RUANG PERAWATAN INTENSIF UNTUK PASIEN ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA

Pasien dengan gangguan jiwa mengalami gejala-gejala yang hampir sama yaitu mengalami halusinasi yang mengakibatkan pasien mempersepsikan mendengar, melihat dan merasakan sesuatu yang salah. Pada tahap krisis ini, pasien merasa mendengar banyak suara, melihat banyak bayangan, merasakan hal-hal yang tidak sesuai dengan kondisinya sehingga menyebabkan pasien bingung. Tidak jarang, pada tahap krisis ini pasien mencoba melakukan percobaan bunuh diri dan hal-hal yang dapat membahayakan dirinya. Untuk itu, perlu menciptakan ruangan yang sesuai dengan kondisi pasien yang mengalami kebingungan karena salah persepsi di tahap krisis ini agar dapat pulih dengan segera.

Dengan kondisi pasien dengan gangguan jiwa yang mengalami fase krisis ini memerlukan pengkondisisan ruang perawatan khusus yang membantu tahap recovery dengan tetap mempertahankan aspek keamanan. Hal ini disebut dengan pendekatan healing environment. Aspek keamanan seperti struktur bangunan dan juga aspek sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan. Suasana dan lingkungan perawatan diperlukan dalam pendekatan healing environtment. Ada tiga pendekatan yang digunakan dalam mendesain sarana kesehatan dengan pendekatan healing environment, yaitu alam, indra dan psikologis. Alam memiliki efek pemulihan seperti menurunkan tekanan darah, memberikan dampak bagi keadaan emosi yang positif, menurunkan kadar hormon stres dan meningkatkan energi positif pada pasien. Unsur alam yang ditempatkan ke dalam pengobatan pasien dapat membantu menghilangkan stres yang diderita pasien. Perlu penataan lingkungan seperti penataan taman yang memberikan efek terapeutik. Kriteria desain taman terapeutik adalah; adanya zona ruang berkumpul (sosialisasi) dan menyendiri (privasi), mendukung aktivitas pengguna, meminimalisasi gangguan dan keambiguan, menstimulasi panca indera, menciptakan komunikasi antara pengguna dan elemen desain, akses yang mudah, adanya ruang untuk pergerakan fisik, taman bersifat alami, menyediakan jarak penglihatan taman yang jelas , menyediakan ketenangan dan keakraban, dan desain yang dihasilkan jelas dan tidak abstrak. Bunga seperti Kamelia dengan warna merah muda memberikan efek mengurangi migran, pusing, stress, trauma, dan hiperaktif. Bunga  Rosemary dengan warna indigo memberikan efek mengurangi depresi,hipofungsi, dan distress. Bunga Chicweed dengan warna putih dan hijau memberikan dampak pada kondisi jantung, tekanan darah, dan kesedihan emosi.  Untuk ruang intensive care yang memang ruang gerak pasien yang dibatasi. Untuk itu perlu dilakukan modifikasi lingkungan dengan menempatkan kamar pasien untuk mendapatkan akses pemandangan lingkungan yang memberikan efek terapeutik.

Aspek indra meliputi pendengaran, penglihatan, peraba, penciuman dan perasa. Pendekatan konsep healing environment dari aspek indra dapat diukur dari kebisingan ruang, bentuk ruang, warna, skala, tekstur, sirkulasi, dan pencahayaan. Untuk kondisi pasien dengan kondisi krisis perlu ruangan dengan kondisi tenang. Untuk ruang maintenance, perlu sesekali diperdengarkan music-musik lembut untuk memberikan suasana yang nyaman. Aroma terapi dengan efek menenangkan seperti aroma lavender perlu ditambahkan agar memberikan efek tenang dan nyaman pada pasien. Pencahayaan juga perlu diperhatikan, saat beraktifitas perlu ruangan dengan cukup pencahayaan. Lebih bagus saat pencahayaan didapatkan secara alami melalui sinar matahari, sedangkan saat istirahat, perlu ruangan yang memiliki pencahayaan redup. Untuk ruang pasien dengan tahap krisis perlu ruangan dengan cahaya yang lembut dengan warna dinding yang lembut.

Sedangkan, dari sisi aspek psikologis healing environment membantu proses pemulihan pasien menjadi lebih cepat, mengurangi rasa sakit dan stress. Hal ini terkait dengan pemberian perawatan melalui petugas pemberi perawatan yang memanusiakan pasien melalui komunikasi terapeutik dan caring kepada pasien. Stigma negative pasien jiwa itu nyata dan bahkan dilakukan mungkin oleh beberapa oknum petugas. Hal ini yang dapat merusak suasana caring pada pasien sehingga aspek psikologis dalam healing environment tidak dapat terwujud.

Kondisi pasien jiwa yang mengalami “sakit pada jiwa” nya memerlukan support system, tidak hanya dalam proses pengobatan akan tetapi melalui lingkungan yang mendukung secara fisik maupun non fisik. Menciptakan lingkungan yang sesupportif mungkin tidak hanya menjadi tangung jawab petugas kesehatan di rumah sakit akan tetapi juga di keluarga dan masyarakat sebagai upaya dalam pemulihan pasien dengan agangguan jiwa agar tetap produktif. Lingkungan perawatan baik di rumah sakit maupun di keluarga sedapat mungkin memberikan efek terapeutik agar kondisi pasien dapat dipertahankan dalam kondisi yang paling optimal sehingga kejadian relaps dapat ditekan.

 

Daftar Pustaka

  1. Diny Rezki Amelia dan Zainul Anwar. 2013.RELAPS PADA PASIEN SKIZOFRENIA. JIT Vol. 01, No.01, Januari 2013. Diakses pada tanggal 4-10-2021 jam 13.00 di
  2. FARADHILA,FAJAR.2017.PENGALAMAN PERAWAT DALAM PENANGANAN PASIEN AMUK DENGAN RESTRAIN EXTREMITAS DI RUMAH SAKIT JIWA ARIF ZAINUDIN SURAKARTA.Surakarta. Diakses pada tanggal 4-10-2021 jam 13.00 di http://eprints.ums.ac.id/54067/13/Naskah%20Publikasi.pdf

 

Penulis: 
Tri Nurul Hidayati, S.Kep
Sumber: 
Perawat Rumah Sakit Jiwa Daerah

Artikel

27/11/2021 | Ns. Monalisa, AMK, S.Kep
27/11/2021 | Septia lianti, S.Kep, Ners
27/11/2021 | Tri Nurul Hidayati, S.Kep
27/11/2021 | Boifrida Butar-Butar, S.Kep,Ners
27/11/2021 | Ns.Kristianus Triaspodo, M.Kep, Sp.Kep.J
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
10/10/2018 | Emanuel Triwisnu Budi, AMK
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep

ArtikelPer Kategori