Kondisi kehidupan di era modern semakin kompleks. Masyarakat dihadapkan pada perubahan sosial yang tidak dapat dihindari, khususnya oleh masyarakat perkotaan. Selain dampak positif, masyarakat juga mengalami dampak negative dari modernisasi tersebut. Dampak positifnya adalah dapat mensejahterakan kehidupan manusia karena teknologi modern yang dimiliki oleh masyarakat. Sementara dampak negatif dari modernisasi adalah ketidakmampuan seseorang mengikuti perubahan social karena perubahan kehidupan yang cepat. Keadaan ini menyebabkan semakin meningkatnya beban psikologis, sosiologis, maupun beban ekonomi (Soeroso, 2008).
Peningkatan beban psikologis menjadi salah satu prevalensi peningkatan masalah kesehatan mental pada masyarakat urban akibat modernisasi. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan angka prevalensi nasional gangguan mental emosional adalah 6 permil, artinya ada 6 orang dari 1000 penduduk yang mengalami gangguan mental emosional. Gangguan mental emosional dimulai dengan perasaan cemas, putusasa, dan depresi.
Keputusasaan adalah keadaan subjektif dimana seseorang terlihat memiliki keterbatasan atau tidak ada alternatif atau pilihan-pilihan pribadi yang tersedia dan tidak mampu menggerakkan energi atas nama sendiri (Rosernberg&Smith, 2010). Riyadi (2009) juga menjelaskan bahwa keputusasaan merupakan keadaan individu yang tidak berhasil memecahkan masalah danakan meninggalkan masalah karena merasa tidak mampu, seolah-olah koping yang biasa bermanfaat sudah tidak berguna lagi. NANDA (2011) menjelaskan keputusasaan sebagaikondisi subjektif yang ditandai dengan individu memandang hanya terbatas atau bahkan tidak ada alternatif atau pilihan pribadi sehingga individu tidak mampu memobilisasi energi demi kepentingan sendiri. Keputusasaan diduga berhubungan dengan angka morbiditas dan mortalitas seseorang yang sedang menderita penyakit baik fisik maupun mental. Keputusasaan adalah indikator utama risiko bunuh diri dalam waktu yang lama (Kaplan, Saddock,&Grabb, 2010).Keputusasaan dapat mempengaruhi pikiran dan lebih merugikan dibandingkan proses penyakitnya sendiri.
Seseorang dapat mengalami keputusasaan dikarenakan mengalami gangguan pada daerah prefrontal korteks dan hipokampus pada sistem limbik otak yang berfungsi sebagai pusat berpikir/kognitif (perencanaan dalam kegiatan yang disadari; pengambilan keputusan; dan pembentukan kepribadian), dan pusat memori. Setiap stressor yang mengakibatkan jejas pada region tersebut dapat menyebabkan ketidakseimbangan kimiawi dan individu dapat berespon putus asa terhadap adanya stresor. Selain factor biologis, factor psikologis dan social juga dapat menyebabkan seseorang mengalami keputusasaan. Stressor psikologis yang mempengaruhi seseorang mengalami keputusasaan antara lain: intelegensi, ketrampilan verbal, moral, kepribadian, pengalaman masa lalu, konsep diri, motivasi, mekanisme pertahanan psikologis, locus of control, ketidakmampuan berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan, sedangkan factor social antara lain umur, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan, pekerjaan, perkawinan, posisi di masyarakat, suku, agama, keterlibatan dalam politik, pengalaman sosial, dan segala keterlibatan dengan kegiatan sosial di masyarakat, kehilangan sesuatu atau seseorang yang berarti (Stuart, 2009& Carpenito, 2004)
Seseorang yang mengalamikeputusasaan mengalami tanda dan gejala spesifik yaitu perasaan harga diri rendah, apatis dan tidak mampu mengembangkan koping baru serta merasatidak ada yang akan membantu. Seseorang yang merasa putus asa, tidak mampu mengidentifikasi adanya pemecahan masalah sehingga tidak ada harapan (asa) lagi dalam kehidupannya. Keputusasaan dianggap mempengaruhi pembentukan pikiran sebagai variabel kognitif yang didentifikasi sebagai prediktor utama adanya ide dan perilaku bunuh diri (Beck, Kovacs, &Weissman, 1975; Hill, Gallagher, Thompson & Ishida, 1988 dalam Neufeld, 2010). Harapan dan keputuasaan (hope vs hopefullness) juga digambarkan sebagai suatu rentang kontinum adaptif dan maladaptif. Keputusasaan merupakan rentang respon individu yang maladaptif. Oleh karena itu, diperlukan tindakan untuk mengubah respon maaldaptif tersebut menjadi respon yang adaptif.
Tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang mengalami keputusasaan bertujuan meningkatkan harapan hidup klien.Peran harapan (hope) yang positif dalam kehidupan manusia baik rentang sehat maupun sakit secara signifikan mempengaruhi praktik keperawatan dimana bertujuan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan klien (Hammer dkk, 2009). Harapan merupakan faktor penting yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas hidup terutama individu dalam keadaan terancam hidupnya atau menderita penyakit kronik. Perawat berperan penting dalam membantu klien membangun harapan mereka (Cutcliffe, 1996; Herth, 1993; Nowotny, 1989; Stoner, 2004 dalam Gurkova dkk, 2011). Harapan adalah keyakinan tentang masa depan, sesuatu yang dapat melawan keputusasaan, dan memberikan rasa aman individu yang berasal dari individu itu sendiri. Selain mengidentifikasi harapan-harapan dalam kehidupan, diperlukan juga hubungan dan dukungan sosial. Keluarga merupakan sumber dukungan utama. Keluarga dapat dilibatkan dalam perawatan melalui aktivitas-aktivitas positif. Partisipasi aktif dalam aktivitas kelompok juga diperlukan oleh seseorang yang mengalami keputusasaan. Aktivitas yang berhubungan dengan peningkatan spiritualitas diri sangat baik dilakukan oleh seseorang yang mengalami keputusasaan (Stuart, 2009).Oleh karena itu, penting bagi setiap individu memiliki kemampuan untuk mencegah dan mengatasi keputusaasaan dalam kehidupannya.
DAFTAR PUSTAKA
NANDA. (2011). Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2009-2011. Cetakan I. Jakarta: Penebit Buku Kedokteran EGC
Carpenito, L. J.C (2004). Hanndbook of nursing diagnosis ed.10. USA: Lippincott Williams & Wilkins
Gurkova, E. (2011). Issue in TheDefnition of HRQoL. Journal of Nursing, Social Studies, Public Health and Rehabilitation (3-4), 190–197
Hammer, L. B., Kossek, E. E., Yragui, N. L., Bodner, T., & Hanson, G. C. (2009). Development and Validation of a Multidimensional Family supportive supervision behaviors (FSSB).Journal of Management, 35(4), hlm.837-856.