Indonesia merupakan Negara berkembang yang mana masih memiliki banyak masalah dalam berbagai sektor perkembangannya, seperti masalah di sektor ekonomi, sosial, pendidikan, politik, budaya dan sebagainya. Berbagai permasalahan tersebut dapat menyebabkan gangguan fisik maupun psikis pada individu yang mengalaminya. Secara kasat mata masalah fisik dapat ditangani dengan mudah dengan pemberian obat-obatan luar, berbeda dengan masalah psikis yang terkadang sulit dipahami penyebabnya dan jenis gangguannya.
Saat ini banyak gangguan jiwa yang dibiarkan begitu saja oleh masyarakat tanpa mendapatkan penanganan secara khusus, salah satunya skizofrenia, orang awam akan kesulitan mengidentifikasi gangguan ini. Masyarakat awam lebih menyebut gangguan ini dengan sebutan “orang gila”, namun secara psikologis tidak sesuai dengan harkat dan martabat manusia. Gangguan ini dianggap sebagai salah satu gangguan mental. Skizofrenia merupakan sindrom klinis yang paling membingungkan dan melumpuhkan. Hal ini seringkali menimbulkan rasa takut, kesalah pahaman dan penghukuman dan bukannya simpati yang di dapatkan oleh pasien.
Pasien skizofrenia dapat bertingkah aneh, seperti halnya berpakaian tidak rapi, kotor, menimbulkan aroma yang tidak sedap, berbicara sendiri dan seringkali beberapa pasien membuka pakaiannya di depan umum tanpa rasa malu dikarenakan pasien skizofrenia pada umumnya mengalami regresi/kemunduran dalam berperilaku. Hal lain yang cukup memperihatinkan adalah munculnya dorongan bunuh diri pada pasien skizofrenia karena, dipengaruhi adanya halusinasi pada pasien atau karena efek depresi yang berlebihan. Depresi merupakan salah satu faktor yang paling sering muncul dalam berbagai tindakan percobaan bunuh diri. Selain percobaan bunuh diri, emosi orang dengan skizofrenia pun labil, mudah marah, sering bersedih dan mood yang sering berubah-ubah.
Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia. beberapa macam emosi yaitu amarah (beringas, mengamuk, benci,jengkel, kesal hati), kesedihan (pedih, sedih, muram, suram, melankolis, putus asa), rasa takut (cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak tenang, ngeri), kenikmatan (bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur, bangga, cinta, penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, dan kemesraan), terkejut, dan jengkel (hina, jijik, muak, mual) dan malu (malu hati, kesal). Proses penanganan penyembuhan pasien skizofrenia dapat dilakukan dengan menggabungkan pendekatan farmakologis, psikologis dan rehabilitatif. Pengobatan dengan anti psikotik membantu mengendalikan pola perilaku yang lebih mencolok pada skizofrenia dalam mengurangi kebutuhan untuk perawatan rumah sakit jangka panjang apabila dikomsumsi pada saat pemeliharaan atau secara teratur setelah episode akut.
Dengan adanya dorongan bunuh diri dan emosi yang labil pada individu maka perlu diberikan psikoterapi untuk mengurangi dorongan bunuh diri pada individu tersebut. Psikoterapi yang diberikan adalah psikoterapi suportif dengan teknik bimbingan. Psikoterapi suportif (atau biasa disebut juga psikoterapi berorientasi hubungan) menawarkan dukungan kepada klien oleh seorang terapis selama periode penyakit, kekacauan atau dekompensasi sementara. Pendekatan ini juga memiliki tujuan untuk memulihkan dan memperkuat pertahanan pasien serta mengintegrasikan kapasitas yang telah terganggu. Cara ini memberikan suatu periode penerimaan dan ketergantungan yang membutuhkan bantuan untuk menghadapi rasa bersalah, malu dan kecemasan serta dalam menghadapi frustasi atau tekanan eksternal yang mungkin terlalu kuat untuk dihadapi.
Terapi suportif dilakukan dengan beberapa pendekatan psikoterapi yaitu psikoterapi yang mengintegrasikan psikodinamika, kognitif-perilaku dan interpersonal yang model konseptual dan teknik. Dalam terapi suportif terapis terlibat dalam hubungan penuh emosional (empati), mendorong, dan mendukung terutama dalam hubungan interpersonal. Selain itu, kepercayaan klien pada terapis dapat mempengaruhi hasil dari intervensi. Terapi suportif digunakan terutama untuk memperkuat kemampuan klien untuk mengatasi stres melalui beberapa kegiatan utama, termasuk mendengarkan dan mendorong ekspresi pikiran dan perasaan, membantu individu untuk mendapatkan pemahaman yang lebih tentang situasi dan alternatif mereka, membantu individu untuk meningkatan harga diri dan ketahanannya serta bekerja untuk memenuhi harapannya. Dalam melakukan pemeriksaan terhadap klien, terapis biasanya menggali secara mendalam sejarah individu dan menyelidiki motivasi yang mendasari perilaku individu. Terapi suportif biasanya diberikan dalam jangka pendek atau jangka panjang tergantung pada individu dalam keadaan tertentu.
Terapis membantu klien dalam membuat keputusan atau perubahan yang mungkin diperlukan untuk beradaptasi, baik pada perubahan lingkungan seperti kehilangan orang yang dicintai atau kekecewaan yang parah, atau situasi yang kronis, seperti penyakit yang sedang berlangsung. Sebelum hal ini dapat dicapai klien perlu diberi kesempatan untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran mereka tentang isu-isu, dan ini merupakan bagian penting dari psikoterapi suportif. Adapun bentuk hubungan dalam terapi suportif adalah rasa saling percaya antara terapis dengan klien begitu pula sebaliknya. Selain terapis berusaha untuk memahami perasaan putus asa atau rasa marah klien, tugas terapis adalah juga untuk mempertahankan kepercayaan dalam kemampuan klien untuk pulih.
Adapun teknik-teknik dalam terapi suportif mencakup sembilan teknik. Masing-masing teknik digunakan sesuai dengan kondisi atau masalah yang sedang dialami oleh klien. Berikut adalah teknik-teknik yang dilakukan dalam menerapkan terapi suportif antara lain sebagai berikut :
Guidance/Bimbingan, yakni prosedur pemberian pertolongan secara aktif dengan cara memberikan fakta dan interpretasi' dalam bidang pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial dan bidang-bidang kesehatan.
Manipulasi lingkungan, yakni usaha untuk menyelesaikan problem-problem emosional klien dengan cara menghilangkan atau mengubah unsur-unsur lingkungan yang tidak menguntungkan.
Eksternalisasi perhatian, yakni usaha untuk mengalihkan perhatian klien yang mengalami depresi dengan jalan memberikan dorongan agar klien dapat memulai lagi aktivitas yang pernah disenanginya ataupun mengembangkan kesenangan baru untuk mengisi waktu senggangnya. Jenis-jenis eksternalisasi perhatian antara lain terapi kerja, terapi musik, terapi gerak dan tari, terapi syair, terapi sosial.
Sugesti-prestis, yakni usaha terapis untuk mensugesti klien, yakni memberikan pengaruh psikis tanpa daya kritik.
Reassurance (meyakinkan kembali), terapi ini biasanya menyertai pada setiap terapi. Klien yang merasa dicengkam oleh rasa ketakutan yang irasional perlu ditenangkan dan dihibur. Terapis perlu mendiskusikan ketakutan-ketakutan tersebut secara terbuka dengan kliennya untuk menjelaskan bahwa ketakutan itu tidak rasional atau tidak berdasar.
Dorongan dan paksaan, yakni dengan memberikan punishment untuk menstimulasi perilaku klien sesuai yang diharapkan. Diantaranya dengan cara klien diberi tugas untuk melawan impuls-impuls yang menimbulkan neurotik, berusaha menghilangkan atau mengurangi inner drive klien sampai di bawah titik kritis.
Persuasi, yakni mendasari diri pada anggapan bahwa dalam diri klien mempunyai sesuatu kekuatan untuk proses emosinya yang patologis dengan kekuatan dan kemampuan ataupun dengan menggunakan common sense’nya sendiri, sebab pada umumnya orang yang menderita gangguan jiwa dalam keadaan intelek tertutup emosi.
Pengakuan dan penyaluran, yakni dengan cara mengeluarkan isi hati kepada orang lain.
Pendekatan ini untuk mengurangi tekanan yang ada pada klien, sebab dengan adanya pengakuan dan penyaluran maka segala rasa tertekan yang mengganjal dapat dilepaskan (katarsis).
Terapi kelompok yang berfungsi sebagai pemberi inspirasi dari klien-klien lainnya yang memiliki problem sejenis.
Penerapan terapi suportif dapat membantu individu dalam meningkatkan kemampuan manajemen emosi pasien. Pasien memperlihatkan perubahan kemampuan manajemen emosinya seperti lebih berani, tenang, tidak merasa bersalah, bersabar dan senang. Hasil penerapan terapi suportif dengan teknik bimbingan untuk mengurangi dorongan bunuh diri berdampak positif, karena ada perubahan perilaku kearah yang lebih baik ditandai dengan depresi dan gangguan mental berkurang, tidak mudah putus asa, mampu menerima keberadaan dirinya, mampu bersosialisasi, mampu memperbaiki hubungan dengan keluarga, mampu mengindentifikasi tujuan hidupnya dan menerima dirinya.
Daftar Pustaka dan Referensi :
Davison, G. C., Neale, J. M. & Kring, A. M. (2004). Abnormal Psychology (9th ed.). Hoboken, NJ: John Wiley & Sons, Inc.
Goleman, Daniel. (2009). Kecerdasan Emosional : Mengapa EI lebih penting daripada IQ. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Kaplan, H.L, Sadock, B.J dan Grebb, J.A. (2006). Sinopsis Psikiatri, Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Edisi 7. Jilid II. Jakarta : Binaputra Aksara.
Kring, A. M., Davison, G. C., Neale, J. M., Jhonson, S. L. (2007). Abnormal Psychology, 10th ed. USA: John Wiley& Sons, Inc.
Mutiara. (2017). Jurnal Ilmiah Penerapan Terapi Suportif untuk Meningkatkan Manajemen Emosi Negatif pada Individu yang Memiliki Pasangan Skizofrenia.
Nevid, J. S., dkk. (2005). Psikologi Abnormal (Edisi Kelima Jilid 2). (Tim Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Trans). Indonesia : Penerbit Erlangga.
Palmer, Stephen, Ed. (2011). Introduction To Counselling and Psychoterapy : The Essential Guide (Konseling dan Psikoterapi), diterjemahkan oleh Sage Publication Ltd. Yogyakarta : Bandung.
Pardede, Sulastri. (2017). Artikel Penerapan Terapi Suportif dengan Teknik Bimbingan untuk Mengurangi Dorongan Bunuh Diri pada Pasien Skizofrenia.
Tomb, A.D. (2004). Buku Saku Psikiatri Edisi 6. EGC, Jakarta.
Penulis
Lisyance, S.Kep, Ners