Munculnya api yang sangat mudah terjadi,itu yang membuat masyarakat khususnya para pekerja  harus mengetahui cara-cara pencegahan serta penanggulangan dengan baik dan benar apabila muncul api secara tiba-tiba. Dalam mengupayakan penanggulangan agar tidak terjadi potensi bahaya kebakaran di semua tempat, kebakaran dapat diartikan sebagai suatu peristiwa munculnya api yang tidak kita inginkan dan dapat  membawa kerugian sehingga harus ada usaha pencegahan yang dilakukan oleh setiap individu dan unit kerja agar jumlah peristiwa kebakaran,penyebab kebakaran dan jumlah kecelakaan dapat dikurangi sekecil mungkin melalui perencanaan yang baik. Dengan banyaknya pelatihan yang diberikan, diharapkan para pekerja dapat mengidentifikasi potensi penyebab kebakaran di lingkungan tempat kerjanya dan melakukan upaya pemadaman kebakaran dini. Berdasarkan pengertian bahaya kebakaran tersebut diatas maka pencegahan bahaya kebakaran berarti segala usaha yang dilakukan agar tidak terjadi penyalaan api yang tidak terkendali. Jadi ada ada dua pengertian, pertama,penyalaan api belum ada dan diusahakan agar tidak terjadinya penyalaan api. Ini dilakukan khusunya pada tempat-tempat tertentu yang dianggap penting.Kedua, penyalaan api sudah ada karena memang digunakan untuk suatu keperluan, dan diusahakan jangan sampai api tersebut berkembang menjadi tidak terkendali. Tindakan pencegahan yang dilakukan misalnya dengan menjauhkan bahan yang mudah terbakar dari tempat tersebut,menyiapkan alat pemadam api dan sebagainya. Beberapa unsur yang menyebabkan terjadinya kebakaran : Terjadinya kontak antara bahan yang dapat terbakar Suhu penyalaan/titik nyala dan zat pembakar (O2 atau udara) Pengendalian titik nyala sumber titik nyala yang paling banyak adalah api terbuka seperti nyala api kompor, pemanas, lampu minyak, api rokok, api pembakaran sampah dan sebagainya. Api terbuka tersebut bila memang diperlukan harus dijauhkan dari yang mudah terbakar. Sumber penyalaan yang lain: benda membara, percikan api, petir, reaksi eksoterm, timbulnya bara api juga terjadi karena gesekan benda dalam waktu relatif lama, atau terjadi penghubung singkat rangkaian listrik. Pengelompokan Kebakaran berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dengan Nomor : 04/MEN/1980 terdapat  pengelompokan bahan untuk jenis kebakaran sesuai dengan jenis yang terbakar : Kebakaran Kelas (tipe) A, yaitu kebakaran padat kecuali Logam, seperti: kertas,kayu, tekstil, plastik, karet, busa dll. Kebakaran kelas (tipe) B, yaitu kebakaran cair atau gas yang mudah terbakar, seperti: bensin, aspal,gemuk, minyak, alkohol, LPG dll. Kebakaran kelas (tipe) C, yaitu kebakaran listrik yang bertegangan Kebakaran kelas (tipe) D, yaitu kebakaran logam, seperti: aluminium, magnesium, kalium,dll. Sebab-sebab terjadinya kebakaran : Kebakaran karena sifat kelalaian manusia, seperti kurangnya pengertian pengetahuan cara penanggulangan bahaya kebakaran dan kurang kehati hatian dalam menggunakan alat sehingga dapat menimbulkan api serta kurangnya kesadaran dari pribadi atau tidak disiplin. Kebakaran diakibatkan karena suatu peristiwa alam, terutama berkenaan dengan cuaca, sinar matahari, letusan gunung berapi, petir, gempa, angin dan topan. Kebakaran karena penyalaan sendiri, sering terjadi pada gudang kimia dimana bereaksi dengan udara, air dan juga dengan yang lainnya yang mudah meledak atau terbakar. Kebakaran karena kesengajaan untuk tujuan tertentu misalnya ada motif tertentu, mencari keuntungan ganti rugi agar dapat mengklaim asuransi, menghilangkan jejak kejahatan, tujuan taktis pertempuran dengan jalan dimusnahkan. Peralatan Pemadaman Kebakaran Upaya menanggulangi kebakaran perlu kita siapkan jenis peralatan untuk memadamkan kebakaran yang cocok dan sesuai  dengan jenis bahan yang mungkin dapat terbakar di tempat kita : a. Perlengkapan dan alat pemadam kebakaran sederhana : Air, alam yang melimpah, murah sehingga air paling banyak dipakai untuk memadamkan kebakaran. Persediaan air dilakukan dengan cadangan menggunakan bak-bak  biar dekat dengan daerah bahaya, alat yang digunakan seperti ember atau pipa karet/slang/plastik. Pasir, yang dapat menutup benda terbakar sehingga udara tidak masuk dan kemudian api padam. Caranya dengan menimbunkan pada benda yang terbakar menggunakan sekop atau ember. Kain basah atau pun handuk basah sangat efektif untuk menutup jika terjadi kebakaran pada kompor. Tangga dipergunakan untuk alat bantu penyelamatan dan pemadaman kebakaran. b. Alat Pemadam Api Ringan (APAR) Alat Pemadam Api Ringan (APAR) merupakan suatu alat yang ringan dan dapat digunakan oleh satu orang untuk memadamkan api pada saat awal terjadinya kebakaran. Tabung APAR harus diisi ulang sesuai dengan jenis dan kontruksinya Jenis APAR : Jenis air Busa Serbuk kering  gas halon dan gas CO2 yang berfungsi untuk menutupi benda terbakar dari oksigen di sekitar yang terbakar sehingga aliran oksigen terhenti. Zat keluar dari tabung karena dorongan gas bertekanan. Karateristik APAR : APAR jenis tertentu bukan merupakan pemadam untuk segala jenis kebakaran, oleh karena itu sebelum menggunakan APAR perlu diidentifikasi jenis bahan terbakar. APAR hanya ideal dioperasikan pada situasi tanpa angin kuat,APAR kimiawi ideal dioperasikan pada suhu kamar Waktu ideal : 3 detik operasi, 10 detik berhenti, waktu maksimum terus menerus 8 detik. Bila sudah dipakai harus diisi ulang Harus diperiksa secara periodik, minimal 2 tahun sekali Alat Pemadam Kebakaran Besar Alat-alat ini ada yang dilayani secara manual ada pula yang bekerja secara otomatis : Sistem hidran mempergunakan air sebagai pemadam api. Terdiri dari pompa, saluran air, pilar hidran (diluar gedung), boks hidran (dalam gedung) berisi slang landas, pipa kopel, pipa semprot dan kumparan slang. Sistem penyembur api (sprinkler system), kombinasi antara sistem isyarat alat pemadam kebakaran . Sistem pemadam dengan gas Pedoman Singkat antisipasi dan tindakan pemadam kebakaran  Tempatkan APAR selalu pada tempat yang sudah ditentukan, mudah dijangkau dan mudah dilihat, tidak terlindung benda/perabot seperti lemari, rak buku dsb.Beri tanda segitiga warna merah panjang sisi 35 cm Siagakan APAR selalu siap pakai Bila terjadi kebakaran kecil : bertindaklah dengan tenang, identifikasi terbakar dan tentukan APAR yang dipakai. Jika terjadi kebakaran besar : bertindaklah dengan tenang, beritahu orang lain untuk pengosongan lokasi, nyalakan alarm, hubungi petugas pemadam kebakaran. Fasilitas  penunjang keberhasilan pemadaman kebakaran ditentukan oleh keberadaan fasilitas penunjang yang memadai, antara lain : Fire alarm secara otomatis akan mempercepat diketahuinya peristiwa kebakaran. Beberapa kebakaran terlambat diketahui karena tidak ada fire alarm, bila api terlanjur besar maka makin sulit untuk dipadamkan. Jalan petugas, diperlukan bagi petugas yang datang menggunakan kendaraan pemadam kebakaran, kadang harus keluar masuk mengambil air, sehingga perlu jalan yang memadai, keras dan lebar, juga untuk keperluan evakuasi. Untuk itu diperlukan fasilitas : a. Daun pintu dapat dibuka keluar b. Pintu dapat dibuka dari dalam tanpa kunci c. Lebar pintu dapat dilewati 40 orang/menit d. Bangunan harus terbuat dari beton sehingga mampu terbakar minimal 7 jam   Daftar Pustaka : Cecep Dani Sucipto https://docplayer.info/31960034-pencegahan-dan-pemadam-kebakaran https://alatpemadamapi101.com/klasifikasi-kebakaran