TINGKAT KECEMASAN PETUGAS DI INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD) UPTD RSJD PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG DI MASA PANDEMI COVID-19

Menurut Kusumawati (2010) Kecemasan adalah suatu keadaan yang membuat seseorang tidak nyaman khawatir, gelisah, takut, dan tidak tentram disertai berbagai keluhan fisik, cemas berkaitan dengan perasaan yang tidak pasti dan tidak berdaya. Pengertian lain Kecemasan atau ansietas adalah perasaan kuatir yang berlebihan dan tidak jelas, juga merupakan suatu respons terhadap stimuli eksternal maupun internal yang menimbulkan gejala emosional, kognitif fisik, dan tingkah laku (Baradero, Dayrit & Maratning, 2015).

Setiap manusia dalam menjalani kehidupannya sehari-hari pasti pernah mengalami kecemasan. Pada hakekatnya, kecemasan merupakan hal alamiah yang pernah dialami oleh setiap manusia. Kecemasan sudah dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Faktor yang dapat menimbulkan kecemasan misalnya masalah ekonomi, keluarga, pekerjaan, kondisi kesehatan, pendidikan dan lain-lain. Kecemasan dapat juga menjadi peringatan bagi individu agar dapat mempersiapkan diri terhadap ancaman atau bahaya yang akan terjadi.

Bila kecemasan pada individu dapat ditanggapi dengan baik maka kecemasan tersebut tidak akan mengganggu kehidupannya. Ada beberapa individu menanggapi kecemasan dengan tidak wajar sehingga dapat memperburuk kondisinya, bila berkelanjutan menyebabkan efek fisik yang berpotensi merusak tubuh. Gangguan kecemasan atau ansietas merupakan kelompok gangguan psikiatri yang paling sering ditemukan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2017) menyatakan bahwa gangguan depresi dan kecemasan merupakan gangguan jiwa yang umum terjadi, yang prevalensinya paling tinggi.  Terdapat lebih dari 200 juta orang di seluruh dunia (3,6% dari populasi) menderita gangguan kecemasan. Sementara itu jumlah penderita depresi sebanyak 322 juta orang di seluruh dunia (4,4% dari populasi) dan hampir separuhnya berasal dari wilayah negara Asia Tenggara dan Pasifik Barat. Depresi merupakan kontributor utama kematian akibat bunuh diri, yang mendekati 800.000 kejadian bunuh diri setiap tahunnya. 

Menurut catatan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2018), prevalensi gangguan emosional pada penduduk berusia 15 tahun ke atas, mengalami peningkatan dari 6,0% di tahun 2013 meningkat menjadi 9,8% di tahun 2018.  Sedangkan prevalensi penderita depresi di tahun 2018 sebesar 6,1%. Sementara itu prevalensi gangguan jiwa berat, skizofrenia juga mengalami peningkatan dari 1,7% di tahun 2013 meningkat menjadi 7,0% di tahun 2018.

Kondisi gawat darurat juga akan menimbulkan suatu kecemasan yang dialami oleh setiap orang yang berada di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Kegawatdaruratan juga menjadi salah satu bagian yang sering dialami dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi gawat merupakan sesuatu yang mengancam nyawa meliputi kasus trauma berat, akut miokard infark, sumbatan jalan nafas, tension pneumothorax, luka bakar disertai trauma inhalasi, sedangkan kondisi darurat yaitu perlu mendapatkan penanganan atau tindakan dengan segera untuk menghilangkan ancaman nyawa korban, seperti cedera vertebra, fraktur terbuka, trauma capitis tertutup, dan appendicitis akut.

Kecemasan yang dialami di Instalasi Gawat Darurat (IGD) biasanya terkait dengan kondisi atau kejadian yang dirasakan maupun berbagai macam prosedur atau tindakan asing yang harus dijalani atau dikerjakan. Kondisi ini akan meningkatkan hormon adrenalin, jika hormon adrenalin disekresi berlebihan maka kecemasan dapat meningkat dan akan terjadi peningkatan pada denyut jantung.

Perawatan Intensif dalam pelayanan Rumah Sakit dilakukan dibeberapa tempat, salah satunya adalah di ruang gawat darurat. Ruang Gawat Darurat yang dikenal dengan sebutan Unit Gawat Darurat (UGD) atau Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan tempat bekerja yang penuh dengan tekanan dan stersor yang tinggi sehingga memungkinkan terjadinya stres (Backe et al. 2012).

Resiko dalam pekerjaan sebagian besar dialami oleh perawat yang bekerja di Ruang Gawat Darurat. Peran perawat di Ruang Gawat Darurat dimana perawat selalu dihadapkan pada stressor yang bervariasi baik itu tidak dimengerti asalnya, lingkungan, krisis, kebutuhan pengetahuan akan teknologi, ketepatan perawatan pasien, dan jumlah pasien yang tidak dapat diperkirakan sehingga muncul stress dalam pekerjaan yang dilakukan oleh perawat.  Emosional negatif dapat ditunjukkan oleh stres sehingga jika ada ancaman baik itu datang disadari ataupun tidak disadari mengancam seringkali dikaitkan dengan stres kerja, respon tersebut dipelajari melalui proses adaptasi.

Pada lingkungan kerja, tuntutan pekerjaan yang tinggi dapat menyebabkan stress terlebih lagi pelayanan yang dilakukan di ruang gawat darurat dimana perawat dituntut untuk selalu tepat dalam tindakan, ramah dalam pelayanan termasuk dengan semua penyakit dan gejala yang buruk yang pastinya berhubungan dengan kehidupan pasien yang dibawa ke ruang gawat darurat. Adanya pandemi Covid-19 menjadi ke kawatiran tersendiri bagi petugas IGD rumah sakit, termasuk petugas IGD UPTD RSJD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Penyakit Coronavirus Disease 19 lebih dikenal dengan sebutan penyakit COVID-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) yang menginfeksi saluran pernafasan, yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Virus ini pertama kali di temukan di negara China tepatnya di Wuhan pada bulan Desember tahun 2019, kemudian menyebar ke berbagai negara dan oleh WHO dinyatakan sebagai pandemi dunia pada tanggal 30 Januari 2020, hal ini diambil setelah hampir dua bulan virus ini mewabah serta sudah menyebar luas ke banyak negara.

Sedangkan di Indonesia sendiri pertama kali teridentifikasi penyakit COVID-19 pada tanggal 2 Maret 2020 dan pada tanggal 10 April 2020 penyebarannya telah meluas ke 34 provinsi. Karena penyebaranya yang begitu cepat maka secara nasional melalui Keputusan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor 9A Tahun 2020 yang diperbarui melalui Keputusan nomor 13 A Tahun 2020 telah ditetapkan Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana Wabah Penyakit Akibat Virus Corona di Indonesia.

Karena penyebaran virus ini begitu cepat dan dampak yang ditimbulkan begitu luas maka penyakit ini memberikakan kecemasan banyak orang. Petugas IGD UPTD RSJD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengalami hal yang sama rasa cemas dan gelisah menyelimuti mereka. Ketakutan terpapar virus Covid-19 memberikan kecemasan tersendiri, terlebih petugas IGD menjadi petugas pertama yang memberikan pelayanan pada pasien yang menjalani perobatan. Ditambah isu negatif yang beredar ditengah masyarakat begitu menakutkan tentang virus ini. Bila hal ini tidak dilakukan penanganan segera, maka akan mempengaruhi psikis petugas IGD saat memberikan pelayanan.

Petugas yang mengalami kecemasaan saat bekerja akan memberikan pengaruh kepada mutu pelayanan yang diberikan, kesehatan mental dan fisiknya bahkan kualitas pekerjaannya. Selain ancaman keselamatan pasien, munculnya kecemasan yang berlebihan dapat mengakibatkan kejenuhan dan keinginan untuk keluar dari pekerjaan yang dirasakan oleh petugas. Jika kecemasaan tidak dikelola dengan baik, selain mengganggu kesehatan petugas akan berdampak pada mutu pelayanan di Rumah Sakit. Penurunan mutu RS terjadi akibat banyak petugas yang bekerja yang mengalami stres kerja bahkan burn out kerja. Pada akhirnya akan mempengaruhi daya saing mereka di pasar dan lebih dari itu bahkan dapat membahayakan kelangsungan organisasi rumah sakit.

Dari beberapahal yang terjadi maka perlu dilakukan pengkajian yang mendalam untuk mengetahui penyebab kecemasan kerja pada petugas di ruang gawat darurat. Manajemen pelayanan di ruang perawatan akut harus mempersiapkan cara dan metode dalam membantu petugas agar tidak mengalami stress kerja. Perbaikan komunikasi dan dukungan dari atasan, prosedur kerja yang jelas, lengkapi administrasi yang efisien akan membantu petugas dalam menurunkan kecemasan kerja yang dialami.

 

 

Sumber:

Kementerian Kesehatan RI.2020. Pedoman Teknis Pelayanan Rumah Sakit Pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru. Jakarta.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Riset Kesehatan Dasar 2018. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia

Kementerian Kesehatan RI.2020. Petunjuk Teknis Pelayanan Puskesmas pada masa Pandemi COVID-19. Jakarta.

Keputusan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 13 A.2020. Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana Wabah Penyakit Akibat Virus Corona di Indonesia. Jakarta.

Keputusan Presiden Nomor 12.2020. Penetapan Bencana Non Alam Penyebaran COVID-19 Sebagai Bencana Nasional. Jakarta.

Peraturan Pemerintah Nomor 21.2020. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Dalam Rangka Percepatan Penanganan COVID-19, Jakarta.

Keputusan Presiden Nomor 11.2020. Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat COVID-19, Jakarta.

World Health Organization. (2019, Mei). Mental health in the workplace. Diunduh tanggal 6 Juni dari https://www.who.int/mental_health/in_the_workplace/en/

World Health Organization. (2017a). Depression and other common mental disorders: Global health estimates. Geneva: World Health Organization. Licence: CC BY-NC-SA 3.0 IG

 

Penulis: 
Wieke Erina Ariestya, S. Kep, Ners
Sumber: 
Perawat Rumah Sakit Jiwa Daerah

ArtikelPer Kategori