Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi sehat emosional, psikologis, dan sosial yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuasakan, perilaku dan koping yang efektif, konsep diri yang positif, dan stabilan emosional . Gangguan jiwa adalah pola perilaku atau psikologis yang ditunjukkan oleh pasien yang menyebabkan distress, disfungsi psikologis, dan menurunkan kualitas kehidupan. Perilaku kekerasan merupakan suatu bentuk perilaku yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan, disertai dengan amuk dan gaduh gelisah yang tak terkontrol. Resiko perilaku kekerasan merupakan salah satu bentuk perilaku yang memiliki resiko untuk melukai seseorang baik fisik maupun psikologis, dengan gejala perilaku kekerasan yang salah satunya diungkapkan melalui kemarahan. Marah merupakan emosi dasar yang terdapat pada setiap individu. Rasa marah biasanya terasa saat keteganggan otot mulai meningkat. Untuk mengurangi perasaan marah dapat diatasi dengan menggunakan tekhnik relaksasi . Strategi pencegahan perilaku kekerasan akibat marah berupa self awarenness perawat, pendidikan kesehatan, dan latihan asertif. Strategi antisipasi, terdiri dari : tekhnik komunikasi, perubahan lingkungan, perilaku, dan pemberian obat antipsikotik. Strategi pengekangan yang terdiri dari : tindakan manajemen krisis, pengikatan dan pembatasan gerak
Ketika kita melakukan assesment awal pada pasien dengan perilaku kekerasan, kita harus mengkaji penyebab terjadinya perilaku kekerasan tersebut, baik faktor predisposisi maupun faktor presipitasinya. Faktor predisposisi tersebut antara lain faktor psikologis, perilaku, sosial budaya, dan bioneurologis. Sedangkan untuk faktor presipitasi itu sendiri dapat bersumber dari klien, lingkungan dan interaksi dengan orang lain. Biasanya penyebab dari perilaku kekerasan tersebut yaitu seperti kelemahan fisik (penyakit fisik), keputusasaan, ketidakberdayaan, dan kurang percaya diri. Untuk faktor penyebab dari perilaku kekerasan yang lain seperti situasi lingkungan yang terbiasa dengan kebisingan, padat, interaksi sosial yang proaktif, kritikan yang mengarah pada penghinaan, dan kehilangan orang yang di cintai (pekerjaan). Perawat RSJD PROV Bangka Belitung yang telah mempunyai pengalaman dan kompetensi yang baik di bidangnya bisa langsung mengidentifikasi gejala-gejala pasien dengan perilaku kekerasan. Gejala-gejala tersebut antara lain fisik (mata melotot/pandangan tajam, tangan mengepal, rahang mengatup, wajah memerah dan tegang, serta postur tubuh kaku), Verbal (mengancam, mengumpat dengan kata – kata kotor, berbicara dengan nada keras, kasar, ketus), Perilaku (menyerang orang lain, melukai diri sendiri/orang lain, merusak lingkungan, amuk/agresif), Emosi (tidak adekuat, tidak aman dan nyaman, merasa terganggu, dendam, jengkel, tidak berdaya, bermusuhan, mengamuk, ingin berkelahi, menyalahkan, dan menuntut), intelektual (mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan, dan tidak jarang mengeluarkan kata – kata bernada sarkasme), spiritual (Merasa diri berkuasa, merasa diri benar, keragu – raguan, tidak bermoral, dan kreativitas terhambat), sosial (menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan, dan sendirian), dan perhatian (bolos, melarikan diri, dan melakukan penyimpangan seksual).
Dalam buku panduan 3S (SDKI,SDKI, SIKI) terapi relaksasi otot progesif didefinisikan yaitu terapi teknik penegangan dan peregangan otot untuk meredakan ketegangan otot, nyeri, ansietas serta meningkatkan kenyamanan, konsentrasi, dan kebugaran. Fokus utama dalam teknik relaksasi progresif adalah memusatkan perhatian pada suatu aktifitas otot, dengan mengidentifikasi otot yang tegang kemudian menurunkan ketegangan. Perubahan yang diakibatkan oleh relaksasi otot progresif yaitu dapat mengurangi ketegangan otot, menurunkan laju metabolisme, meningkatkan rasa kebugaran, dan konsentrasi, serta memperbaiki kemampan untuk mengatasi stressor. Teknik relaksasi otot progresif bisa dilakukan pertemuan sebanyak 4 kali dalam rentang 1 sesi. Berikut langkah langkah dalam melakukan terapi relaksasi otot progesif sesuai standar SIKI yang baku. Pertama tama tempatkan pasien pada tempat yang tenang dan nyaman, atur lingkungan agar tidak ada gangguan saat dilakukan terapi. Berikan pasien posisi bersandar pada kursi atau posisi lainnya yang nyaman., anjurkan pasien memakai pakaian yang nyaman dan tidak sempit demi kenyamanan. Monitor keadaan pasien secara berkala baik dalam kondisi otot rileks maupun otot tidak rileks { seperti adanya gerakan, pernafasan yang berat ). Hentikan sesi relaksasi terapi secara bertahap agar ada waktu bagi pasien mengungkapkan perasaannya tentang terapi. Pada tahap fase kerja anjurkan melakukan relaksasi otot rahang, dengan cara pasien menegangkan otot selama 5 sampai 10 detik, kemudian anjurkan untuk merilekskan otot 20-30 detik, masing-masing 8 sampai 16 kali. Berikutnya anjurkan pasien menegangkan otot kaki selama tidak lebih dari 5 detik untuk menghindari kram . Anjurkan pasien tetap fokus pada sensasi otot yang menegang dan pada sensasi otot yang rileks, Setelah itu anjurkan pasien bernafas dalam dan perlahan. Anjurkan berlatih diantara sesi reguler dengan perawat.
Tujuan dilakukannya terapi relaksasi otot progresif pada pasien antara lain meningkatkan rasa kebugaran konsentrasi , memperbaiki kemampuan untuk mengatasi stress, menurunkan ketegangan otot, kecemasan, nyeri leher dan punggung, tekanan darah, frekuensi jantung, laju metabolik. Disamping itu juga bertujuan membangun emosi positif dari emosi negatif pasien, mengurangi distritmia jantung, dan kebutuhan oksigen, mengatasi insomnia, depresi, kelelahan, iritabilitas, spasme otot, dan fobia ringan, serta meningkatkan gelombang alfa otak yang terjadi ketika klien sadar dan tidak memfokuskan perhatian relaks. Manfaat dari penerapan terapi relaksasi otot progesif pada pasien perilaku kekerasan antara lain dapat mengurangi ketegangan otot, kecemasan, depresi, kelelahan, pengontrolan marah, perasaan rileks dan nyaman, peningkatan perasaan kontrol diri, dan juga meningkatkan kemampuan mengatasi stres dalam berbagai situasi. Manfaat lainnya yaitu meningkatkan keterampilan dasar relaksasi untuk mengontrol marah dan memperbaiki kemampuan untuk mengatasi stres. Selain itu relaksasi otot progresif bermanfaat untuk meningkatkan produksi serotonin. Serotonin ini berkaitan dengan mood. Dengan memperhatikan manfaat tersebut didukung dengan lingkungan yang tenang, posisi yang nyaman, dan keadaan responden yang kooperatif dapat memaksimalkan manfaat dari intervensi tersebut. Sehingga relaksasi otot progresif dapat dijadikan pilihan dalam memberikan terapi modalitas yang digunakan oleh pasien RPK sebagai salah satu intervensi untuk mengontrol marah .
DAFTAR PUSTAKA
Purwaningtyas, L. (2010). Pengaruh Relaksasi Progresif terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta, Diakses pada tanggal 26 Mei 2022
Suryanti, Dwi A.(2018). Pengaruh Relaksasi Progresif Terhadap Penurunan Perilaku Kekerasan Pada Pasien Skizofrenia Dirumah Sakit Jiwa Daerah Klaten. Jurnal Terpadu Ilmu Kesehatan, vol 7, no. 1. diakses pada 23 Mei 2022,http://jurnal.poltekkessolo.ac.id/index.php/int/article/view/3 89
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2016. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta : DPP PPNI
Penulis
Sapri Rahman, S.Kep Ners