VAKSIN SINOVAC VS ASTRAZENECA, EFIKASI SAMPAI EFEK SAMPING

Sudah 2 tahun berlalu setelah diumumkannya pasien pertama positif COVID-19 di Indonesia pada Maret tahun lalu. Para ilmuwan diberbagai negara berlomba-lomba untuk menemukan vaksin virus Corona yang aman dan efektif pada manusia. Setelah melewati uji klinis pada manusia dan telah melewati 6 tahap dalam pembuatan vaksin yakni  tahap eksplorasi, praklinis, perkembangan klinis, tinjauan peraturan dan persetujuan, manufaktur, dan control kualitas, baru sebuah vaksin bisa digunakan.

Di Indonesia sendiri vaksin yang digunakan dalam melawan virus Corona adalah Vaksin Sinovac dan AstraZeneca. Kedua vaksin tersebut diketahui sudah mendapatkan izin dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sehingga efektivitas dan keamanannya terjamin. Namun, tetap ada beberapa perbedaan antara vaksin Sinovac dan AstraZeneca.  Mulai dari platform atau teknologi pengembangan vaksin, data efikasi, keluhan efek samping, hingga jarak pemberian dosis. Berikut perbedaan antara vaksin Sinovac dengan AstraZeneca.

  1. Teknologi Pembuatan

Vaksin Sinovac

Platform atau teknologi pengembangan vaksin Sinovac dan AstraZeneca berbeda. Vaksin Sinovac memanfaatkan virus SARS-COV-2 yang telah dimatikan (inactivated) untuk memicu respon imun. Metode ini sudah terbukti manjur dan telah digunakan dalam pengembangan vaksin lain, seperti vaksin flu dan vaksin polio.

Vaksin AstraZeneca

Sementara vaksin AstraZeneca menggunakan virus adeno hidup (adenovirus) yang telah dimodifikasi sebagai ‘pengirim’ protein khusus. Protein tersebutakan menginstruksikan sel tubuh untuk memproduksi sebagian kecil dari virus Corona yang kemudian memicu respon imun.

Adenovirus sendiri dikenal sebagai virus yang tidak berbahaya.

“Pada vaksin viral vector, virus yang tidak berbahaya ini akan masuk ke dalam sel di tubuh kita lalu mengirim instruksi pembuatan sebagian kecil virus penyebab COVID-19. Bagian tersebut merupakan protein mirip paku (spike protein) yang ditemukan pada permukaan virus COVID-19,” tulis Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC).

  1. Efikasi

Vaksin Sinovac

WHO menyebut vaksib Sinovac memiliki nilai efikasi mencegah 51 persen kasus COVID-19 bergejala pada orang berusia 18 tahun ke atas. Vaksin juga bisa mencegah kasus rawat inap di rumah sakit sampai 100 persen pada populasi penerima yang diteliti. Sementara riset yang dilakukan oleh Indonesia menemukan efikasi vaksin Sinovac mencapai sekitar 65 persen.

Vaksin AstraZeneca

Vaksin Astra Zeneca disebut WHO 63,09 persen efektif dalam mencegah kasus COVID-19 bergejala. Selain itu, AstraZeneca juga menyebut vaksin Corona buatannya 100 persenefektif mencegah penyakit parah karena COVID-19 dan rawat inap.

  1. Efek Samping

Vaksin Sinovac

Perbedaan vaksin Sinovac dan AstraZeneca berikutnya adalah terkait efek samping yang ditimbulkan. Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) menyebut sekitar10.000 laporan KIPI non-serius dan 200 KIPI serius terkait vaksin Sinovac hingga bulan Mei.

Kasus KIPI non-serius meliputi keluhan-keluhan ringan yang tidak membutuhkan perawatan dan bisa sembuh sendiri. Ini meliputi masalah demam, nyeri, mual, dan kelelahan usai divaksinasi.

Sementara KIPI menegaskan seluruh keluhan KIPI serius tertangani dengan baik dan tidak ada pasien yang terbukti meninggal dunia karena vaksin.

Vaksin AstraZeneca

Komnas KIPI menyebut ada sekitar9.000 kasus KIPI non-serius dan 18 kasus KIPI serius terkait penggunaan vaksin AstraZeneca hingga bulan Mei. Keluhan non-serius yang ditimbulkan vaksin AstraZeneca kurang lebih sama yaitu demam, nyeri, mual, hingga lelah.

Hanya saja untuk vaksin AstraZeneca diingatkan ada risiko terjadinyamasalah pembekuan darah. Hal ini terutama terjadi pada penerima vaksin AstraZeneca berusia muda.

  1. Rentang Dosis

Vaksin Sinovac

Perbedaan vaksin Sinovac dan AstraZeneca yang terakhiradalah jeda pemberian dosis pertama dan dosis kedua. Untuk memberikan efek perlindungan optimal, dosis vaksin Sinovac diberikan dalam rentang 28 hari atau tiga minggu.

Vaksin AstraZeneca

Perbedaan lain antara vaksin Sinovac dan vaksin AstraZeneca adalah vaksin AstraZeneca dosis kedua diberikan dalam rentang waktu 12 minggu atau tiga bulan. Perbedaan rentang waktu ini berdasarkan hasil studi yang melihat kapan pemberian dosis vaksin memberikan hasil efikasi terbaik.

“interval antara 8-12 minggu berkaitan dengan efikasi vaksin yang lebih baik,” tulis WHO.

 

Daftar Pustaka

Cnbcindonesia.com

Penulis: 
RIDHO HANDARI.D,S,Kep.Ner
Sumber: 
Perawat Rumah Sakit Jiwa Daerah

Artikel

27/11/2021 | Ns. Monalisa, AMK, S.Kep
27/11/2021 | Septia lianti, S.Kep, Ners
27/11/2021 | Tri Nurul Hidayati, S.Kep
27/11/2021 | Boifrida Butar-Butar, S.Kep,Ners
27/11/2021 | Ns.Kristianus Triaspodo, M.Kep, Sp.Kep.J
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
10/10/2018 | Emanuel Triwisnu Budi, AMK
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep

ArtikelPer Kategori