Kemarin ‘kan Andi baru membeli robot sama ayah, beli robot barunya nanti saat ulangtahun Andi ya?, “ ungkap mama Andi yang mencoba membujuk anaknya”. Namun, dengan terus menangis dan merengek Andi menunjuk pada robot keluaran terbaru yang ia lihat diiklan televisi. Mama Andi yang tidak kuasa mendengar tangis dan rengekkan anaknya, segera mengambil robot tersebut. Sambil mengoceh memarahi Andi, ia bergeges menuju kasir membayar belanjaannya dan segera keluar dari toserba. Seketika Andi langsung diam saat robot tersebut diberikan kepadanya, sambil tersenyum dan tertawa ia menggerak-gerakkan robot barunya seolah-olah terbang...
Sedikit penggalan cerita diatas mengingatkan kita pada situasi sehari-hari yang tidak jarang dialami oleh orangtua baik saat bepergian maupun saat berada di rumah. Muncul perasaan marah, malu, sedih saat hal tersebut terjadi. Bagi Andi yang saat ini berusia lima tahun, menunda keinginan membeli robot bukan lah sesuatu yang menyenangkan. Menunda keinginan atau kepuasan menjadi tugas yang sulit, namun memberikan dan menuruti seluruh kemauan anak juga bukan pilihan terbaik bagi orangtua.
Menunda kepuasan (Delayed gratification) merupakan kemampuan seseorang untuk menunda reward yang dapat diperoleh langsung dengan mengarahkan perilaku untuk mendapatkan reward yang lebih diinginkan di masa mendatang. Istilah delayed gratification dikenalkan oleh Walter Mischel dan timnya dari Stanford University dengan eksperimen marsmallow yang dilakukan pada 165 orang balita di akhir 1960-an dan awal 1970-an. Eksperimen ini meneliti tentang konsep kontrol diri pada balita usia 3-5 tahun dengan menerapkan teori delay of gratification yang sampai saat ini penelitiannya masih terus dilakukan dan dikembangkan.
Menunda kepuasan (Delayed gratification) sangat erat kaitannya dengan kontrol diri. Delayed gratification bukalah kemampuan yang dibawa sejak lahir, melainkan dapat meningkat seiring bertambahnya usia. Berbagai faktor berpengaruh pada kemampuan anak melakukan penundaan terhadap kepuasan (delayed gratification), salah satunya adalah pengasuhan yang dilakukan oleh orangtua. Orangtua memegang peran penting dalam mengembangkan kemampuan tersebut sehingga anak mampu mengendalikan diri dan menunda pemuasan keinginan untuk mendapatkan hal yang lebih besar.Kemampuan menunda kepuasan ini dapat dilatih sejak dini. Kemampuan menunda kepuasan di masa kanak-kanak awal dikaitkan dengan berbagai hasil positif pada masa remaja dan seterusnya, termasuk kemampuan akademik dan skor SAT yang lebih tinggi, memiliki berat badan ideal, kemampuan mengatasi stres yang lebih baik, serta memiliki tanggung jawab sosial dan hubungan yang positif dengan teman sebaya (Carlson dkk, 2018). Mischel, (Twito dkk; 2019) melalui penelitian yang dilakukan menyebutkan bahwa delayed gratification dapat menjadi faktor protektif terhadap permasalahan psikologis dan fisik yang serius, seperti gangguan perilaku, perilaku anti sosial, hiperaktif, adiksi, serta obesitas pada anak.
Beberapa strategi dapat dilakukan untuk mengembangkan kemampuan delayed gratification pada anak (Bredehoft, 2019 ) yaitu:
Jadikan diri sebagai model bagi anak untuk melatih delayed gratification.
Ciptakan lingkungan yang kondusif dan konsisten, menghargai setiap kendali diri yang dilakukan. Hal ini akan membantu mengembangkan kemampuan kontrol diri anak sehingga akan lebih mudah dalam menerapkan delayed gratification.
Ajarkan anak membuat tujuan yang dapat dicapai.
Ajarkan anak menerima dan mengendalikan emosi pada setiap situasi yang dihadapi.
Latih anak untuk melakukan aktivitas lain selama proses delayed gratication dilakukan sebagai distraksi.
Ajarkan anak membuat rencana, seperti jika seperti ini.... maka akan .....
Selain strategi diatas, beberapa aktivitas sehari-hari juga dapat dilakukan oleh orangtua dan anak untuk mengembangkan kemampuan menunda kepuasan (delayed gratification) seperti mengajarkan anak untuk mengantri, menabung untuk membeli barang yang diinginkan, melibatkan anak dalam membuat makanan kesukaannya (memasak bersama), ajarkan anak untuk tidak memotong pemicaraan / menunggu giliran berbicara, tidak selalu menyetujui keinginan anak dengan membuat batasan yang tegas namun tetap dapat membuat anak mengeksplor kemampuan dirinya sehingga ia dapat belajar bahwa tidak semua keinginannya dapat dikabulkan, dan lain sebagainya. Melatih anak menunda kepuasan akan menjadi menyenangkan ketika dilakukan dalam aktivitas sehari-hari bersama orangtua.
Referensi:
Bredehoft, D.J. 2019. Strategies to Teach Children Delayed Gratification. Diakses pada: https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-age-overindulgence/201912/st...
Carlson,S.M., Shoda. Y., Ayduk .O, Aber.J.L, Schaefer, C, Sethi, A, Wilson, N., Oeake, P.K & Mischel, W.2018. cohort Effects in Children’s Delay of Gratification. Developmental Psychology, published June 25, 2018
Mischel W., Shoda, Y., Rodriquez M.L., 1989. Delayed of Gratification in Children. Science New Series Vol: 244 No. 4907
Twito, L., Israel, S., Simonson, I., Knafo-Noam, A. 2019. The Motivational Aspect of Children’s Delayed Gratification: Values and Decision Making in Middle Childhood. Front. Psychol. 10:1649. doi: 10.3389/fpsyg.2019.01649
Penulis
Mita Octarina, M.Psi., Psikolog