TUJUAN, KLASIFIKASI, KOMPONEN INTERVENSI KEPERAWATAN INDONESIA

SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) merupakan panduan yang digunakan untuk merencanakan intervensi keperawatan yang bertujuan memberikan asuhan keperawatan secara aman, efektif dan sesuai dengan aturan yang berlaku. SIKI juga merupakan salah satu standar profesi yang dibutuhkan dalam menjalankan praktik keperawatan. Intervensi merupakan segala bentuk terapi yang dikerjakan oleh perawat yang didasarkan pada pengetahuan dan penilaian klinis untuk mencapai peningkatan, pencegahan, dan pemulihan Kesehatan klien, individu, keluarga, dan komunitas. Intervensi keperawatan yang diterapkan di beberapa instansi pelayanan Kesehatan di Indonesia telah mengacu kepada standar dan referensi internasional. Akan tetapi, karena belum distandarisasi dan dibakukan, maka diterapkan secara beragam. Penggunaan terminology intervensi keperawatan yang terstandar dapat secara signifikan meningkatkan akurasi, efisiensi, dan efektifitas asuhan keperawatan. PPNI menerbitkan panduan berupa Standar Intervensi Keperawatan Indonesia agar tercipta keseragaman terminology (PPNI, 2018). 

Definisi intervensi dan tindakan keperawatan memiliki definisi yang berbeda. Intervensi keperawatan mencakup semua tindakan yang dilakukan oleh perawat, didasarkan pengetahuan dan penilaian klinis untuk mencapai kriteria hasil yang diharapkan. Sedangkan, Tindakan keperawatan merujuk pada Langkah-langkah spesifik yang perawat lakukan sebagai bagian dari pelaksanaan intervensi keperawatan (PPNI, 2018). 

Intervensi keperawatan perlu distandarisasi sebagai panduan penyusunan intervensi keperawatan, penyeragaman istilah/penyebutan intervensi keperawatan; perluasan (ekspansi) ilmu keperawatan; pengembangan sistem informasi; pembelajaran decision making bagi peserta didik keperawatan; penentuan biaya pelayanan yang diberikan oleh perawat; sebagai media mengkomunikasikan keperawatan ke tenaga Kesehatan lain (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018) 

Salah satu keunggulan yang harus dimiliki standar intervensi keperawatan adalah komprehensif (area generalis dan spesialis; fisiologis dan psikososial; kuratif, preventif; dan promotif; individu, keluarga dan komunitas; direct care dan indirect care; independent dan collaborative); berbasis riset; mudah digunakan; menggunakan istilah klinis yang jelas dan dapat dikaitkan dengan diagnosis dan outcome keperawatan (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018). 

Adapun rentang intervensi keperawatan yang dimaksud ada empat, yakni direct care intervention (intervensi yang dilaksanakan dengan berinteraksi langsung dengan pasien/laying on of hands); indirect care intervention (intervensi yang dilaksanakan tanpa berinteraksi langsung dengan pasien namun dilaksanakan demi pasien); nurseinitiated intervention (intervensi yang diinisiasi oleh perawat untuk mengatasi diagnosis keperawatan); health providerinitiated intervention (intervensi yang diinisiasi oleh tenaga Kesehatan lain, namun diberikan oleh perawat) (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018).

Tujuaan Intervensi Keperawatan

Tujuan dari Standar Intervensi Keperawatan Indonesia, yaitu: 

1.Menjadi panduan bagi perawat dalam Menyusun intervensi keperawatan 

2.Meningkatkan otonomi bagi perawat dalam memberikan pelayanan Kesehatan 

3.Memudahkan komunikasi intraprofesional dan interprofessional melalui penggunaan istilah intervensi keperawatan yang seragam dan terstandarisasi 

4.Meningkatkan mutu asuhan keperawatan  

Selain itu tujuan dari Standar Intervensi Keperawatan Indonesia juga membantu perawat merencanakan dan melaksanakan perawatan dengan cara sistematis dan berbasis pengetahuan ilmiah, sehingga dapat mencapai hasil yang diharapkan. Standar ini disusun berdasarkan sistem klasifikasi dari International Classification of Nursing Practice (ICNP) (PPNI, 2018). Standar ini mencerminkan komitmen profesi keperawatan dalam memberikan praktik keperawatan.

Klasifikasi Intervensi Keperawatan

Sistem pengelompokan yang disusun secara hierarki, mulai dari konsep yang bersifat umum atau Tingkat tinggi hingga konsep yang lebih khusus atau Tingkat rendah merupakan klasifikasi intervensi keperawatan. Tujuan klasifikasi tersebut untuk mempermudah pencarian intervensi keperawatan, serta memahami berbagai jenis intervensi yang sesuai dengan area praktik dan cabang disiplin ilmu keperawatan serta memudahkan pengkodean yang sesuai dengan penggunaan basis komputer. 

Secara skematis (Doengoes et al., 2013; Wake & Coeen, 1998), sistem klasifikasi ini mencakup lima kategori utama dan empat belas subkategori yang dirinci (PPNI, 2018): 

1.Fisiologis, kategori ini mencakup intervensi yang mendukung pemulihan fisik dan regulasi homeostasis, meliputi: 

a.Respirasi: yang memuat kelompok intervensi keperawatan yang mendukung pemulihan fungsi pernapasan dan oksigenasi 

b.Sirkulasi: mendukung pemulihan fungsi jantung dan pembuluh darah 

c.Nutrisi/cairan, mendukung pemulihan fungsi asupan makanan bergizi, gastrointestinal, metabolism, serta keseimbangan cairan dan elektrolit 

d.Eliminasi: mendukung pemulihan fungsi eliminasi fekal dan urinaria 

e.Aktivitas/istirahat: mendukung pemulihan fungsi muskuloskeletal, pengelolaan energi dan istirahat/tidur.

f.Neurosensory, mendukung pemulihan fungsi otak dan sistem saraf 

g.Reproduksi dan seksualitas, mendukung pemulihan fungsi reproduksi dan aspek seksual 

2.Psikologis, kategori ini berfokus mendukung fungsi fisik serta proses mental, meliputi: 

a.Nyeri dan kenyamanan: mengurangi rasa sakit dan meningkatkan rasa nyaman. 

b.Integritas ego: memulihkan kesejahteraan emosional 

c.Pertumbuhan dan perkembangan: mendukung fungsi tumbuh dan perkembangan individu 

3.Perilaku, kategori ini bertujuan mendukung perubahan perilaku atau penerapan pola hidup sehat, meliputi: 

a.Kebersihan diri, memulihkan kebiasaan, gaya hidup, kemampuan individu dalam merawat dirinya sendiri 

b.Penyuluhan dan pembelajaran, meningkatkan informasi, pengetahuan, serta edukasi tentang pola hidup sehat 

4.Relasional, mencakup intervensi yang mendukung interaksi sosial, termasuk pemulihan hubungan sosial antar individu 

5.Lingkungan, kategori ini meliputi: keamanan dan proteksi: meningkatkan keselamatan dan mencegah cedera

Komponen Intervensi Keperawatan

Komponen intervensi keperawatan pada standar ini terdiri dari tiga komponen utama yaitu (PPNI, 2018a): 

1.Label 

Merupakan nama dari intervensi yang menjadi kata kunci untuk memperoleh informasi tentang intervensi tersebut. Label biasanya terdiri dari satu atau beberapa kata yang diawali dengan kata benda, bukan kata kerja, dan berfungsi sebagai deskriptor intervensi keperawatan. Terdapat sekitar 18 deskriptor yang digunakan pada label intervensi keperawatan, yaitu: 

Tabel Deskriptor Intervensi Keperawatan 

Deskriptor Definisi 

Dukungan Memfasilitasi, memudahkan atau melancarkan 

Edukasi Mengajarkan atau memberikan informasi 

Kolaborasi Melakukan kerjasama atau interaksi 

Konseling Memberikan bimbingan 

Konsultasi Memberikan informasi tambahan atau pertimbangan 

Latihan Mengajarkan suatu keterampilan atau kemampuan 

Manajemen Mengidentifikasi dan mengelola 

Pemantauan Mengumpulkan dan menganalisis data 

Pemberian Menyiapkan dan memberikan 

Pemeriksaan Mengobservasi dengan teliti 

Pencegahan Meminimalkan risiko atau komplikasi 

Pengontrolan Mengendalikan 

Perawatan Mengidentifikasi dan merawat 

Promosi Meningkatkan 

Rujukan Menyusun penatalaksanaan lebih lanjut 

Resusitasi Memberikan tindakan secara tepat untuk mempertahankan kehidupan 

Skrining Mendeteksi secara dini 

Terapi Memulihkan Kesehatan dan/atau menurunkan risiko 

Sumber: (PPNI, 2018a) 

2.Definisi 

Memberikan penjelasan tentang makna dari label intervensi berupa kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh profesi perawat. 

3.Tindakan 

Merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perawat dalam melaksanakan intervensi keperawatan. Tindakan ini dikelompokkan menjadi empat jenis, dan penyusunan intervensi keperawatan menggunakan pendekatan OTEK yaitu (Berman et al., 2015; Potter & Perry, 2013; Wilkinson et al., 2016): 

a.Observasi

Pengumpulan serta analisis data mengenai kondisi kesehatan klien. Kata-kata yang sering digunakan dalam Tindakan ini, adalah “identifikasi”, “periksa”, atau “monitor”. Penggunaan kata “kaji”, sebaiknya dihindari karena istilah tersebut lebih sering digunakan pada tahap awal proses keperawatan (sebelum diagnosis), sehingga dapat menyebabkan kerancuan, sementara itu, tindakan observasi merupakan langkah yang dilakukan setelah diagnosis untuk memantau kondisi pasien. 

b.Terapeutik 

Tindakan langsung yang dapat memulihkan kondisi Kesehatan klien atau mencegah buruknya masalah Kesehatan. Kata-kata yang biasa digunakan, “berikan”, “lakukan”, maupun istilah serupa untuk menggambarkan aktivitas yang berdampak langsung terhadap Kesehatan pasien 

c.Edukasi 

Tindakan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan merawat diri melalui pembelajaran perilaku dan keterampilan baru untuk mengatasi masalah kesehatan. Kata-kata yang sering digunakan dalam Tindakan edukasi adalah “ajarkan” “anjurkan”, atau “latih”. 

d.Kolaborasi 

Tindakan ini berkaitan dengan kolaborasi antara perawat dan professional kesehatan lainnya atau sesama profesi. Kolaborasi dilakukan bila perawat memerlukan penanganan lebih lanjut. Tindakan ini memerlukan gabungan wawasan atau pengetahuan, dan keterampilan, dari berbagai professional Kesehatan. Kata-kata yang sering digunakan adalah “kolaborasi”, “rujuk”, “konsultasikan”.

Sumber: Sulistyawati, W & Hilfida, N, H. 2025. Penerapan SDKI, SLKI, SIKI dalam Pendokumentasian Asuhan Keperawatan. Penerbit Nuansa Fajar Cemerlang Jakarta.

Penulis: 
Erisqa Aerani, Amk
Sumber: 
Perawat RSJD dr Samsi Jacobalis

ArtikelPer Kategori