SABU, MEMPERCEPAT PENUAAN DINI BAGI PEMAKAINYA

Metamfetamin atau yang biasa dikenal dengan sabu, bisa dibilang adalah salah satu zat yang “paling mengerikan”, karena zat tersebut memiliki efek yang mengerikan pada tubuh orang yang menggunakannya. Meskipun sabu tidak menimbulkan jumlah kematian yang sama seperti penggunaan opiat, namun melihat wajah pecandu sabu sudah cukup untuk menunjukkan betapa buruknya zat ini.

A. Bagaimana Penggunaan Sabu Dapat Mempercepat Penuaan?

Efek negatif dari penggunaan sabu sudah dapat dilihat dari penampilan fisik si pengguna, seperti adanya perubahan kondisi kulit dan gigi. Namun, efek negatif yang terjadi di dalam tubuh jauh lebih lebih buruk lagi. Metamfetamin menyerang struktur penting sel tubuh dan mengacaukan metabolisme tubuh penggunanya, menyebabkan kerusakan parah dan dapat bersifat permanen

Ada beberapa penelitian yang menunjukkan, secara biologis, bagaimana sebenarnya sabu dapat mempercepat penuaan tubuh. Para peneliti menemukan bahwa zat kimia dalam metamfetamin, begitu masuk ke aliran darah dapat menyebabkan kelainan pada metabolisme lemak sel. Bahan kimia dalam sabu memicu reaksi berantai di mana “ceramide” terbentuk di dalam tubuh. Ceramide adalah molekul pro-inflamasi yang jika jumlahnya terlalu banyak, dapat mendorong penuaan sel dan kematian.

Singkatnya, penggunaan sabu menyebabkan tubuh bekerja lebih keras. Hal ini membuat tubuh lebih cepat dehidrasi. Dehidrasi pada kulit ditandai dengan tekstur kulit yang kering, bahkan kerutan. Disamping itu juga muncul masalah kulit lainnya seperti kulit memerah, muncul noda hitam, dan muncul jerawat.

Pecandu sabu tidak hanya terlihat lebih tua, tetapi mereka juga ‘merasa’ lebih tua. Pada pecandu sabu, meskipun mereka mungkin masih berusia muda, tapi menjadi rentan mengidap penyakit yang berhubungan dengan penuaan seperti aterosklerosis koroner dan fibrosis paru. Semakin lama seseorang menggunakan sabu, sifat toksik zat ini terus menyerang otak dan organ lainnya. Bahkan organ mulai bekerja ekstra dalam menjalankan fungsi dasarnya saja, dan hal itu mengganggu semua aspek dalam tubuh. Semakin lama seseorang menggunakan sabu, semakin besar kemungkinan mereka mengalami kerusakan permanen karenanya. Itulah mengapa sangat penting untuk membantu pecandu sabu mendapatkan perawatan sesegera mungkin.

B, Efek Jangka Panjang dari Penggunaan Sabu

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, penuaan dini bukanlah satu-satunya efek penggunaan sabu. Semakin banyak seseorang mengkonsumsi zat ini, semakin besar kemungkinan mereka menderita karena berbagai efek samping yang merugikan. Beberapa efek jangka panjang dari penggunaan sabu antara lain insomnia, gangguan mood, perilaku kekerasan, kebingungan, kecemasan, dll. Penggunaan sabu juga telah diketahui menyebabkan gejala psikotik, seperti paranoia, halusinasi, delusi, kehilangan fungsi motorik, kehilangan ingatan, penurunan berat badan, defisit dalam kemampuan untuk berpikir secara kognitif dan analitis. 

Dan yang tak kalah penting, metamfetamin dapat menimbulkan gejala putus zat. Gejala putus zat akibat penggunaan sabu, berbeda dengan zat lain seperti opiat atau alkohol. Ketika pengguna berusaha berhenti menggunakan sabu, mereka kemungkinan besar mereka akan mengalami dorongan yang kuat dan tak tertahankan untuk mengkonsumsi zat  itu lagi. Mereka juga cenderung mengalami gejala putus zat seperti depresi, kecemasan, dan kelelahan.

Jika ada orang terdekat anda yang terjerat masalah penyalahgunaan sabu bahkan hingga kecanduan, sesegera mungkin orang tersebut harus mendapat bantuan penanganan masalah kecanduannya. Rehabilitasi pada penyalahguna sabu harus meliputi aspek psikologis dan fisik dari masalah kecanduannya. Dalam proses pemulihan, penyalahguna atau pecandu akan diajarkan keterampilan hidup, mereka harus mampu mengatasi permasalahan dalam hidupnya tanpa harus lari ke narkoba. Mereka perlu mempelajari moral dan etika yang dibutuhkan untuk menjalani hidup dengan baik. Lembaga rehabilitasi harus mengajari para pecandu yang baru pulih bagaimana menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan produktif.

 

Referensi :

  • , 05 April 2021,(diakses tanggal 25 september 2022 pukul 19.00 wib)
  • (diakses tanggal 25 september 2022 pukul 19.00 wib
Penulis: 
Ns. Pamela K.Dewi, S.Kep
Sumber: 
Perawat Rumah Sakit Jiwa Daerah

ArtikelPer Kategori