Masyarakat Indonesia yang mengalami gangguan kejiwaan mengalami peningkatan yang cukup signifikan, menurut data hasil riset kesehatan dasar tahun 2018 yang dilakukan oleh Badan Penelitian Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan, jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia yaitu sebesar 7% dari total jumlah penduduk di Indonesia yang mengalami gangguan jiwa skizofrenia/psikosis. Bangka belitung tercatat data jumlah sebesar 7% dari jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia (RISKESDAS 2018)
Salah satu intervensi keperawatan dalam buku 3S (SDKI SLKI SIKI) dalam perawatan pasien dengan gangguan jiwa yaitu adalah melatih pasien untuk mengembangkan berpikir positif atau afirmasi positif. Tujuan dari latihan berpikir positif yaitu membantu pasien untuk meningkatkan harga diri serta membebaskan diri dari pikiran negative, membantu memvisualisasikan dan mempercayai hal yang ditegaskan pada diri sendiri, hal tersebut sangat berkaitan dalam membantu perubahan positif dalam individu menggantikan pemikiran yang negatif sehingga pasien mampu mengambil keputusan dan mencapai tujuan yang realistis dalam hidupnya serta mengontrol ketidakberdayaannya dengan mengendalikan situasi yang masih dapat dilakukan oleh pasien Menurut Elfiky (2015) latihan berpikir positif adalah latihan ketrampilan yang dapat membantu seseorang dalam menafsirkan atau memandang dirinya dan orang lain dengan cara sudut pandang dan emosi yang positif. Latihan berpikir positif adalah suatu bentuk latihan terapi kognitif yang bertujuan untuk membantu pasien dalam mengubah cara menafsirkan dan mengubah sudut pandang yang negatif pada saat pasien mengalami kekecewaaan, dan mampu membangkitkan aspek positif dan keyakinan pada diri pasien sehingga merasa lebih baik.
Latihan berpikir positif merupakan suatu bentuk ketrampilan kognitif yang dapat dipelajari pasien melalui latihan yang bertujuan agar pasien merasakan kepuasan hidupnya, mengarahkan individu untuk yakin akan kualitas diri dan menerima karakteristik pribadinya, serta menunjukkan rasa optimisme pada kemampuan yang dimiliki sehingga individu merasa adanya harapan kesuksesan di masa depan. Latihan berfikir positif bisa dilakukan selama 5 – 10 menit. Tahap tahap dalam latihan berpikir positfi antara lain
a. Penangkapan pikiran
Perawat mengkaji atau mengidentifikasi isi atau bentuk pikiran yang menyimpang serta menentukan isi atau bentuk pikiran menyimpang agar bisa di intervensikan dalam tahap berikutnya. Dalam fase kerja dengan menganjurkan pasien untuk duduk pada kursi yang sudah disediakan, tanyakan keluhan utama pasien dan tanggapi secukupnya, Jelaskan kaitan antara pikiran-perasaan dengan perilaku (perilaku yang ingin dihilangkan), lakukan Identifikasi pikiran-pikiran negatif klien dan meminta klien menjelaskan bagaimana respon klien terhadap perasaan-pikiran negatif yang ada pada dirinya. bantu klien mengenali distorsi kognitifnya.
b.Uji realitas.
Bertujuan untuk menetapkan distorsi kognitif klien secara logis-rasional sehingga tercapainya kata akhir, bahwa klien benar benar ingin menghilangkan distorsi kognitif tersebut. Dalam fase kerja perawat bisa memulai dengan memvalidasi distorsi kognitif yang telah disepakati untuk diintervensi, tanyakan pada klien mengenai bukti-bukti yang mendukung distorsi kognitif atau keuntungan apa yang didapatkannya, hadirkan pada klien mengenai bukti bukti yang melemahkan atau konsekuensi yang didapatkan dari distorsi kognitifnya, kemudian meminta respon klien.
c. Penghentian pikiran.
Bertujuan agar pasien terbebas dari pikiran yang menyimpang. Dalam fase kerja perawat bisa menganjurkan klien untuk bersandar pada kursi senyaman mungkin. Minta klien untuk menutup matanya, anjurkan klien mengambil nafas melalui hidung (secukupnya) tahan sebentar, keluarkan melalui mulut perlahan-lahan (Lakukan berulang ulang sampai klien merasa tenang), minta klien untuk menghadirkan dan mengatakan mengenai pikiran-pikiran yang tidak menyenangkan/menyakitkan sambil perawat memperhatikan respon pasien, terakhir minta klien untuk mengatakan pada dirinya “STOP!” dan perlahan lahan membuka matanya
d.Mengganti pikiran.
Bertujuan untuk membantu pasien dalam mengidentifikasi, menganalisis dan menentang pikiran negatif. Memodifikasi proses pemikiran yang salah dengan membantu klien mengubah cara berfikir atau mengembangkan pola pikir yang rasional, membantu menargetkan proses berfikir serta perilaku yang menyebabkan dan mempertahankan panic dan kecemasan. Dalam fase kerjaperawat bisa memulai dengan menganjurkan klien untuk duduk pada kursi yang sudah disediakan, tanyakan keluhan utama klien dan tanggapi secukupnya, Identifikasi pikiran-pikiran negatif klien dan meminta klien menjelaskan bagaimana respon klien terhadap perasaan-pikiran negatif yang ada pada dirinya, bantu klien mengenali distorsi/penyimpangan pemikiran dan perasaannya dengan cara mengurutkan masalah-masalah yang ringan terlebih dahulu, tanyakan bukti-bukti yang mendukung distorsi kognitif atau keuntungan apa yang didapatkannya, tanyakan juga mengenai bukti bukti yang melemahkan atau konsekuensi yang didapatkan dari distorsi kognitifnya. minta klien untuk membuat kesepakatan dalam merubah persepsi terhadap situasi atau perilaku yang dirasakan klien (Strategi ini dapat memicu kesempatan pada klien untuk merubah dan menemukan makna baru). Setelah itu anjurkan kembali klien bersandar pada kursi senyaman mungkin sambil meminta klien menutup mata. Dan mengambil nafas melalui hidung (secukupnya) tahan sebentar, keluarkan melalui mulut perlahan-lahan (Lakukan sampai merasa tenang). Setelah itu perawat meminta klien untuk menghadirkan dan mengatakan mengenai pikiran-pikiran yang tidak menyenangkan/menyakitkan, kemudian induksi klien agar ia mampu memikirkan akibat dari pikiran negative, dan bantu/induksi klien agar mudah mengalihkan pikiran. Terakhir minta klien untuk mengatakan dengan mantap “alihkan pikiran” sesuai yang telah disepakati, lalu anjurkan klien membuka mata
Sebelum melatih pasien berpikir positif dan mengembangkan harapan positif, terlebih dahulu perawat melakukan pendekatan terlebih dahulu melalui komunikasi teraupetik sesuai standar asuhan dengan membina hubungan saling percaya dengan klien. Kemudian setelah itu menjelaskan kepada pasien mengenai kontrak tindakan yang akan dilakukanLatihan berpikir positif membawa banyak dampak positif bagi kondisi kesehatan pasien diantaranya dapat merangsang pengeluaran hormon endorfin yang dapat membuat kondisi tubuh lebih rileks sehingga secara sadar dapat mengaktifkan kemampuan yang dimiliki oleh pasien.. Selain itu, dapat membuat individu mampu bertahan dalam situasi yang rawan distress, juga dapat meningkatkan kemampuan untuk menyelesaikan beragam masalah dan tugas. Banyak hal yang dapat mendukung klien untuk berfikir positif dan dalam mengambil keputusan perawatan dengan keluarga. Hal tersebut juga terjadi pada klien. Dengan latihan berpikir positif maka pasien mengenali pola pikir yang negatif dan memahaminya, mengubah pola pikir yang negatif dengan cara melatihnya, sehingga dapat menggunakan pola pikir baru yang lebih positif untuk menghadapi peristiwa kehidupan yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
FIK-UI, RSMM (2012). Standar asuhan keperawatan psikososial. Kerjasama Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor dengan mahasiswa program Magister Fik UI. Tidak dipublikasikan
Riskesdas. (2018). Laporan riset kesehatan dasar 2018. Diunduh dari http://www.riskesdas.litbang.depkes.go. Id
Rahma, Sofia Zulfa ( 2019 ) Latihan Berfikir Positif Pada Klien Dengan Harga Diri Rendah. Diakses pada tanggal 20 Januari 2022 . Pukul 10.05 WIB.
Penulis
Sapri Rahman, S.Kep Ners