempuan muslim yang memiliki penyakit gangguan mental seharusnya tetap menggunakan hijab walaupun dalam kondisi perawatan.
Orang yang menderita penyakit gangguan mental, memiliki kesadaran yang kurang sehingga perlu adanya bantuan pada saat beraktivitas baik dirumah maupun di Rumah sakit. Saat menjalani perawatan di Rumah sakit, orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) memiliki hak dalam menjalankan ibadahnya. Maka perlu adanya pemenuhan kebutuhan rohani yang harus diberikan pada ODGJ, salah satunya tetap tertutup auratnya walau dalam keadaan tidak sadarkan diri. Penutupan aurat pada Perempuan muslim saat menjalani perawatan termasuk kedalam tindakan dalam menjaga prafesi klien saat dilakukan tindakan.
Rumah sakit jiwa yang menjalankan konsep hijab tentunya tidak akan mengabaikan keperluan rohani klienya terkait penggunaan hijab bagi klien yang Perempuan. Namun bagi Rumah sakit yang tidak menggunakan konsep hijab tentunya hal ini sering terabaikan. Penting seharunya untuk diperhatikan terkait penggunaan hijab bagi klien Perempuan muslim saat menjalani perawatan, karna hal ini terkait dengan hak klien dalam menjalankan ibadahnya serta untuk Perlindungan bagi klien.
Penggunaan hijap pada klien perempuan diharapkan juga untuk melatih para pasien yang terkena penyakit gangguan mental ini untuk menyadari bahwa mereka adalah manusia, dimana manusia ada yang laki-laki dan perempuan. Sehingga dengan adanya pemisahan dan penggunaan hijab bagi klien perempuan diharapkan mendidik para pasien gangguan mental dalam hal menjalankan agamanya. Hal ini bertujuan juga untuk menjaga agar pasien laki-laki dengan perempuan tidak bercampur.

Suber:
Pasal 13 UU No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Jakarta.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 39 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga. Jakarta.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat. Jakarta.
Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2015 tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Tahun 2015- 2019. Jakarta.
Pengurus Provinsi Persatuan Perawat Nasional Indonesia. 2009. Kode Etik Keperawatan Lambang, Panji PPNI dan Ikrar Keperawatan. Jakarta.
Prabowo, Eko. 2017. Asuhan Keperawatan Jiwa. Semarang: Universitas Diponegoro
RSI Muhammadiyah Pekajangan. 2010. Pedoman Etik Profesi Keperawatan dan Kebidanan. Pekalongan.
Swarjana, I Ketut, 2016. Ilmu Kesehatan Masyarakat. ANDI. Yogyakarta
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa. Jakarta.

Penulis: 
Ns. Mewasusnita, S. Kep
Sumber: 
Perawat Rumah Sakit Jiwa Daerah

Artikel

05/05/2021 | Ns. Sari Anggun Feby Royanti, S. Kep
03/05/2021 | Enser Rovido, S. Kep, Ners
03/05/2021 | Mita Octarina, M.Psi., Psikolog
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep
10/10/2018 | Emanuel Triwisnu Budi, AMK

ArtikelPer Kategori