Rumah sakit merupakan suatu organisasi yang yang menawarkan pelayanan berupa jasa yang hasil akhirnya diharapkan tercapainya kepuasan pemakai jasa dalam hal ini pasien. Dalam rangka untuk meningkatkan dan mengembangkan mutu pelayanan rumah sakit yang berorientasi pada keselamatan dan kepuasan pasien, maka rumah sakit harus memberikan pelayanan yang terstandarisasi sesuai dengan standar akredistasi rumah sakit yang berlaku. Hal ini sesuai dengan tuntutan akreditasi rumah sakit, menyatakan bahwa tanggung jawab rumah sakit dan staf adalah memberikan asuhan dan pelayanan yang efektif dan aman bagi pasien. Asuhan dan pelayanan pasien ini diberikan secara terkoordinasi dan terintegrasi oleh semua Profesional Pemberi Asuhan (PPA) dan dibantu oleh staf klinis lainnya dengan menggunakan alur klinis (clinical pathway) dan perencanaan pemulangan pasien terintegrasi/integrated discharge palnning (Komisi Akreditasi Rumah Sakit, 2017).
Pemberian pelayanan kepada pasien yang holistik harus didukung oleh interprofesional collaboration yang baik. Hal ini sesuai dengan pengembangan Clinical Pathway (CP) sebagai salah satu alat yang digunakan oleh berbagai disiplin ilmu yang di integrasikan kedalam satu format. Pengembangan CP ini bertujuan untuk mencapai pelayanan bermutu dan berkualitas yang berorientasi keselamatana pasien. Pelaksanaan CP mampu memprediksi hari perawatan pasien, memberikan intervensi yang kompleks dan interdisiplin (Sung et al., 2013). Dalam beberapa penelitian pelaksanan CP diidentifikasi memiliki beberapa kelebihan yaitu meningkatkan kualitas perawatan, mengurangi waktu perawatan, mengurangi biaya perawatan, mengurangi tindakan yang tidak diperlukan, meningkatkan kepuasan pasien dan petugas (Sung et al., 2013). Selain itu di katakan juga bahwa CP mampu memberikan informasi yang bermanfaat, meningkatkan pengetahuan, komunikasi, efisiensi kerja dan kepercayaan diri bagi praktisi kesehatan dalam merawat pasien (Donald et al., 2016). Namun dalam pelaksanan CP harus dipertimbangkan faktor pendukung dan faktor penghambat yang dapat memepengaruhi keberhasilan pelaksanan CP di rumah sakit. Salah satunya adalah ketelibatan staf klinis maupun manajer, selain itu kemampuan adaptasi dari organisasi rumah sakit itu sendiri (Evans-Lacko, Jarrett, McCrone, & Thornicroft, 2010). Penelitian terkait juga didapatkan beberapa faktor yang memepenagruhi proses pelaksanaan CP diantaranya yaitu dukungan yang tidak mencukupi dan kendala waktu bisa menjadi penghalang keberhasilan pelaksanan CP (Bjurling-Sjöberg, Wadensten, Pöder, Nordgren, & Jansson, 2015). Dalam sebuah penelitian bahwa implementasi CP dikonseptualisasikan berdasarkan dua tema: sebuah proses untuk menyadari kegunaan CP dan menciptakan kebiasaan baru; dan proses yang membutuhkan antusiasme, dukungan dan waktu (Bjurling-Sjöberg et al., 2015).
Perawat merupakan komponen yang vital dari tenaga kesehatan di rumah sakit. Hal ini dapat dilihat dari besarnya peranan mereka dalam memberikan pelayanan kesehatan di rumah saikit. Perawat memenuhi jumlah tenaga kesehatan terbesar di rumah sakit yaitu mencapai 60-65% dari jumlah seluruh pegawai yang ada. Perawat memberikan pelayanan secara kontiyu dan konsisten selama 24 jam. Perawat juga berperan sebagai penghubung bagi pasien terhadap profesi kesehatan lainnya (Ghebrehiwet, 2011). Dengan kehadiran mereka di berbagai layanan kesehatan dan kedekatannya dengan pasien, perawat memiliki peranan penting bagi pelayanan kesehatan di rumah sakit.
Penerapan CP di rumah sakit tentu saja akan memberikan dampak bagi perawat di rumah sakit. Hal ini harusnya menjadi perhatian yang besar bagi stakeholder, pimpinan rumah sakit dan manajer keperawatan, mengingat profesi perawat dan peran mereka dalam memberikan pelayanan kesehatan. Peran manajer keperawatan sangat penting sebagai change leader untuk mendukung agar staf menyadari manfaat CP, CP lebih mudah digunakan dan dapat dirasakan manfaatnya bagi staf maupun pasien.
Menurut Laschinger & Wong (2007), manajer keperawatan didefinisikan sebagai perawat profesional yang memiliki tanggung jawab terhadap perawatan di unit/bangsal, perawat profesional maupun perawat klinis, anggota tim interprofesional, perawat supervisi, pimpinan tim, panitera bisnis dan staf non profesional, seperti asisten kesehatan semuanya melaporkan langsung ke manajer keperawatan lini pertama (Cziraki, Mckey, Peachey, Baxter, & Flaherty, 2014).
Laschinger & Wong (2007), mengatakan bahwa manajer perawat lini pertama memainkan peran penting dalam memastikan bahwa keperawatan memiliki suara dalam pengambilan keputusan tentang perawatan pasien dan menurut Gould et al. (2001) perawat manger juga berkontribusi terhadap penyediaan asuhan keperawatan dan menjaga standar yang tinggi dan lingkungan pemberian perawatan yang aman (Cziraki et al., 2014). Dalam sebuah penelitian bahwa inisiatif bottom-up adalah lebih mungkin untuk berhasil daripada inisiatif top-down. (Bjurling-Sjöberg et al., 2015).
Daftar Pustaka
Afiyanti Y., & R. I. N. (2014). Metodologi penelitian kualitatif dalam riset keperawatan (1st ed.). PT Raja Grafindo Persada.
Bjurling-Sjöberg, P., Wadensten, B., Pöder, U., Nordgren, L., & Jansson, I. (2015). Factors affecting the implementation process of clinical pathways: A mixed method study within the context of Swedish intensive care. Journal of Evaluation in Clinical Practice, 21(2), 255–261. https://doi.org/10.1111/jep.12301
Cziraki, K., Mckey, C., Peachey, G., Baxter, P., & Flaherty, B. (2014). Factors that facilitate Registered Nurses in their first-line nurse manager role. Journal of Nursing Management, 22(8), 1005–1014. https://doi.org/10.1111/jonm.12093
Donald, M., McBrien, K., Jackson, W., Manns, B. J., Tonelli, M., King-Shier, K., … Hemmelgarn, B. R. (2016). Development and implementation of an online clinical pathway for adult chronic kidney disease in primary care: a mixed methods study. BMC Medical Informatics and Decision Making, 16(1), 109. https://doi.org/10.1186/s12911-016-0350-z
Evans-Lacko, S., Jarrett, M., McCrone, P., & Thornicroft, G. (2010). Facilitators and barriers to implementing clinical care pathways. BMC Health Services Research, 10, 182. https://doi.org/10.1186/1472-6963-10-182
Ghebrehiwet, T. R. P. (2011). FROM THE THIRD GENEVA CONFERENCE ON PERSON-CENTERED MEDICINE : THE TEAM APPROACH IN PERSON-CENTERED HEALTH CARE Nurses and Person - Centred Care. The International Journal of Person Centered Medicine, Volume 1(Issue 1), pp 20-22.
Hunter, B., & Segrott, J. (2010). Using a clinical pathway to support normal birth: Impact on practitioner roles and working practices. Birth, 37(3), 227–236. https://doi.org/10.1111/j.1523-536X.2010.00410.x
Kinsman, L., Rotter, T., James, E., Snow, P., & Willis, J. (2010). What is a clinical pathway? Development of a definition to inform the debate. BMC Medicine, 8(31), 1–3. https://doi.org/10.1186/1741-7015-8-31
Komisi Akreditasi Rumah Sakit. (2017). Standar Akreditasi Nasional Rumah sakit (I).
Sung, K. H., Chung, C. Y., Lee, K. M., Lee, S. Y., Ahn, S., Park, S., … Park, M. S. (2013). Application of clinical pathway using electronic medical record system in pediatric patients with supracondylar fracture of the humerus: a before and after comparative study. BMC Medical Informatics and Decision Making, 13(1), 1. https://doi.org/10.1186/1472-6947-13-87
Penulis
Mella,S.Kep.Ns.M.Kep