TERAPI PERILAKU KOGNITIF(COGNITIVE BEHAVIOR THERAPY) PASIEN ANXIETAS

TERAPI PERILAKU KOGNITIF(COGNITIVE BEHAVIOR THERAPY)

PASIEN ANXIETAS

 

Anxietas/Kecemasan adalah keadaan individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivitas sistem saraf autonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas, non spesifik. Kecemasan merupakan unsur kejiwaan yang menggambarkan perasaan, keadaan emosional yang dimiliki seseorang pada saat menghadapi kenyataan atau kejadian dalam hidupnya. Kecemasan adalah perasaaan individu dan pengalaman subjektif yang tidak diamati secara langsung dan perasaan tampa objek yang spesifik dipacu oleh ketidaktahuan dan didahului oleh pengalaman yang baru. Berdasarkan defenisi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kecemasan adalah perasaan yang tidak menyenangkan, tidak enak, khawatir dan gelisah. Keadaan emosi ini tanpa objek yang spesifik, dialami secara subjektip dipacu oleh ketidaktahuan yang didahului oleh pengalaman baru, dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal

Klasifikasi tingkat kecemasan dibagi menjadi 4 :

  1. Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari yang menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsi. Tanda dan gejala antara lain: persepsi dan perhatian meningkat, waspada, mampu mengatasi situasi bermasalah, dapat mengintegrasikan pengalaman masa lalu, saat ini dan masa yang akan datang
  2. Kecemasan sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan seseorang pada hal yang nyata dan mengesampingkan yang lain, sehingga mengetahui perhatian yang sedikit, tetapi dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah. Tanda dan gejala dari kecemasan sedang yaitu persepsi agak menyempit secara selektif.

Kecemasan timbul akibat ketidakberdayaan dalam menghadapi permasalahan, pikiran-pikiran negatif secara terus menerus berkembang dalam pikiran. Caranya adalah dengan melakukan intervensi pikiran negatif dengan pikiran positif, sugesti diri dengan hal yang positif, singkirkan pikiran-pikiran yang tidak relistik. Bila tubuh dan pikiran dapat merasakan kenyamanan maka pikiran-pikiran positif yang lebih konstruktif dapat muncul. Ide-ide kreatif dapat dikembangkan dalam menyelesaikan permasalahan

  1. Kecemasan berat cenderung memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik serdak dapat berfikir tentang hal yang lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketengangan. Orang tersebut memerlukan pengarahan untuk dapat memusatkan pada area lain. Tanda dan gejala dari kecemasan berat yaitu persepsinya sangat kurang, berfokus pada hal yang detail tidak dapat berkonsentrasi lebih, sangat mudah mengalihkan perhatian, serta tidak mampu berkonsentrasi.
  2. Tingkat panik Berhubungan dengan terpengaruh ketakutan dan teror. Tanda dan gejala dari tingkat panik yaitu peningkatan aktifitas motorik, menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain dan persepsi yang menyimpang

Faktor-faktor yang mempengaruhi Kecemasan

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan seseorang meliputi beberapa aspek antara lain terdapat komponen genetik terhadap kecemasan, scan otak dapat melihat perbedaan terutama pada pasien kecemasan yang respons dengan signal berbahaya, sistem pemrosesan informasi dalam seseorang berjalan dengan singkat (hal ini dapat direspons dengan suatu ancaman sebelum yang bersangkutan menyadari ancaman tersebut), akar dari gangguan kecemasan mungkin tidak akan menjadi pemisahan mekanisme yang menyertainya namun terjadi pemisahan mekanisme yang mengendalikan respons kecemasan dan yang menyebabkan situasi diluar kontrol

Umur dispesifikasikan dlam kategori kurang dari 20 tahun (tergolong Muda) dan lebih dari 30 tahun (tergolong Tua) Soewardi, mengungkapkan bahwa umur yang lebih mudah lebih mudah menderita stress dari pada umur tua

Keadaan Fisik Menurut carpenito penyakit adalah salah satu faktor yang menyebabkan kecemasan, Seseorang yang sedang menderita penyakit akan lebih mudah mengalami kecemasan dibandingkan dengan orang yang tidak sedang menderita penyakit

Sosial Budaya menurut Soewardi, cara hidup orang dimasyarakat juga sangat memungkinkan timbulnya stress. Individu yang mempunyai cara hidup teratur akan mempunyai filsafat hidup yang jelas sehingga umumnya lebih sukar mengalami stress. Demikian juga dengan seseorang yang keyakinan agamanya rendah

Tingkat pendidikan berpengaruh dalam memberikan respon terhadap sesuatu yang datang baik dari dalam maupun dari luar. Orang yang mempunyai pendidikan tinggi akan memberi respon yang lebih rasional dibandingkan mereka yang berpendidikan lebih rendah atau mereka yang tidak berpendidikan

Pendekatan Agama akan memberikan rasa nyaman terhadap pikiran, kedekatan terhadap Tuhan dan doa-doa yang disampaikan akan memberikan harapan harapan positif, dan rasa cemas akan turun

Pendekatan Keluarga Dukungan keluarga mengurangi kecemasan, jangan ragu untuk menceritakan permasalahan yang dihadapi bersama-sama anggota keluarga. Ceritakan masalah yang dihadapi secara tenang, katakan bahwa kondisi anda saat ini sangat tidak menguntungkan dan membutuhkan dukungan anggota keluarga lainnya

Olah Raga tidak hanya baik untuk kesehatan, olahraga akan menyalurkan tumpukan stres secara positif, lakukan olahraga yang tidak memberatkan dan akan memberikan rasa nyaman

 

Terapi Perilaku kognitif

Terapi perilaku kognitif (CBT) adalah suatu bentuk psikometri yang digunakan untuk mengobati berbagai gangguan mental. Pasien selalu disebut sebagai klien, bekerja dengan para terapis untuk mempelajari cara untuk mengidentifikasi masalah dan kemudian memecahkan masalah tersebut. Terapi perilaku kognitif pada dasarnya digunakan untuk mengubah pemikiran seseorang perilaku dan emosional terhadap masalah dan ini membantu orang melihat masalah dalam perspektif yang berbeda dan positif. Meskipun CBT sangat populer dan dianggap sebagai salah satu terapi terbaik bagi banyak gangguan mental seperti gangguan obsesif konpulsif, kecemasan, fobia dan depresi

Terapi perilaku kognitif membantu seseorang mengambil masalah dapat diatasi dan pecah menjadi potongan-potongan kecil sehingga orang dapat memahami masalahnya. Dengan memecahkan masalah besar menjadi potongan-potongan yang lebih kecil memungkinkan orang untuk melihat bagaimana semua bagian yang terhubung dan bagaimana mereka mempengaruhi dia biasanya masalah dipecah menjadi potongan kecil berikut

  1. Emosi
  2. Thounghts
  3. Perasaan Fisik
  4. Tindakan
  5. Situasi

Tindakan masing-masing disebutkan diatas potongan yang lebih kecil dapat mempengaruhi yang lain. Bagaiman seseorang tinjauan suatu masalah mempengaruhi secara fisik dan emosional. Ini dapat juga mempengaruhi cara orang bereaksi terhadap masalah. Reaksi dapat membantu atau tidak membantu, tergantung pada bagaimana anda berpikir tentang masalah sebagai contoh, Anda berjalan di jalan dan seseorang yang anda kenal berjalan melewati anda tampa memandang anda adalah sebuah situasi. Sekarang anda dapat mematahkan situasi ini menjadi lebih kecil seperti yang disebutkan diatas. Thoughts anda dapat berfikir tentang kejadian ini positif atau negatif. Anda dapat berpikir bahwa orang yang mengabaikan anda karena dia tidak menyukai anda, atau anda dapat berfikir bahwa orang tampak tenggelam dalam/pikirannya dan sekarang anda bertanya-tanya apakah semuanya baik-baik saja dengan orang. Perasaan Fisik Anda merasa sedih ditolak atau anda bisa mulai khawatir tentangg orang anda mungkin mendapatkan kram perut dan merasa anda tidak memiliki energi atau anda tidak bisa mempengaruhi fisik sama sekali. Aksi/Tindakan Pulanglah, bermuram dan kemudian menghindari orang sepenuhnya. Atau anda dapat menghubungi orang tersebut untuk check adalah semuanya baik-baik saja dengan dia. Seperti yang anda lihat bagian pertama dari reaksi anda dalam setiap potongan-potongan yang lebih kecil tidak membantu sedangkan bagian kedua sangat membantu. Oleh karena itu ini berarti bahwa setiap situasi dapat mengarah pada dua hasil yang berbeda tergantung pada bagaiman anda berfikir tentang situasi. Kemudian anda pikir memiliki efek pada perasaan anda dan bagaimana anda bereaksi terhadap situasi.

Terapi ini dapat di implementasikan di RSJD Sungailiat, Khususnya di bangsal untuk mengubah pemikiran seseorang yang akan mempengaruhi perilaku orang tersebut. Kemudian terapi ini bertujuan untuk membantu pasien agar dapat mengendalikan masalah yang dialaminya. Misalnya pada pasien yang mengalami gangguan Kecemasan yang mengakibatkan perubahan pola tidur, sehingga tidur pun berkurang. Misalnya dengan terapi Relaksasi dan distraksi yang dapat dilakukan oleh pasien, sehingga kecemasan pun berkurang. Sehingga terapi kognitif perilaku tidak hanya merupakan satu jenis terapi saja, melainkan merupakan terapi yang dapat dimodifikasi sesuai dengan masalah yang ada

 

Daftar Pustaka

Captain,c, (2008), Assesing Suicide Risk, Nursing Make incredibly easy, volume 6

Lynda Juall Carpenito (2010). Handbook of Nursing Diagnosis

Http://WWW.idijakbar.com/prosiding/gangguan_Anxietas.htm

Penulis: 
Boifrida,S.Kep,Ns
Sumber: 
Humas RSJD Babel

Artikel

13/01/2022 | Roesmala Dewi,AMK
29/12/2021 | Novariani, S.Si, Apt
29/12/2021 | Novariani, S.Si, Apt
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
10/10/2018 | Emanuel Triwisnu Budi, AMK
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep

ArtikelPer Kategori