Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Selain itu, perilaku kekerasan adalah pemaksaan secara fisik maupun verbal ditunjukkan kepada diri sendiri maupun orang lain. Respon perilaku yang diperlihatkan oleh klien berbeda-beda tergantung bagaiman keadaan klien, dari respons adaptif sampai respons maladaptif. Respons adaptif adalah respon normal klien yang masih terkontrol terhadap masalah, sedangkan respons maladaptif adalah respon klien yang berlebihan atau tidak normal terhadap masalah.
Asertif
Frustasi
Pasif
Agresif
Kekerasan
Mempu mengungkapkan marah tanpa menyalahkan orang lain dan memberikan kelegaan
Gagal mencapai tujuan kepuasan saat marah dan tidak dapat menemukan alternatif
Tidak dapat mengungkapkan perasaan, tidak berdaya, dan menyerah
Mengekspresikan secara fisik, tapi masih terkontrol, mendorong orang lain dengan ancaman
Perasaan marah, permusuhan yang kuat, hilang kontrol, disertai amukan, dan merusak lingkungan
Sumber : (Yosef, 2010)
Pasien yang masuk rumah sakit jiwa seringkali berada dalam kondisi krisis dan tidak dapat berpikir dengan jernih,sehingga mekanisme koping pasien menjadi maladaptif, kondisi distress yang dialami pasien dapat menyebabkan perilaku agresif. Perawat yang bekerja di unit emergensi maupun ruang intensif psikiatri seringkali menjadi korban dari perilaku agresif pasien, sehingga perawat yang bekerja di ruang intensif harus mampu mengkaji pasien yang beresiko melakukan perilaku kekerasan, menangani dengan efektif pasien perilaku kekerasan sebelum, selama dan sesudah perilaku kekerasan berlangsung
Pengertian Asertif Training
Assertives training adalah intervensi tindakan keperawatan pasien perilaku kekerasan dalam tahap preventif (pencegahan). Latihan asertif bertujuan agar pasien mampu berperilaku asertif dalam mengekspresikan kemarahannya. Assertives training adalah suatu terapi modalitas keperawatan dalam bentuk terapi tingkah laku, klien belajar mengungkapkan perasaan marah secara tepat atau asertif sehingga mampu berhubungan dengan orang lain, mampu menyatakan : apa yang diinginkan, apa yang disukai, apa yang ingin dikerjakan, dan kemampuan untuk membuat seseorang merasa tidak risih berbicara tentang dirinya sendiri. pemberian latihan asertif dapat mengurangi perilaku agresif pasien yang diarahkan pada diri sendiri, orang lain maupun lingkungan.
Tahapan Asertif Training
Latihan asertif (Assretiveness Training) mengajarkan pasien untuk berperilaku asertif yang dilakukan dalam 4 sesi pertemuan,yaitu :
Sesi 1 pasien dilatih untuk dapat mengenali diri merubah pikiran dan perasaan serta latihan berperilaku asertif
Sesi 2 pasien dilatih untuk mengungkapkan keinginan dan kebutuhan serta cara memenuhinya
Sesi 3 pasien dilatih untuk menjalin hubungan sosial dalam memenuhi kebutuhannya
Sesi 4 pasien dilatih untuk mempertahankan perubahan perilaku asertif dalam berbagai situasi
pada sesi 3 diajarkan melatih pasien membina hubungan sosial dalam memenuhi kebutuhannya, melatih pasien menyelesaikan masalah terkait kebutuhan dan keinginan (problem solving) serta melatih pasien menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh pasien dan orang lain.
Teknik Asertif Training
Teknik pelaksanaan latihan asertif menggunakan beberapa metode, yaitu :
Describing (penjelasan / menggambarkan mengenai perilaku baru yang akan dilatih),
Modeling (pemberian contoh perilaku yang dilatih)
Role playing (berlatih perilaku yang dicontohkan dengan kelompok atau orang lain),
Feedback (memberikan umpan balik terhadap perilaku baru yang telah dipraktekkan, mana yang baik, dan mana yang perlu ditingkatkan), transfering (mempraktekan dalam kehidupan sehari-hari).
Latihan asertif termasuk dalam bagian Strategi pelaksanaan dalam Resiko perilaku kekerasan / SP III tentang mengontrol perilaku kekerasan secara verbal, mengungkapkan rasa marah secara verbal : menolak dengan baik, meminta dengan baik, dan mengungkapkan perasaan dengan baik. Dengan latihan asertif yang diterapkan dalam kegiatan sehari-hari akan membantu pasien dalam menyampaikan hal-hal yang sebenarnya ingin disampaikan pasien secara baik dan sesuai tujuannya. Selain itu juga diharapkan dukungan dari orang terdekat, keluarga dan lingkungan sosial pasien.
Daftar Pustaka :
Erwina, I. (2012). Aplikasi Model Adaptasi Roy pada Klien Resiko Perilaku Kekerasan dengan Penerapan Asertiveness Training di RS Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor. NURS JURNAL KEPERAWATAN
Keliat, B. A., et.al (2011). Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas : CMHM Basic Cours. Jakarta: EGC.
Rahman, F. H. Y. (2017). Upaya Penurunan Resiko Perilaku Kekerasan Pada Dengan Melatih Asertif Secara Verbal. Fakultas Ilmu Kesehatan UMS. Jurnal Keperawatan
Stuart, G.W., & Laraia, M.T. (2005). Principles and practice of psychiatric nursing.(8th edition). St Louis: Mosby.
Sodikin, M. A. Dkk. (2015). Pengaruh Latihan Asertif Dalam Memperpendek Fase Intensif Dan Menurunkan Gejala Perilaku Kekerasan Di Ruang Intensive Psychiatric Care Unit (IPCU) RSJ. Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang. Jurnal Ilmu Keperawatan
Yosep, I. (2010). Keperawatan Jiwa Edisi Revisi Ke 3. Bandung: Refika Aditama.