RESIKO PERILAKU KEKERASAN

Gangguan jiwa pada mulanya dianggap suatu yang gaib, sehingga penanganannya secara supranatural spiristik yaitu hal-hal yang berhubungan dengan kekuatan gaib. Gangguan jiwa merupakan suatu gangguan yang terjadi pada unsur jiwa yang manifestasinya pada kesadaran, emosi, persepsi, dan intelegensi. Salah satu gangguan jiwa tersebut adalah gangguan perilaku kekerasan.Prilaku Kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Sering juga di sebut gaduh gelisah atau amuk dimana seseorang marah berespon terhadap suatu stressor dengan gerakan motorik yang tidak terkontrol.

Pengertian marah adalah perasaan jengkel yang timbul karena adanya kecemasan seseorang yang dianggapnya sebagai ancaman yang akan datang . perilaku kekerasan adalah suatu keadaan emosi yang merupakan campuran perasaan frustasi dan benci atau marah. Perilaku kekerasan dianggap sebagai suatu akibat yang ekstrim dari marah atau ketakutan (panik). Perilaku agresif dan perilaku kekerasan itu sendiri sering dipandang sebagai suatu rentang, dimana agresif verbal di suatu sisi dan perilaku kekerasan di sisi yang lain.

 Marah adalah perasaan jengkel yang timbul sebagai suatu respon terhadap kecemasan yang dirasakansebagai ancaman individu. Pengungkapan kemarahan dengan langsung dan konstruksif pada saat terjadi dapat melegakan individu dan membantu orang lain untuk mengerti perasaan yang sebenarnya sehingga individu tidak mengalami kecemasan, stress, dan merasa bersalah dan bahkan merusak diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Dalam hal ini, peran serta keluarga sangat penting, namun perawatan merupakan ujung tombak dalam pelayanan kesehatan jiwa.

Kemarahan adalah perasaan jengkel yang timbul sebagai respons terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman (Keliat, 1996). Kemarahan yang ditekan atau pura-pura tidak marah akan mempersulit sendiri dan mengganggu hubungan interpersonal. Pengungkapan kemarahan dengan langsung dan konstruktif pada waktu terjadi akan melegakan individu dan membantu orang lain untuk mengerti perasaan yang sebenarnya. Untuk itu perawat harus pula mengetahui tentang respons kemarahan sesorang dan fungsi positif marah.

Menurut Stearen kemarahan adalah kombinasi dari segala sesuatu yang tidak enak, cemas, tegang, dendam, sakit hati, dan frustasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kemarahan yaitu frustasi, hilangnya harga diri, kebutuhan akan status dan prestise yang tidak terpenuhi.

  1. Frustasi: sesorang yang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan/keinginan yang diharapkannya menyebabkan ia menjadi frustasi. Ia merasa terancam dan cemas. Jika ia tidak mampu menghadapi rasa frustasi itu dengan cara lain tanpa mengendalikan orang lain dan keadaan sekitarnya misalnya dengan kekerasan.
  2.  Hilangnya harga diri:  pada dasarnya manusia itu mempunyai kebutuhan yang sama untuk dihargai. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi akibatnya individu tersebut mungkin akan merasa rendah diri, tidak berani bertindak, lekas tersinggung, lekas marah, dan sebagainya.
  3. Kebutuhan akan status dan prestise: Manusia pada umumnya mempunyai keinginan untuk mengaktualisasikan dirinya, ingin dihargai dan diakui statusnya

A.  Tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan Tanda dan gejala perilaku kekerasan dapat dinilai dari ungkapan dan didukung dengan hasil obsevasi (SDKI, 2017)

1. Data subjektif

  1. Ungkapan berupa ancaman
  2. Ungkapan kata-kata kasar
  3. Ungkapan ingin memukul/melukai

2. Data objektif

  1. Wajah memerah dan tegang
  2. Pandangan tajam
  3. Mengatupkan rahang dengan kuat
  4. Mengepalkan tangan
  5. Bicara kasar
  6. Bicara mengancam
  7. Suara tinggi
  8. Mondar mandir
  9. Melemparkan atau memukul benda/orang lain

B.   Berikut bentuk standar intervensi keperawatan Indonesia pada pasien yang mengalami masalah keperawatan resiko perilaku kekerasan :

1. Pencegahan Perilaku Kekerasan

Defenisi Meminimalkan kemarahan yang diekpresikan secara berlebihan dan tidak terlkendali secara verba; sampai dengan mencidrai orang lain atau merusak lingkungan

  1. Monitor adanya benda yang berpotensi membahayakan
  2. Monitor keamanan barang yang dibawa oleh pengunjung
  3. Latih cara mengungkapkan perasaan secara asertif
  4. Latih mengurangi kemarahan secara verbal dan nor verbal
  5. Monitor selama penggunaan barang yang dapat membahayakan
  6. Libatkan keluarga dalam perawatan

2. Promosi Koping

Meningkatkan upaya kognitif dan perilaku untuk menilai dan merespon stressor atau kemampuan menggunakan sumber – sumber yang ada

  1. Identifkasi kemampuan yang dimiliki
  2. Gunakan pendekatan yang tenang dan menyakinkan
  3. Anjurkan menjalin hubungan yang memiliki kepentingan dan tujun bersama
  4. Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi
  5. Latih penggunaan tehnik relaksaksi

 

DAFTAR PUSTAKA

eperawatanjiwaeksdu28.blogspot.com/2013/11/makalah-keperawatan-jiwa-resiko.html

ppni.(2018)standar intervensi keperawatan Indonesia.dewan pengurus pusat ppni

Penulis: 
Ns.Melfa Gultom,AMK.S.Kep.
Sumber: 
Perawat Rumah Sakit Jiwa Daerah

Artikel

27/11/2021 | Ns. Monalisa, AMK, S.Kep
27/11/2021 | Septia lianti, S.Kep, Ners
27/11/2021 | Tri Nurul Hidayati, S.Kep
27/11/2021 | Boifrida Butar-Butar, S.Kep,Ners
27/11/2021 | Ns.Kristianus Triaspodo, M.Kep, Sp.Kep.J
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
10/10/2018 | Emanuel Triwisnu Budi, AMK
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep

ArtikelPer Kategori