SOSIOPREUNEUR DALAM KESEHATAN JIWA

Banyak keluarga yang baru pertama kali rawat tentang bagaimana masa depan salah satu anggota keluarganya yang menjadi pasien jiwa. Ketakutan akan proses pemulihan dan stigma negative acapkali menjadi mimpi buruk. Akankah mampu pulih 100%? Bagaimana jika karena kondisi mentalnya dipecat dari pekerjaan? Dan masih banyak lagi. Keluarga yang sudah seringkali keluar masuk rawat inap di rumah sakit jiwa tampak lebih pasrah, dan ketika ditanya kegiatan di rumah, hampir 80% menjawab tidak ada kegiatan produktif di rumah. Kondisi emosi yang tidak stabil, trigger-trigger yang bisa jadi adalah orang terdekat, adalah sekelumit kondisi yang membuat Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) terganggu produktifitasnya. Akan tetapi, dari kacamata yang berbeda, bukankah tantangan-tantangan ini adalah sebuah peluang? Mungkinkah dengan tren saat ini yaitu sosiopreuneur salah satu jawabannya?
Kondisi saat ini terutama di Bangka, belum ada gerakan yang memang memfasilitasi ODGJ untuk lebih produktif dan mandiri. Sociopreneur adalah kegiatan berwirausaha berbasis bisnis, tetapi memiliki tujuan utama membuat social-impact, yaitu memperbaiki kondisi dari target program, bisa masyarakat secara luas, atau sekelompok masyarakat yang memang menjadi inspirasi dibangunnya usaha tersebut. Salah satu sosiopreunuer yang terkenal di dunia yaitu Blake Mycoskie, Founder & CEO Toms Shoes, yang terinspirasi dari desa di Argentina yang semua anak-anak di sana tidak memiliki alas kaki. Hal ini membuat Mycoskie terinspirasi untuk menjual sepatu Alpargatra, sepatu khas Argentina ke Amerika dan dari penjualan satu sepatu, akan membantu satu anak di Argentina memperoleh sepasang sepatu juga.
Tidak mudah untuk menciptakan sebuah solusi dari banyaknya masalah di ranah kesehatan jiwa. Perlu beberapa prasyarat untuk terwujudnya cita-cita pemberdayaan dan produktivitas dari ODGJ. Syarat yang pertama adalah Social Value. Social Value adalah adanya keterbutuhan dari kondisi sosial yang menjadi alasan usaha perlu dibuat. Syarat kedua adalah Civil Society. Sosiopreuneur berasal dari inisiatif dan partisipasi masyarakat (target pemberdayaan) dengan mengoptimalkan potensi yang ada pada masyarakat tersebut. Syarat berikutnya adalah Innovation. Sosiopreuneur menskrining permasalahan yang ada dan mencari solusi dengan berinovasi dengan potensi yang ada di masyarakat tersebut. Syarat terpenting berikutnya adalah Economy Activity. Sosiopreuneur yang berhasil pada umumnya dengan menyeimbangkan antara aktivitas sosial dan aktivitas bisnis. Tujuan utama dari bisnis tersebut adalah aktivitas sosial dengan tidak mengabaikan orientasi profit. Hal ini sangat menarik, karena bisnis yang biasa hanya berorientasi pada profit semata. Syarat berikutnya yang membedakan dari bisnis pada umumnya, sosiopreuneur memiliki dampak sosial (Outcome). Dampak dan pengaruh dari sosiopreuneur terhadap kemajuan perekonomian dan perbaikan pada keadaan ekonomi masyarakat.
Bagaimana dengan ODGJ? Dengan kondisi yang ada apakah sosiopreuneur ODGJ mampu dibuat? Perlu adanya analisa yang mendalam tentang kelemahan, kekuatan, dan tantangan yang akan dihadapi. Potensi besar ODGJ sudah saatnya untuk diberdayakan agar tidak dianggap sebagai beban. Tidak bisa dilakukan sendiri, perlu kerjasama antar lembaga dan institusi serta peran besar dari ODGJ, keluarga ODGJ, tenaga kesehatan dan dirangkul dan difasilitasi oleh pemerintah. Semoga ini tidak hanya sekedar wacana, tetapi mampu terwujud entah esok atau lusa. Semoga.

DAFTAR PUSTAKA
M. Yusuf Azwar anas .MENGAPA SOCIOPRENEUR BUKAN SOSIAL ENTREPRENEUR. Jurnal Dialektika, Volume 4, Nomor 2, September 2019 .Universitas Islam Raden Rahmat Malang. Diakses 22 Desember 2020 jam 21.00 di https://media.neliti.com/media/publications/292558-mengapa-sociopreneur-...
Prayogo, Caroline. Studi Deskriptif Sosial Entrepeneur pada Pemilik AGFA di Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia. AGORA Vol. 5 , No. 1, (2017). Universitas Kristen Petra.Surabaya. Diakses 22 Desember 2020 jam 21.00 di https://media.neliti.com/media/publications/54372-ID-studi-deskriptif-so...
Riyan Rahmat Yanuari; Grisna Anggadwita. IDENTIFIKASI KARAKTER SOSIAL PADA WIRAUSAHA SOSIAL (STUDI KASUS: CV. ENERGI PERSADA, PT. GREENERATION INDONESIA, AMYGDALA BAMBOO DAN CV. WAHANA PUTRA IDEAS TAHUN 2017). SOSIOHUMANITAS, VOL. XXI Edisi 2 ISSN: p1410-9263, e2654-6205 AGUSTUS 2019. Universitas Telkom. Diakses 22 Desember 2020 jam 21.00 di http://journal.unla.ac.id/index.php/sosiohumanitas/article/download/1251...

Penulis: 
Tri Nurul Hidayati
Sumber: 
Perawat Rumah Sakit Jiwa Daerah

Artikel

13/01/2022 | Roesmala Dewi,AMK
29/12/2021 | Novariani, S.Si, Apt
29/12/2021 | Novariani, S.Si, Apt
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
10/10/2018 | Emanuel Triwisnu Budi, AMK
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep

ArtikelPer Kategori