Seringkali keluarga dan pasien jiwa kehilangan harapan dengan masalah-masalah yang dihadapi terkait dengan proses perawatan dan pemulihan yang memakan waktu yang lama. Banyak pasien dan keluarga yang memilih pasrah dan mengambil jalan pintas dengan memasung pasien. Hal tersebut menimbulkan masalah baru, seperti ketergantungan seumur hidup dan kehilangan produktifitas dari pasien maupun keluarga.
Menurut jurnal Relationship between Mental Disorders and Optimism in a Community-Based Sample of Adults, masalah yang sering muncul pada pasien dan keluarga yang terbanyak adalah gangguan suasana hati, disusul dengan gangguan kecemasan, penyalahgunaan alkohol dan gangguan somatik. Hal tersebut mempengaruhi proses pemulihan dan perasaan optimis dengan efek domino yang sangat kompleks terkait perasaan optimis tersebut. Untuk itu, perlu dibangun kepercayaan ke pasien dan keluarga pasien bahwa pasien mampu untuk pulih dan produktif sesuai dengan kondisi optimal pasien. Untuk itu, sebagai tenaga kesehatan sebagai motivator dan juga caregiver untuk pasien dengan gangguan jiwa perlu diberikan gambaran yang realistis agar tetap optimis menghadapi kehidupan.
1. Tentukan tujuan
Tentukan tujuan jangka pendek, menengah dan panjang yang dapat tercapai. Jangka pendek seperti mampu minum obat secara teratur. Jangka menengah seperti muncul kesadaran untuk kontrol secara teratur, dan jangka panjang dengan mampu menjaga produktifitas dalam hidup pasien.
2. Tentukan langkah realistis dalam mencapai tujuan
Penentuan tujuan yang realistis dan sesuai dengan kondisi pasien, harus dibarengi dengan langkah dan fasilitas yang diperlukan oleh pasien dan keluarga. Tidak dapat dipungkiri, kondisi tersebut harus dilakukan bersama baik antar instansi terkait, seperti rumah sakit jiwa, dinas sosial, pusat rehabilitasi, puskesmas dan lembaga pendidikan serta pelatihan. Penentuan kondisi dan keterbutuhan pasien dilakukan dengan skrining menyeluruh agar dapat melakukan perawatan dan bantuan hidup yang sesuai.
3. Lakukan kegiatan secara terjadwal
Saat ini, perawatan pasien masih bergantung sepenuhnya dengan caregiver, yaitu keluarga. Perlu diberikan pengetahuan kepada keluarga sebagai caregiver tentang perlunya kegiatan terjadwal, termasuk minum obat dan kegiatan spiritual sebagai upaya menyeimbangkan emosi dan pelengkap terapi medikasi.
4. Menciptakan suasana yang seru dan positif dalam menjalankan aktivitas
Aktivitas yang monoton dan terus menerus menimbulkan rasa kebosanan. Banyak pasien mengalami relaps karena terputus proses pengobatannya. Untuk itu perlu inovasi dalam menjalani proses pengobatan, pemulihan dan juga proses maintenance.
Optimisme dalam pengobatan dan pemulihan jangka panjang diperlukan untuk menjaga kondisi pasien dan keluarga pasien sebagai caregiver. Untuk itu perlu dukungan baik secara materiil dan non materiil. Instansi-instansi terkait perlu menjalankan fungsi dalam proses perawatan dan juga petugas kesehatan memberikan dukungan dan pengharapan yang realistis dan sesuai dengan kondisi pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Ece Elif Öcal,dkk.2022.Relationship between Mental Disorders and Optimism in a Community-Based Sample of Adults. Diakses pada hari Selasa, 10 Mei 2022 jam 10.40 di https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8869756/
Clair-Colonie Terapon.2020.Optimism and the Psychological Recovery Process Among Informal Caregivers of Inpatients Suffering From Depressive Disorder: A Descriptive Exploratory Study. Diakses pada hari Selasa, 10 Mei 2022 jam 10.40 di https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fpsyt.2019.00972/full
Mika Kivima¨ki,dkk. 2005.Optimism and Pessimism as Predictors of Change in Health After Death or Onset of Severe Illness in Family. Health Psychology Copyright 2005 by the American Psychological Association 2005, Vol. 24, No. 4, 413– 421. Diakses pada hari Selasa, 10 Mei 2022 jam 10.40 di https://www.apa.org/pubs/journals/releases/hea-244413.pdf
Ciro Conversano, dkk.2010.Optimism and Its Impact on Mental and Physical Well-Being. Clinical Practice & Epidemiology in Mental Health, 2010, 6, 25-29. Diakses pada hari Selasa, 10 Mei 2022 jam 10.40 di https://clinical-practice-and-epidemiology-in-mental-health.com/contents/volumes/V6/CPEMH-6-25/CPEMH-6-25.pdf
Penulis
Tri Nurul Hidayati, S.Kep