Kesehatan jiwa atau pengertian yang lain ialah kesehatan mental (mental health) merupakan tingkatan kesejahteraan secara psikologis. Kesehatan jiwa terdiri dari beberapa jenis kondisi yang secara umum dikategorikan dalam kondisi sehat, gangguan kecemasan, stres, dan depresi. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kesehatan jiwa yang baik adalah kondisi dimana seseorang secara batin berada dalam keadaan tenteram dan tenang, sehingga memungkinkan untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar. Kesehatan jiwa dapat didefinisikan juga sebagai ranah yang mengurusi (mengelola, dan sebagainya) suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu sejalan dan selaras dengan keadaan orang lain.
Sedangkan Kesehatan Jiwa Lansia merupakan tingkatan kesejahteraan secara psikologi pada Lansia, yang terdiri dari beberapa jenis yang dikategorikan dalam kondisi sehat jiwa Lansia, gangguan kecemasan pada Lansia, stres pada Lansia, dan depresi pada Lansia. Kesehatan jiwa Lansia yang baik adalah kondisi dimana Lansia secara batin dalam keadaan tenteram dan tenang, sehingga memungkinkan untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar. Seseorang yang mengalami mengalami gangguan kesehatan mental, harus segera diatasi agar tidak menimbulkan penyakit mental. Karena gangguan kesehatan mental dapat mempengaruhi bagaimana cara seseorang berperilaku, berhubungan/sosial dengan orang lain, membuat pilihan, hingga dapat memicu hasrat untuk menyendiri dan menyakiti diri sendiri. Beberapa jenis gangguan mental Lansia yang umum ditemukan di masyarakat adalah, depresi pada Lansia, gangguan bipolar pada Lansia, kecemasan atau ketakutan pada Lansia, stres pada Lansia, dll.
A. Peran Perawat Jiwa Lansia
Perawat yang bekerja dengan lansia yang memiliki gangguan kejiwaan harus menggabungkan keterampilan keperawatan jiwa dengan pengetahuan gangguan fisiologis, proses penuaan yang normal, dan sosiokultural pada lansia dan keluarganya. Sebagai pemberi pelayanan perawatan primer, perawat jiwa lansia harus pandai dalam mengkaji kognitif, afektif, fungsional, fisik, dan status perilaku. Perencanaan dan intervensi keperawatan mungkin diberikan kepada pasien dan keluarganya atau pemberi pelayanan lain. Sebagai perawat jiwa lansia mengkaji penyediaan perawatan lain pada lansia untuk mengidentifikasi aspek tingkah laku dan kognitif pada perawatan pasien. Perawat jiwa lansia harus memiliki pengetahuan tentang efek pengobatan psikiatrik pada lansia. Mereka dapat memimpin macam-macam kelompok seperti orientasi, remotivasi, kehilangan dan kelompok sosialisasi dimana perawat dengan tingkat ahli dapat memberikan psikoterapi.
Pengkajian pasien lansia menyangkut beberapa aspek yaitu biologis, psikologis, dan sosiokultural yang beruhubungan dengan proses penuaan yang terkadang membuat kesulitan dalam mengidentifikasi masalah keperawatan. Pengkajian perawatan total dapat mengidentifikasi gangguan primer. Diagnosa keperawatan didasarkan pada hasil observasi pada perilaku pasien dan berhubungan dengan kebutuhan. Sekitar 15 % orang berusia di atas 60 tahun mengalami gangguan jiwa. Gangguan jiwa yang kerap ditemukan pada kelompok usia ini adalah demensia dan depresi. Selain gangguan tersebut, gangguan lain yang juga ditemui adalah gangguan cemas, obsesif kompulsif, fobia dan stres pasca trauma. Diperkirakan saat ini 5-8 diantara 100 lansia mengalami demensia. Satu dari 10 lansia dalam sebuah komunitas mengalami depresi, angka ini meningkat pada lansia yang sedang mengalami perawatan hingga mencapai 1-5. Salah satu masalah dalam deteksi dan penanganan gangguan jiwa pada lansia adalah, kerap kali lansia lebih mengeluhkan gejala fisik daripada gejala kejiawaannya. Masalah fisik dan stres emosional yang lazim ditemui saat proses penuaan dapat menjadi pemicu terjadinya gangguan jiwa seperti depresi dan cemas. Berikut 10 hal yang perlu diwaspadai sebagai tanda gangguan jiwa pada lansia
- Perasaan sedih yang berlangsung lebih dari 2 minggu
- Penarikan diri, kehilangan minat terhadap hal yang dulu diminati
- Rasa lelah, hilang energi atau perubahan pola tidur yang tidak bisa dijelaskan
- Kebingungan, disorientasi, sulit konstentrasi atau masalah pengambilan keputusan
- Peningkatan atau penurunan nafsu makan, perubahan berat badan
- Gangguan daya ingat, terutama masalah daya ingat segera atau jangka pendek
- Merasa tak berdaya, rasa bersalah, ide bunuh diri
- Masalah fisik yang tidak dapat dijelaskan seperti nyeri, sulit buang air besar dll,
- Perubahan penampilan atau cara berpakaian atau kesulitan menjaga kebersihan diri dan rumah
- Masalah keuangan atau yang berkaitan dengan perhitungan..
B. Konsep Tujuan Dan Fungsi Pelayanan Perawatan Pada Lansia Dengan Gangguan Jiwa
Tujuan pedoman pelayanan ini adalah memberi arah dan memudahkan petugas dalam memberikan pelayanan sosial, kesehatan dan perawatan lanjut usia , serta meningkatkan mutu pelayanan bagi lanjut usia, Tujuan pelayanannya adalah:
- Terpenuhinya kebutuhan lansia yang mencakup biologis,psikologis,sosial dan spiritual.
- Memperpanjang usia harapan hidup dan masa produktifitas lansia.
- Terwujudnya kesejahteraan sosial lansia yang diliputi rasa tenang, tenteram, bahagia, dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Berikut ini langkah langkah yg harus dilakukan untuk merawat pasen lansia
1. Sadari benar riwayat penyakit pasen
Sebagai perawat harus bisa mengetahui anggota keluarga pasien tentu lebih tahu tentang kondisi pasen sejak sakit sampai sekarang, baik bersipat subjektif ( misalkan dari keluhan yg diungkapkan sendiri oleh pasen) atau yg bersipat objektif ( dari hasil konsultasi dengan dokter di rumah sakit), atau dari hasil pemeriksaan medis pasen, seperti hasil pemeriksaan lab, pemeriksaan x-ray, hasil usg, dll). Semakin kita mengerti kondisi pasen dan penyakit yg dideritanya maka semakin baik dan teliti pula perawatan yg diterima pasen.
2. Kondisi pasien sekarang dengan segala keluhannya
Dalam hal ini kita mengikuti perkembangan kondisi pasen dari waktu ke waktu, dari satu kontrol ke kontrol berikutnya, juga tentang terapi atau obat yg diterima pasen selama ini
3. Obat obat yg biasa dikonsumsi pasien
Biasakan untuk menghapal obat-obat yg diminum pasien..atau mencatatnya pada selembar kertas dan menempelkannya di dinding agar mudah dilihat, jangan melepas stiker obat pada wadah obat...kalau stiker obat tersebut lepas maka rekatkan lagi dgn lem atau sejenisnya.
Dalam pendekatan pelayanan kesehatan pada kelompok lanjut usia sangat perlu ditekankan pendekatan yang dapat mencakup sehat fisik, psikologis, spiritual dan sosial. Hal tersebut karena pendekatan dari satu aspek saja tidak akan menunjang pelayanan kesehatan pada lanjut usia yang membutuhkan suatu pelayanan yang komprehensif. Pendekatan inilah yang dalam bidang kesehatan jiwa (mental health) disebut pendekatan eklektik holistik, yaitu suatu pendekatan yang tidak tertuju pada pasien semata-mata, akan tetapi juga mencakup aspek psikososial dan lingkungan yang menyertainya. Pendekatan Holistik adalah pendekatan yang menggunakan semua upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan lanjut usia, secara utuh dan menyeluruh.
1. Pendekatan fisik
Perawat mempunyai peranan penting untuk mencegah terjadinya cedera sehingga diharapkan melakukan pendekatan fisik, seperti berdiri disamping klien, menghilangkan sumber bahaya dilingkungan, memberikan perhatian dan sentuhan, bantu klien menemukan hal yang salah dalam penempatannya, memberikan label gambar atau hal yang diinginkan klien.
2. Pendekatan psikologis
Disini perawat mempunyai peranan penting untuk mengadakan pendekatan edukatif pada klien lanjut usia, perawat dapat berperan sebagai supporter, interpreter terhadap segala sesuatu yang asing, sebagai penampung rahasia yang pribadi dan sebagai sahabat yang akrab. Perawat hendaknya memiliki kesabaran dan ketelitian dalam memberikan kesempatan dan waktu yang cukup banyak untuk menerima berbagai bentuk keluhan agar para lanjut usia merasa puas. Perawat harus selalu memegang prinsip “Tripple”, yaitu sabar, simpatik dan service. Hal itu perlu dilakukan karena perubahan psikologi terjadi karena bersama dengan semakin lanjutnya usia. Perubahan-perubahan ini meliputi gejala-gejala, seperti menurunnya daya ingat untuk peristiwa yang baru terjadi, berkurangnya kegairahan atau keinginan, peningkatan kewaspadaan, perubahan pola tidur dengan suatu kecenderungan untuk tiduran diwaktu siang, dan pergeseran libido. Perawat harus sabar mendengarkan cerita dari masa lampau yang membosankan, jangan menertawakan atau memarahi klien lanjut usia bila lupa melakukan kesalahan . Harus diingat kemunduran ingatan jangan dimanfaatkan untuk tujuan tertentu. Bila perawat ingin merubah tingkah laku dan pandangan mereka terhadap kesehatan, perawat bila melakukannya secara perlahan –lahan dan bertahap, perawat harus dapat mendukung mental mereka kearah pemuasan pribadi sehinga seluruh pengalaman yang dilaluinya tidak menambah beban, bila perlu diusahakan agar di masa lanjut usia ini mereka puas dan bahagia.
3. Pendekatan spiritual
Perawat harus bisa memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam hubungan lansia dengan Tuhan atau agama yang dianutnya dalam keadaan sakit atau mendeteksi kematian. Sehubungan dengan pendekatan spiritual bagi klien lanjut usia yang menghadapi kematian. Seorang dokter mengemukakan bahwa maut sering kali menggugah rasa takut. Rasa semacam ini didasari oleh berbagai macam faktor, seperti ketidakpastian akan pengalaman selanjutnya, adanya rasa sakit dan kegelisahan kumpul lagi dengan keluarga dan lingkungan sekitarnya. Dalam menghadapi kematian setiap klien lanjut usia akan memberikan reaksi yang berbeda, tergantung dari kepribadian dan cara dalam mengahadapi hidup ini. Adapun kegelisahan yang timbul diakibatkan oleh persoalan keluarga, perawat harus dapat meyakinkan lanjut usia bahwa kalaupun keluarga tadi ditinggalkan , masih ada orang lain yang mengurus mereka. Sedangkan rasa bersalah selalu menghantui pikiran lanjut usia.
4. Pendekatan social
Mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan bercerita merupakan salah satu upaya perawat dalam pendekatan social. Memberi kesempatan untuk berkumpul bersama dengan sesama klien usia berarti menciptakan sosialisasi mereka. Jadi pendekatan social ini merupakan suatu pegangan bagi perawat bahwa orang yang dihadapinya adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Penyakit memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para lanjut usia untuk mengadakan konunikasi dan melakukan rekreasi, misal jalan pagi, nonton film, atau hiburan lain. Tidak sedikit klien tidak tidur terasa, stress memikirkan penyakitnya, biaya hidup, keluarga yang dirumah sehingga menimbulkan kekecewaan, ketakutan atau kekhawatiran, dan rasa kecemasan. Tidak jarang terjadi pertengkaran dan perkelahian diantara lanjut usia, hal ini dapat diatasi dengan berbagai cara yaitu mengadakan hak dan kewajiban bersama. Dengan demikian perawat tetap mempunyai hubungan komunikasi baik sesama mereka maupun terhadap petugas yang secara langsung berkaitan dengan pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia.
DAFTAR PUSTAKA
Daftar Pustaka : http://nget.mywapblog.com/asuhan-keperawatan-pada-lansia-gerontik.xhtml
Kusharyadi. 2010. Asuhan Keperawatan pada Klien Lanjut Usia. Jakarta: Salemba Medika
Maryam, R. Siti. 2008. Mengenal Usi Lanjut dan Perawatannya. Jakarta: Salemba Medika
Nugroho, Wahjudi. 1995. Perawatan Lanjut Usia.Jakarta: EGC
Tamher, S., Noorkasiani. 2009. Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendekatan asuhan Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

