Self Care bagi Profesional Kesehatan Mental

Setiap kali menaiki pesawat secara rutin kita selalu disajikan Pramugari petunjuk keselamatan dan langkah-langkah yang perlu dilakukan pada kondisi darurat. Salah satu bagian terpenting dari petunjuk keselamatan itu adalah jika terjadi penurunan tekanan udara dalam kabin pesawat maka penumpang harus memakai masker oksigen kepada dirinya terlebih dahulu sebelum membantu anak ataupun orang tua. Hal ini merupakan petunjuk yang jelas bahwa kita harus menyelamatkan diri kita terlebih dahulu baru kita bisa membantu menyelamatkan orang lain. Analogi ini tentu dapat diterapkan dalam beragam setting baik aktivitas harian maupun pekerjaan, termasuk sangat tepat jika diaplikasikan oleh tenaga kesehatan mental seperti Psikiater, Psikolog Klinis, Perawat Jiwa, Pekerja Sosial dan lainnya yang sering mengabaikan kesejahteraan psikologis mereka namun selalu penuh semangat memberikan bantuan untuk orang lain yang memiliki masalah kejiwaan.
Menjadi seorang profesional pada bidang kesehatan mental mungkin menjadi impian banyak orang, seiring meningkatnya kebutuhan akan layanan kesehatan mental pada perkembangan dunia yang penuh stres saat ini. Hanya saja tenaga kesehatan mental belum begitu menyadari bahwa menjalankan pekerjaan ini dalam jangka panjang juga memberikan dampak pada kesehatan jiwa dan kesehatan fisik yang serius kedepannya (Dattilio, 2015). Sejalan dengan yang disampaikan Walsh (2011) ahli kesehatan mental secara tradisional meremehkan pentingnya fungsi gaya hidup dan pemicu stres yang mempengaruhi pekerjaan mereka, hampir sampai pada titik bahwa mereka sangat bertolak belakang dengan apa yang mereka sampaikan kepada klien. Ini telah berulang kali didokumentasikan dalam literatur profesional, yang menggambarkan pengabaian kronis profesional kesehatan mental untuk melakukan self-care. Secara umum ditemukan dampak gangguan kesehatan mental pada tenaga kesehatan adalah kelelahan, komunikasi yang buruk, sulit mengambil keputusan, kesalahan dalam mengambil tindakan medis, mudah marah dan kurang konsentrasi.
Meski profesional kesehatan mental rentan mengalami masalah kesehatan mental yang disebabkan kelelahan, vicarious trauma dan stressor lainnya yang dapat mengganggu efektifitas kerja dan pelayanan kepada pasien. Namun dalam beberapa literatur diperoleh data bahwa saat tenaga kesehatan mental mengalami masalah kejiwaa, mereka memiliki banyak alasan untuk tidak menjalani penangangan seperti yang diterima oleh para pasien mereka, karena kondisi berikut :
1. Kekhawatiran pada stigma yang melekat pada gangguan mental.
2. Anggapan bahwa tenaga kesehatan harusnya tidak sakit
3. Anggapan bahwa mereka bisa menyembuhkan diri sendiri.
4. Kekhawatiran akan konsekuensi profesional yang mungkin diterima.
Dengan hambatan diatas mereka berharap identitas saat melakukan pengobatan tetap terjaga kerahasiannya, sehingga pilihan melakukan pengobatan dikota yang berbeda dengan tempat mereka bekerja diharapkan dapat mendukung terjaganya kerahasian identitas mereka dalam melakukan pengobatan yang tentunya membutuhkan waktu yang banyak dan pembiayaan yang besar. Namun keterbatasan waktu dan keuangan menjadi alasan lain untuk menghindar melakukan pengobatan (Dattilio, 2015).
Secara umum dari Dattilio (2015) dapat disimpulakan beberapa upaya self-care yang dapat dilakukan oleh profesional kesehatan mental sebagai upaya mengurangi stres dan menjalani gaya hidup yang lebih sehat untuk diri sendiri diantaranya :
1. Menunjukan penerimaan diri bahwa pada kenyataannya tenaga kesehatan mental adalah manusia biasa yang tidak kebal pada stres sehari-hari.
2. Kenali tanda-tanda stres atau depresi dan penyebab stres eksternal lainnya sehingga dapat melakukan coping yang efektif.
3. Terima masukan dari orang terdekat yang dapat menilai secara objektif perubahan diri kita pada aktivitas dan nteraksi keseharian.
4. Lakukan pemeriksaan berkala dan segera lakukan upaya penanganan jika munculnya proses berfikir yang keliru dengan meminta bantuan tenaga profesional kesehatan mental lainnya.

Selain hal diatas dari berbagai referensi juga diperoleh beberapa tips bagi tenaga kesehatan dalam menjaga kesehatan mental diantaranya:
• Sadari bahwa merasa lelah lelah itu wajar, bukan berarti kamu lemah.
• Tidur yang cukup, 7-9 jam perhari.
• Makan yang cukup dan bergizi
• Lakukan aktivitas fisik minimal 30 menit sehari, tidak mesti olah raga terstruktur bisa juga jalan kaki atau naik turun tangga.
• Selalu jaga interaksi rutin dengan keluarga dan teman.
• Hindari coping mechanism yang kurang sehat, misalnya merokok, minum alcohol dan menggunakan NAPZA.
• Sadari kondisi diri sendiri dan lakukan penanganan segera jika ditemukan tanda-tanda kemungkinan adanya gangguan mental.

Referensi :
Dattilio, Frank M. (2015). The Self-Care of Psychologists and Mental Health Professionals: A Review and Practitioner Guide. Australian Psychologist, 50(6), 393–399.
Walsh, R. (2011). Lifestyle and mental health. American Psychologist, 66,579–592. doi:10.1037/20021769
Referensi populer lainnya.
ilustrasi: vector created by starline - www.freepik.com

Penulis: 
Sefrita Danur, S.Psi.,M.Psi
Sumber: 
Psikolog Rumah Sakit Jiwa Daerah

Artikel

05/05/2021 | Ns. Sari Anggun Feby Royanti, S. Kep
03/05/2021 | Enser Rovido, S. Kep, Ners
03/05/2021 | Mita Octarina, M.Psi., Psikolog
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep
10/10/2018 | Emanuel Triwisnu Budi, AMK

ArtikelPer Kategori